[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER]
"...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!"
Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka.
Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...
(Arc 1: Jejak Mematikan di Balik Kebenaran Tersembunyi)
"AH!!!" teriak seorang laki-laki muda di tempat tidurnya. Kali ini, ia tidak sengaja menumpahkan gelas berisi air ke wajahnya. Memang ada saja yang terjadi ketika bangun tidur.
"Ugh," keluhnya dengan geram.
"BELLE! Apalagi yang kamu perbuat? Sudah jam berapa ini?!" Suara perempuan itu menggelegar dengan keras, sampai rasanya bulu kuduk laki-laki yang dipanggil Belle itu merinding. Ia menoleh ke jam dinding, 30 menit lagi seharusnya ia sudah di sekolah.
"Aduh—Iya ma, aku mandi dulu!"
Belle mandi secepat kilat, mengenakan seragam sekolahnya. Ia menyisir rambutnya dan menatap ke cermin. Terakhir, yang paling penting. Ia mengambil kontak lensanya, hendak memasang benda tersebut ke matanya. Entah sudah berapa lama ia menggunakan softlens, tapi inilah satu-satunya cara. Tentu, dia tidak mau jadi bahan omongan lagi hanya karena warna mata aslinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Daaaan.... Yup sudah," ujarnya, sembari mengecek kembali di cermin. Menurutnya, warna coklat sangat cocok untuk matanya.
"Ahaaa tampan." Belle kembali tersenyum di depan cermin. Kepribadiannya memang agak... narsistik. Yah, tidak bisa disalahkan juga. Dia memang cowok yang terkenal di sekolahnya. Ramah, pintar, periang, punya wajah yang oke juga. Tapi sayangnya, dia agak ceroboh.
Tok tok tok
Seorang wanita cantik, mungkin berusia 40 tahunan, membuka pintu kamar Belle. Nyonya Vierheller tersenyum.
"Sudah selesai, pangeran manja? Mau sarapan dulu tidak?" tanya wanita tersebut. Anak laki-laki yang berada di depannya memanyunkan bibir.
"Jangan panggil aku itu, ma. Aku kan ga manja? Ohiya mama gak perlu buat sarapan, nanti aku terlambat," jawab Belle, mengenakan tasnya.
"Loh memang benar kan? Ckck. Kelakuan kamu udah kaya pangeran aja, mama sama ayah jadi yang bantu-bantu, gitu?!" ujar mamanya dengan ketus, namun sedikit bercanda.
"Ahahaha nggak dong~ Dadah mamaa!" Belle tertawa sambal lari turun tangga, (hampir) terjatuh.
Dari sana ia bisa melihat ayahnya sedang membaca koran, menyeruput kopinya di ruang keluarga.
"BELLE! Jangan lari dalam rumah, memangnya kamu anak kecil?!" teriak mamanya dari atas, namun tidak digubris oleh putranya.
"Pagi ayah! Aku berangkat sekolah dulu!" seru Belle. Sosok yang ia panggil 'Ayah' menoleh tersenyum, "Pagi nak, hati-hati ke sekolah!"
Dengan begitu, anak laki-laki tersebut membuka pintu dan keluar rumah. Melihat jam tangannya, dia kembali berlari mengingat bel akan berbunyi dan gerbang akan ditutup jika dia telat sediiiiikit saja. Belle berpikir, kalau menunggu bus sekolah pasti lama lagi. Jadi mau tak mau ia harus berlari. Beruntungnya, sekolahnya tidak pernah jauh dari rumah. Selang beberapa menit kemudian, dia berada di depan gerbang yang masih terbuka.