"Maaf, Yang Mulia," ucap Zagan, kembali menundukkan kepalanya. Ia sadar bahwa mata seluruh raja tertuju pada sosok di hadapannya, terkejut.
"Satan, anakmu—," ucap seorang raja yang tadi memamerkan kukunya.
"Diam, Asmodeus," potong raja yang dipanggil tersebut. Dia mengambil napas dan memejamkan mata, mengontrol emosinya. Ia membuka matanya kembali, kemudian berbicara. "Rapat hari ini resmi ditutup karena adanya upaya spionase dari pihak musuh. Tutup semua jalur menuju dunia iblis. Dan kau, Zagan, ikut saya," tegas raja itu sembari berjalan pergi keluar gedung, jubahnya berkibar diterpa angin.
***
"AAAA!!!"
"Aaaaaa! Ada orang jatuh!"
"Astaga, kenapa mereka bisa terjatuh?! Apa mereka masih hidup?! Panggil petugas keamanan dan ambulans!"
Jeritan kerumunan orang yang mengelilingi mereka memenuhi telinga.
"Ugh," gerutu salah satu dari mereka, merasa sesak karena tertimpa laki-laki lainnya, berusaha membebaskan diri.
"Asta, angkat kakimu bodoh, berat!" bisik Belial dengan kesal. Berapa berat Astaroth? 80-an kilogram mungkin.
"Kamu yang diam, goblok! Pura-pura pingsan, perlambat regenerasimu! Orang-orang justru akan lebih shock kalau lihat dua anak yang jatuh dari ketinggian ratusan meter masih hidup!"
Belial menghela napas, melihat darahnya dan temannya mengalir ke tanah. Namun, sebenarnya luka dan patah tulang yang ia dapatkan sudah sembuh dan ia tidak merasakan sakit apa-apa. Mereka hanya bisa terdiam hingga ambulans datang.
"Ah, lama banget, sih..." gerutu Astaroth pelan sambil pura-pura mati.
"Ah aku ada ide. Belial, kamu bisa acting kan? Coba buka matamu dan pura-pura sekarat jadi mereka semakin cepat datang," bisik Astaroth.
"Haaaah?"
"Udah cepet coba lakuin aja! Mumpung kakiku masih patah, nih! Sakit, anak anj." Astaroth memelototinya kemudian kembali pura-pura mati.
Belial dengan ketus menurutinya. Ia membuka matanya dengan sayu dan pelan, sambil mengulurkan lengannya yang dilumuri darah keluar seperti berusaha meraih sesuatu. "To...tolong..." ucapnya serak.
"Lihat! Anak yang itu masih hidup! Tampaknya ia harus mendapat penanganan segera! Yang satunya mungkin sudah..." seru seseorang.
"Aku masih hidup lho, manusia sialan," gerutu Astaroth pelan. Belial memertahankan ekspresi kesakitannya.
"Ah, mengerikan sekali, lihat, Belle!" Belial tersontak mendengar suara itu.
"Jangan dilihat, Olivia, mata seorang gadis manis sepertimu tidak berhak melihat yang seperti ini," balas laki-laki di sebelahnya. Laki-laki itu mengenakan hoodie dan kacamata hitam, tangannya menutup mata gadis di sebelahnya.
"Astaga Asta... Lihat yang di sana, pantas saja banyak kerumunan di sini..."
Sama halnya, Astaroth membuka matanya kaget mendengar suara itu.
"Gilaaaa, serem banget, kenapa mereka bisa jatuh dari atas sana, memangnya ada apa di atas? Ayo kita pergi saja, Andreas," balas laki-laki berambut hitam di sebelahnya.
"...Belial," panggil Astaroth pelan, dengan syok.
"Ya, Astaroth. Aku juga dengar," jawab Belial, ekspresinya antara marah dan kaget menjadi satu. Orang itu, berani-beraninya melakukan kontak fisik dengan Olivia... Peniru.
Mereka, makhluk yang menyerupai Belial, Astaroth, dan Andreas, hanya datang sebentar lalu langsung kembali. Seolah-olah mengejek mereka yang asli, sedang terbaring di atas tanah bersimbah darah. Seperti ingin menunjukkan eksistensi mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasi[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...