"Yaudah deh, Sayang. Nggak papa, aku pergi sendiri aja besok ke tempat Jennie, lagi pula rumahnya juga nggak begitu jauh sih dari tempat Bunda, palingan cuma memakan jarak 200 meter aja, itu pun ada belokan sedikit. Jadi nggak papa aku pergi sendiri aja besok ke tempat Jennie. Kamu tunggu di rumah aja ya, temenin ayah main catur. Katanya setiap harinya ayah itu selalu sendirian saat main catur, teman-temannya nggak ada yang mau main lagi sama ayah sesaat setelah masalahku itu. Jadi kamu mending temenin ayah main aja lah daripada harus capek-capek nganterin aku ke tempat temanku itu. Eh, tapi kamu bisa main catur atau enggak?" tanya Jisoo.
Akhirnya Jisoo sudah memutuskan untuk akan pergi seorang diri ke tempat Jennie besok, ia telah berpikir matang-matang dan tak ingin terlalu menyusahkan Taehyung. Menurutnya terlalu menyusahkan suami di saat kita bisa menyelesaikannya sendiri, bagi Jisoo tidak terlalu baik. Lagi pula rumah orang tua Jennie juga tidak terlalu jauh dari rumah Suzy, jadi hanya dengan berjalan kaki saja pasti Jisoo sudah tiba di rumahnya, itupun jika mereka tidak pindah rumah.
"Bisa sayang, aku sih nggak terlalu jago ya main catur tapi bisa lah dikit-dikit, lagi pula sudah sejak lama sekali aku tidak main catur. Dulu itu aku selalu main catur sama Yerim atau kalau tidak sama papa. Tapi semenjak Yerim kuliah di luar negeri dan Papa yang selalu sibuk bekerja, aku pun jadi tidak ada rekan buat main catur lagi. Rasanya kayak bosen gitu loh kalau nggak ada mereka yang bisa diajak duel. Ngomong-ngomong, ayah dari dulu suka main catur ya dan mainnya itu sama siapa? temen-temennya aja?" Taehyung merasa sangat bersemangat saat mengetahui bahwa Min Ho memiliki hobi yang sama dengannya dalam bermain catur. Semangatnya untuk bermain catur yang telah lama terpendam kini kembali membara saat dia mengetahui bahwa ayah mertuanya juga menyukai permainan tersebut. Mendengar itu Taehyung sangat begitu ingin memainkan catur dengan ayah mertuanya itu. Bahkan sekarang pun dia sangat ingin memainkannya.
"Loh, ternyata Yerim juga bisa main catur ya? hebat banget. Ehm, iya sih, dari dulu ayah itu suka main catur sama temen-temennya gitu sewaktu pulang kerja atau kalau nggak sewaktu hari libur main sama temen-temennya di pos ronda. Tapi semenjak masalahku itu semua tetangga dan teman-teman ayah pada menjauhi kami, nggak ada satupun dari mereka yang mau bertegur sapa sama kami ataupun datang ke rumah kami. Oh iya, Sebenarnya dulu ayah nggak cuma main sama temen-temennya aja sih, tapi sama kakakku juga sebelum dia meninggal," awalnya Jisoo terlihat begitu bersemangat saat membahas tentang ayahnya yang gemar bermain catur dengan teman-temannya.
Namun, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi murung saat ia teringat dengan sosok kakaknya, Yoongi, yang telah tiada. Kakaknya yang selalu memainkan catur bersama ayahnya saat pulang sekolah, membuat Jisoo merasa sedih dan rindu akan kehadiran Yoongi. Setiap kali ia melihat papan catur, kenangan manis bersama Yoongi dan ayahnya selalu teringat dalam benaknya. Ia kembali terbayang akan sosok kakaknya yang selalu perhatian dan sangat dirindukannya hingga saat ini. Jisoo merasa begitu terpukul karena Yoongi tak lagi berada di sisinya untuk menyaksikannya bermain catur.
