Chapter 77: Hati Nurani Seorang Manusia Fana

65 9 0
                                    

A/N: Chapter ini membahas masa lalu Belial yang selama ini tersembunyi dan asal mula konflik terjadi. Direkomendasikan untuk membaca sampai akhir. Selamat membaca!^^

Semuanya salah malaikat itu. Malaikat di atas sana... entah siapa. Karena malaikat itu, aku kehilangan segalanya. Harta, akal sehat, bahkan wanitaku. Sekarang aku hanya bisa terpojok di ruangan tempat kekasihku pergi.

"Bangsat kalian semua! MATI SAJA KALIAN!" Teriakanku terdengar begitu putus asa di hadapan para prajurit berseragam merah dan hitam, mereka mengangkat senjata tanpa rasa kasihan sedikit pun.

"Yang Mulia Satan memerintahkan kami untuk menangkap anda. Tuan Barbatos, anda dijatuhkan hukuman berupa kurungan seumur hidup di Judecca karena terlibat pembunuhan Pangeran Belial."

...Apa?

Iblis-iblis konyol. Pembunuhan pangeran? Bayi yang baru lahir beberapa bulan lalu itu? Sialan. Aku kehilangan Olivia karena ia menyelamatkan bayi itu!

"Kalian tidak tahu apa-apa," geramku penuh amarah, suaraku bergetar. Hatiku rasanya sangat sakit. Olivia telah mengobrankan nyawanya untuk menyelamatkan Belial, kini ia dituduh atas pembunuhan?

"Mohon menurut dan silahkan ikut dengan kami, Tuan."

Suara rantai dan borgol terdengar begitu memuakkan di telingaku. Sedikit aku tahu, mulai saat itu, suara rantai adalah suara yang akan kudengar setiap hari.

"Keparat kalian semua! OLIVIA ADALAH PENGABDI WRATH YANG SEJATI! Tidak mungkin ia berkhianat! Sialan, lepaskan!"

"Nona Olivia telah ditetapkan sebagai pembunuh Pangeran Belial. Fakta bahwa ia pernah menjadi penyihir yang mengabdi pada Yang Mulia Satan tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan berkhianat. Tuan Barbatos, mohon koordinasinya."

Gila. Iblis sinting. Tidak tahu terimakasih... Kejam sekali.

Bodoh memang, diriku. Alih-alih melawan, aku hanya bisa jatuh berlutut. Mataku menatap lantai kayu dengan hampa, sebuah ruangan yang awalnya rapi kini menjadi kapal pecah. Ramuan dan debu sihir yang bertebaran di atas lantai, api yang menyulut di kanan dan kiri.

Peperangan pecah begitu seorang malaikat agung bernama Luciel jatuh ke Jinnestan.

Para raja dan ratu pasti sibuk bertarung dengan malaikat tersebut beberapa waktu yang lalu, kemudian Satan dan Leraye mendapati anak mereka hilang dari tempat persembunyian.

"Tidak adil..." gumamku kecil. Air mata yang hangat terasa membasahi pipiku, mengingat serentetan kejadian sebelumnya.

"Olivia, sayang?" panggilku heran. Di wajah wanita itu terbesit kepanikan, ia sedang tergesa-gesa. Jubah merahnya sekarang kotor, terdapat sobekan di sana-sini. Di dekapannya, seorang bayi...

Aku melotot tidak percaya.

"Sedang apa kamu dengan pangeran?!" tanyaku, berjalan menghampirinya yang kini berlari kecil ke ruangan kerjaku.

"Maaf, Barbatos. Aku sedang..." balasnya bingung, suaranya terengah-engah. Matanya menunjukkan ia bingung harus apa.

"Pelan-pelan. Sebentar, aku ambilkan minum. Manusia sepertimu jangan terlalu kelelahan," potongku, bergegas untuk mengambil segelas air. Olivia berusaha menenangkan dirinya dan minum, kemudian melihat ke arah bayi yang tertidur di pelukannya.

"Apa yang terjadi?" tanyaku, ketika melihat ia sudah lebih stabil.

"Perang, Barbatos. Perang yang sangat besar. Hampir seluruh Pandemonium hancur. Seorang malaikat terjatuh dan mulai menyerang. Malaikat itu sangat kuat, raja dan ratu kewalahan melawannya. Entah mengapa—," ceritanya buru-buru, napasnya kembali terengah.

INFERNO: The Lost PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang