"Maaf merepotkanmu, Gusion," ujar Belial, sembari duduk di sofa yang membelakangi jendela, sinar bulan menerpa ruangan tersebut. Pria yang dipanggil tampak menaikkan satu alis, masih fokus membaca sesuatu di bukunya sebelum melirik Belial.
Gusion... dengan rambut pirang emasnya yang sekarang dikuncir kecil ke belakang, lengkap dengan kacamata berbingkai hitam. Pakaian berupa piyama mengisyaratkan bahwa ia awalnya hendak pergi tidur. Menurut Belial, dibanding obrolan mereka sore tadi, kini Gusion tampak jauh lebih serius.
"Kok? Santai, bro. Tubuhku udah berasa lebih baik, asli deh. Lagian tidur dari pagi bikin gak bisa tidur sekarang," balas Gusion, mengedipkan satu matanya. Mata Belial berkedut melihat senyuman flirty Gusion. Pantes sepupuan, sifatnya sama kayak Dantalion!
Ruangan luas tersebut hanya diisi oleh Gusion dan Belial, diterangi beberapa lampu tidur kecil serta cahaya bulan dari luar jendela, dengan selimut yang acak-acakan di atas kasur. Meja kerja Gusion penuh dengan tumpukan buku, beberapa lemari pun terbuka menampilkan koleksi bacaannya.
"Hmm, jangan samain aku dengan Dantalion. Najis, najis banget. Aku gak tertarik dengan siapapun atau apapun, mau cewek, mau cowok. Aku hanya tertarik dengan uang, ah! Aku mau nikah dengan kartu kreditku!"
"...Terserah. Bukannya kau punya tunangan?" tanya Belial, mengusap lengannya sendiri karena suhu Antenora yang cukup dingin di malam hari. Gusion masih membolak-balik halaman bukunya, tapi sebuah ckckck keluar dari bibir sang Pangeran.
"Gak aku anggep, ah. Duh gimana ya, iya dan enggak. Sebenarnya pihak keluargaku dan keluarganya sudah bertemu berkali-kali, dan pesta peresmian sudah direncanakan juga. Tapi karena aku tidak mau, aku selalu coba untuk undurin. Kemarin contohnya, seharusnya itu jadi pesta pengumuman ke seluruh Jinnestan kalau pertunangan kami sudah resmi, tapi aku ubah jadi perjamuan keluarga besar biasa," jelas Gusion kebingungan. Tapi secara singkat, Belial dapat mengerti maksud anak itu.
"Upayamu boleh juga, tapi jika ditarik ulur terlalu lama, reputasi ayahmu juga akan ikut jelek, belum lagi mengundang amarah keluarga pihak perempuan. Menurutku, anggap saja dia jadi teman. Toh nanti akan dekat juga, kan?" komentar Belial menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. Gusion melirik Belial sekali lagi, kali ini menurunkan bukunya. Jujur saja dengan penampilan begini, Gusion sebenarnya adalah kutu buku.
"Oooh, boleh juga kau ngasih saran. Ternyata lumayan asik ya ngomongin begini sama iblis yang seumuran atau lebih tua. Anak-anak curut itu gak bisa diajak ngobrol beginian karena gangerti. Tapi Bel, aku denger-denger, kamu punya cewek?" tanya Gusion, mendapatkan ekspresi penuh pertanyaan dari Belial, namun anak berambut merah itu hanya mengangguk.
"Iya, dia cantik, banget," jawab Belial, tatapannya menjadi hangat untuk beberapa detik. Gusion hanya terkekeh. Dia baru kenal Belial untuk satu hari, tapi ternyata si pangeran tukang marah itu jauh lebih mudah didekati dibanding perkiraannya yang senggol bacok.
"Ngomong-ngomong soal cantik, aku udah nemu apa yang kamu cari," ucap Gusion, berjalan menghampiri Belial. Laki-laki satunya memiringkan kepala, tampak tidak sabar untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Tujuh malaikat agung utama. Berbeda dari kita tujuh dosa besar yang masing-masing memiliki satu titel, tidak dengan mereka. Satu kebajikan besar bisa memegang dua titel atau lebih. Aku tidak akan menjelaskan dua kali karena ini informasi yang terlarang bagi kita para iblis yang masih muda. Aku juga belajar ini diam-diam, jadi perhatikan baik-baik," lanjut Gusion, duduk di hadapan Belial.
"Aku mendengarkan, silahkan," jawab Belial mengangguk, punggungnya di sandarkan ke bantalan sofa.
Para kebajikan besar... Meski aku baru bertemu dengan Gabriel, tidak ada salahnya menggali informasi mengenai mereka semua. Siapa sebenarnya mereka, dan apa yang mereka rencanakan?

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasía[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...