A/N: Halo! Setelah 3 minggu, INFERNO akhirnya kembali dari semi-hiatus. Mohon maaf sebelumnya dan terimakasih atas dukungannya! Selamat membaca!
SRAAAK
Suara dedaunan yang berserakan di atas tanah terdengar begitu empat pasang kaki menginjak mereka, tiga pria dan satu wanita. Tempat itu cukup sepi, sebuah hutan yang sedang digundulkan. Beberapa truk kosong terlihat terparkir di pinggir, menandakan para pekerja sedang beristirahat untuk makan siang.
"Jadi, bisa kita buka portal di sini?" Tanya Solomon, ia mulai merasa lelah. Raphael mengangguk.
"Seharusnya bisa," jawab malaikat itu, memeriksa keadaan sekitar. Uriel memejamkan matanya dan menarik napas.
"Kalalu begitu, tunggu apalagi. Ayo kita mulai—."
SRAAAK
Kalimat Solomon terpotong begitu mendengar suara gemerisik daun dari arah lain. Keempatnya menoleh ke sumber suara.
"Siapa di sana?" tanya sebuah suara asing yang semakin lama semakin dekat. Olivia dan Solomon tampak waspada, sementara Raphael dan Uriel tampak sangat santai.
"Bos, sepertinya ada orang asing yang masuk!" seru salah seorang dari mereka.
"Benar, benar. Padahal di kawasan depan sudah ditulis dilarang masuk karena sedang ada penebangan hutan."
"Lima orang," bisik Uriel, kemudian membentuk sebuah kursi taman berwarna keemasan, lalu duduk dengan anggun.
"Uriri, kenapa malah duduk?" tanya Raphael bingung.
"Kaki pegal. Kalian terlalu lama," jawab Uriel sinis, mendapatkan tatapan tidak percaya dari tiga lainnya.
"Aduh, kalau buka portal sekarang pasti akan kelihatan sama mereka. Kita harus ngobrol, mau tidak mau. Semoga tidak diusir..." gumam Olivia, meletakkan satu jari di dagu.
"Hutan ini wilayah yang terbatas, bagi yang berkepentingan dilarang masuk!" seru bos itu lagi, kini terdengar kesal. Suara kaki mereka mulai terdengar buru-buru untuk mencari keempat penyusup itu.
"Kami di sini," balas Raphael, mengangkat tangannya. Manusia... sepertinya tidak akan rumit. Lekas saja, mereka langsung bertemu dengan sumber suara.
Lima orang dengan set seragam berwarna biru, debu dan keringat terlihat pada wajah lima pria dewasa di sana. Salah satu yang bertubuh gempal (Raphael berasumsi itu bosnya) menghampiri mereka dengan wajah ketus.
"Hei, ini area terbatas. Sipil dilarang masuk!"
"Maaf sebelumnya, Pak. Kami sadar sepenuhnya bahwa kami bersalah karena masuk ke lahan ini, namun sungguh, kami hanya pengelana yang tersesat-," ucapan Raphael yang ramah itu terpotong.
"Telan omong kosongmu dan keluar dari sini atau saya akan hubungi polisi untuk menangkap kalian," balas manusia itu, tatapannya membuat Solomon (yang sedang bersembunyi di belakang Raphael, ngintip dikit lah) tidak nyaman.
Mendengar ocehan itu, Uriel membuka matanya sedikit, hanya untuk melirik situasi. Kakaknya masih berusaha untuk membujuk bapak-bapak tua di sana. Wajah Raphael yang agak bloon membuat mereka percaya bahwa 'manusia' yang sedang bicara dengan mereka hanyalah anak muda tolol.
"Kami akan keluar sebentar lagi, Pak. Beri kami waktu," ujar Raphael, masih berusaha mempertahankan senyumnya.
"Sebentar lagi, katamu. Berarti kalian memang memiliki tujuan untuk datang ke sini."
Waduh, batin Raphael, menepuk dahinya sendiri.
"Kami akan pergi, sungguh. Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami," bujuk Raphy, memberikan sinyal pada tiga orang di belakangnya: kayaknya kita harus cari tempat lain, gak bisa di sini.

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasy[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...