Chapter 62: Pangeran Terakhir; The Unknown Prince

100 13 0
                                    

Morax mengambil napas dalam. Ia harus berhasil melakukan ini dalam sekali percobaan, jika tidak maka mereka akan gagal. Waktu semakin singkat karena api yang menjalar. Berdasar rencananya, ia akan butuh bantuan Astaroth untuk mengendalikan air ke arah selatan agar para siren yang berkumpul di bawah kapal bisa berpindah. Morax menolehkan kepalanya pada Astaroth, memberikan sinyal.

"Semuanya, pegangan. Kita akan terombang-ambing oleh ombak besar."

Seketika, semua iblis di sana merasakan lonjakan air di bawah mereka, sangat tinggi hingga rasanya kapal itu bisa terbalik kapan saja.

BYUR!

Belial dapat mendengar suara benturan kapal dengan ombak, membuat air masuk ke dalam dan membasahi mereka semua. Bagus, kini tidak ada lagi siren yang di bawah kapal. Tahap berikutnya sepertinya sulit dan membutuhkan kepercayaan.

Morax akan berlari di atas laut dan Astaroth akan membekukan air yang berkontak dengan kaki Morax, mencegah laut untuk beku. Asta mengangkat lengannya sejajar dada, dengan fokus akan melakukan tugasnya.

Anak berambut putih ikal tersebut dengan yakin melompat keluar kapal. Begitu kakinya menyentuh laut, permukaan air di sana membeku. Ketika ia mulai berlari, posisi lamanya sudah mencair, es berpindah ke posisinya sekarang.

Semua iblis di sana menahan napas mereka, bergantung pada Morax yang berlari beberapa meter. Sesuai dugaan, perhatian siren-siren itu sekarang tertuju pangeran yang sedang berlari.

"Oke, posisi ini sudah cukup. Sekarang aku hanya harus menggunakan angin untuk mengumpulkan mereka semua dan kembali ke atas kapal," batin Morax dalam hati. Kemudian ia mengambil posisi dengan kaki kanan menekuk di depan sementara kaki kiri lurus, bersiap-siap untuk membuka lengan kirinya dengan lebar.

Mulut Morax tampak berkomat-kamit tanpa suara, namun setelah itu, tubuhnya yang awalnya agak condong maju sekarang tegak, kakinya dirapatkan. Lengan kiri yang awalnya di depan dada sekarang terbentang lebar ke sisi tubuhnya.

Sebuah angin kencang berhembus, sangat kencang hingga mereka bisa melihat air yang ikut terbawa. Seketika, terbentuk pusaran angin di udara, menarik semua siren yang ada di sana.

"Berhasil! Sekarang giliran Malphas!" ujar anak itu senang, mengarahkan pusaran angin tersebut ke arah kapal dan mulai melayang (Morax bisa terbang tanpa sayap, berkat kekuatan udaranya).

Di sisi mereka yang berada di kapal, Malphas sudah berdiri paling depan, menunggu agar jarak siren-siren itu cukup dekat baginya. Bagi Malphas ini hanya hal kecil, meski sepertinya pusaran angin berisi 47 siren itu cukup menyeramkan...

Kini Malphas merasakan angin meniup rambutnya dengan kencang. Sudah waktunya.

"Wahai makhluk hidup yang tidak memiliki arti. Aku, Putra Mammon, Medusa dari Jinnestan. Matilah, jantung yang mengalirkan darah kotor."

Malphas membisikkan kalimat itu sembari menatap tajam makhluk-makhluk yang ada di depannya. Matanya dari yang lesu menjadi terbuka lebar, memastikan tidak ada siren yang terlewat.

Belial belum pernah melihat kekuatan tiga pangeran greed sebelumnya, jadi ia agak terkejut. Sejauh ini yang ia ketahui adalah kemampuan mereka menguasai logam? Tapi tidak disangka sampai seperti ini.

Seluruh siren di sana langsung membeku, berubah menjadi logam yang kini sedang terjatuh ke arah mereka. Gusion lalu mangangkat lengannya dengan tinggi, memastikan 47 siren yang menyatu itu akan menyentuh tangannya.

Wajah Gusion tampak cuek sebenarnya, seolah-olah ia sudah sering melakukan hal ini. Ketika ujung jari telunjuknya berkontak dengan logam tersebut...

Lenyap. Mereka lenyap, jadi abu emas yang berterbangan di udara.

INFERNO: The Lost PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang