Seraphim tersenyum dan menusukkan pedangnya lebih dalam ke sela-sela rusuk Belial, sekaligus mematahkan beberapa rusuk di sana.
Jeritan dari Yofiel terdengar sayup di telinganya. Kesadaran Belial melayang entah kemana, nyeri memenuhi seluruh sistem sarafnya.
"Begini caranya mengaktifkan sebuah serangan," bisik Seraphim, kemudian memiringkan pedangnya 90 derajat.
CRAT! SRAK!
"UGH!" erang Belial, rasa perih seketika berubah menjadi penyiksaan yang rasanya tiada akhir. Pedang tersebut sudah dilepaskan oleh Seraphim, membuatnya jatuh tersungkur di atas arena.
"Racun... Serangan Seraphim memberinya racun," gumam Jophiel, ia bergetar.
"Kau kalah telak. Duel ini dimenangkan oleh aku. Sesuai dengan peraturan yang telah berlaku di awal, maka ini waktunya untuk—."
Selebrasi Seraphim terpotong oleh Jophiel dan Ramiel yang berlari cepat ke atas ring, menghampiri pria yang terkulai lemas di atas sana.
"Belle, Belle. Bisa dengar aku?" panggil Jophiel, ia menepuk-nepuk pipi Belial. Ia mengangguk pelan dan membuka matanya, berkonsentrasi. Kulit dan pembuluh darahnya secara perlahan membiru, ini adalah racun yang digunakan untuk melumpuhkan Andreas setahun lalu saat karya wisata.
"Sudah kukatakan penonton dilarang naik ke atas arena. Melanggar aturan dan hukuman mati menunggu kalian," ujar Seraphim datar, jelas-jelas tidak suka atas tindakan tersebut.
"Tidak ada peraturan yang menyebutkan bahwa penonton dilarang naik ke atas setelah duel selesai. Kau baru saja mendeklarasikan kemenangan duel milikmu dan itu menandakan bahwa pertarungan telah berakhir. Tidak ada yang melanggar aturan di sini," balas Jophiel cepat, amarah terbesit dalam suaranya.
"Yofi, aku gakpapa. Tenang," ucap Belial pelan, sesekali terbatuk dan mengeluarkan darah yang menutup saluran pernapasaannya. Racun itu mulai menyebar, kini mereka dikunci oleh waktu. Tidak ada penyembuh di sini, Ramiel adalah malaikat jatuh, sementara Jophiel sudah kehilangan kekuatannya. Seraphim harus habis sebelum Belial mati akibat racun tersebut.
"Tiga menit," sahut Ramiel tiba-tiba, menafsirkan perhitungannya. "Kita punya waktu tiga menit sebelum Belial habis oleh racun ini."
"Menyerahlah. Kalian sudah kalah," perintah Seraphim, memandang mereka berdua yang membantu Belial untuk ikut berdiri.
"Belum. Selama kami bertiga masih berdiri hidup di sini, kemenangan dan kekalahan belum bisa dideklarasikan," bantah Ramiel, membuat Seraphim tertawa karena ucapan tersebut membuatnya teringat dengan Luciel.
"Keras kepala, eh?" gurau Seraphim, kemudian mulai mengukir sesuatu di atas arena. Tebakan Belial soal ultimatum rupanya benar.
"Gladiator of Sacrifice."
Suara cahaya berwujud rantai terdengar mengunci tangan dan kaki dua orang yang berada di sana, menahan mereka di atas tanah selagi dua pedang besar tercipta di langit.
"SERAPHIM!" bentak Ramiel keras, mendapatkan stres yang serupa ketika ia berada dalam situasi ini beberapa menit yang lalu. Melihat ayahnya harus membuat keputusan untuk menyelamatkan salah satu dari orang yang ia sayangi. Bahkan Ramiel melihat pedang raksasa itu jatuh menembus papanya... Malaikat kecil itu tidak mau berada dalam situasi itu lagi.
"Ami, kamu adalah keponakanku. Aku menyayangimu, sungguh. Maka dari itu, aku tidak mau kamu merasakan hal yang serupa lagi dengan sebelumnya," balas Seraphim dengan nada yang halus, membuat Ramiel tersadar.
Tangan dan kakinya tidak terkunci.
Belial mengira Ramiel dan Jophiel akan ditahan sementara ia dipaksa untuk memilih, namun keadaannya terbalik. Di sini lah dia, terkunci di atas tanah dengan rantai-rantai cahaya, Jophiel dalam posisi serupa di sebrangnya. Ramiel masih berdiri di tengah, Belial membuka mulutnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasy[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...