KRAK!
Belial dan Astaroth melirik ke belakang setelah mereka melalui Seraphim, serangan mereka dihindari dengan begitu mudahnya. Bunyi patahan tadi berasal dari kristal es milik Astaroth yang patah setelah ditangkis Seraphim.
Mereka berdua tidak banyak bicara, sesekali menatap satu sama lain seolah-olah memberikan kode. Dalam waktu yang bersamaan, kini Belial dan Astaroth menahan laju mereka dengan satu kaki, berbalik arah kembali ke Seraphim dengan sangat gesit. Belial melompat ke sisi kanan Seraphim, tangan kanannya ia angkat ke kiri kepalanya.
"Crucifixion Flame," gumam Belial, sorot matanya menatap Seraphim tanpa ekspresi. Api mulai muncul pada jemarinya, siap untuk dilemparkan dalam bentuk bola.
Astaroth, di sisi lain, berlari ke kiri Seraphim dengan rendah hingga sulit untuk disadari. Ia membentuk sebuah kristal es lain dari tangannya, mengarahkan es tersebut pada Seraphim.
"Icy Sphere."
SET!
Seraphim mengarahkan bahu kirinya ke belakang, berhasil menghindari dua benda yang dilancarkan padanya.
KLANG!
Suara antara api dan es yang beradu itu terdengar, sedikit memberikan sensasi nostalgik karena mengingatkan mereka berdua pada kejadian setahun yang lalu. Belial yang baru menyadari bahwa dirinya adalah iblis, kemudian Astaroth berusaha mengajarinya cara mengeluarkan elemen. Bola api dan kristal es adalah senjata yang mereka gunakan saat pertama kali bertarung bersama setelah diculik ke dimensi lain, dan kini kembali mereka gunakan dengan status yang jauh lebih tinggi.
"Apa sudah cukup pemanasannya?" tanya Astaroth pelan, mendapat anggukan Belial.
"Ya. Kita mulai pertarungan secara resmi sekarang," jawab Belial, menarik sebuah pedang dari udara di sisi kirinya. Jemari kanan pangeran itu menyapu bilah pedangnya dari ujung ke ujung.
"Crucifixion Flame."
Dengan segera, bilah tersebut kini terhias dengan kobaran api menyala. Astaroth hanya mengeluarkan sebuah "heh" kecil melihat teman semasa SMA-nya berubah jauh, kemudian menarik sebuah trident.
"Icy Sphere."
Sama seperti pedang milik Belial, kini trisula milik Astaroth dilapisi oleh es yang dingin. Keduanya dalam posisi siap untuk bertarung. Seraphim terbang mundur beberapa langkah, mengamati Belial dan Astaroth yang terlihat tenang.
Mereka berdua bertukar pandang sekali lagi, mengangguk, dan bergerak maju.
"Bodoh," gumam Seraphim, melihat keduanya berusaha menyerang dia secara terang-terangan. Malaikat itu mengangkat tangannya, melepaskan beberapa serangan cahaya. Suara serangan Seraphim dapat terdengar jelas, cahayanya dengan cepat bergerak ke arah dua pangeran yang sedang berlari.
"Belvie," panggil Astaroth, membuat Belial meliriknya. "Kau terus lari ke depan, aku urus cahayanya."
Belial mengangguk dan mempercepat laju, sementara Astaroth memegang trisulanya dengan mantap. Pupilnya mengecil setiap kali cahaya itu terlihat semakin dekat...
ZAP!
Suara trisula yang beradu dengan cahaya terdengar, Astaroth memukul beberapa cahaya itu ke atas langit. Tangannya agak terkejut dengan gaya berat yang dimiliki cahaya itu, tidak menyangka bahwa mereka memiliki bobot. Ketika Astaroth menoleh, ia bisa melihat Belial mengangkat pedangnya pada Seraphim.
"Aku juga mau," gumam Astaroth iri, kemudian memosisikan trisulanya dengan sempurna. Bersamaan dengan ayunan pedang Belial, Astaroth melempar trisulanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantastik[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...