"Oh iya sayang, aku hampir lupa deh, kita ke makam tempat kakakmu kapan? Minggu depan atau kapan nih bisanya?" setelahnya Taehyung mulai menanyakan rencana mereka yang ingin pergi ke makam Yoongi dan kapan rencana itu akan terjadi.
Dengan tatapan yang kosong, Taehyung enggan memalingkan pandangannya ke arah Jisoo, tanpa menyadari bahwa di balik wajah sedihnya, Jisoo tengah dilanda kesedihan yang dalam, yang kali ini berhubungan dengan kakaknya. Setelah berusaha keras untuk mencari kedamaian dalam dirinya dan mengubur kenangan tentang kakaknya sejak beberapa hari yang lalu, kini Jisoo terpaksa menghadapi kembali ingatan yang datang menghantuinya.
"Terserah sayang, mau pergi kapanpun terserah. Aku ngikut aja. Tapi kalau bisa kita pergi secepatnya, aku sangat ingin pergi ke makam kakakku, aku sangat merindukannya." balas Jisoo sembari mengangkat wajahnya kembali dan menatap sedih ke arah Taehyung.
Lalu saat Taehyung tengah fokus menyetir, pikirannya mulai melayang. Dia mempertimbangkan kapan mereka akan pergi dan apakah dia akan memiliki waktu luang pada saat itu. "Ehm, sayang. Untuk kapan kita perginya nanti aku pikirin lagi ya, soalnya aku nggak tahu apakah sewaktu kita pergi itu aku ada kegiatan atau enggak, aku ada meeting atau enggak. Jadi nanti aku pikirin lagi ya dan secepatnya aku bakal kabarin ke kamu."
Setelah percakapan itu, suasana di dalam mobil terasa canggung. Jisoo menganggukkan kepalanya dan mereka kembali terdiam. Hanya suara mesin mobil yang terdengar hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Suzy.
Tanpa berlama-lama, Taehyung dan Jisoo dengan cepat melompat keluar dari mobil, membawa belanjaan mereka dan berjalan beriringan menuju pintu masuk. Saat mereka sampai di depan pintu, mereka terkejut karena pintu dalam keadaan terbuka. Tanpa mengucapkan salam ataupun mengetuk pintu, mereka langsung memasukinya begitu saja.
Namun, begitu mereka melangkah masuk, suasana di dalam rumah terasa berbeda dari biasanya. Suzy menatap mereka dengan tatapan tajam, seakan marah dengan kedatangan mereka. Taehyung dan Jisoo merasa canggung dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka berdiri di depan Suzy dengan penuh penyesalan, merasa bersalah karena telah pergi terlalu lama.
"Pergi ke mana aja, kok baru pulang?" tanya tajam Suzy kepada Jisoo dan Taehyung atau lebih tepatnya itu ditujukan kepada Taehyung.
Lalu Jisoo yang mengetahui omelan bundanya itu kepada Taehyung langsung saja menyahut, "Ehm Bun, tadi kita habis makan bakso di tempat biasa kita makan habis itu pulangnya kita langsung ke Alfamart buat beli jajanan. Oh iya Bun, tadi kita ada beliin bunda jajanan loh. Ada roti bakpia kering, roti selai madu New Zealand, terus ada juga susu stroberi perisa peach kesukaan bunda. Nih, Bun," Jisoo pun terlihat menyerahkan barang belanjaan di tangannya kepada Suzy dan membiarkan Suzy untuk membukanya.
Awalnya, Jisoo sama sekali tidak terpikir untuk membelikan Suzy semua makanan itu. Namun, dalam sekejap, sebuah ide brilian melintas di benaknya tentang alasan yang bisa ia berikan kepada ibunya. Tanpa ragu, Jisoo segera mengirim pesan kepada Taehyung, meminta bantuan untuk mencarikan semua makanan yang diinginkannya agar bisa diberikan dengan penuh kejutan kepada Suzy.
"Wah, ini semua kan makanan kesukaan Bunda, dari kemarin loh Bunda pengen banget buat makan ini semua, makasih ya sayang kamu inget aja kalau Bunda itu suka banget sama semua makanan ini," ternyata benar dugaan Jisoo, Suzy sudah mulai luluh selepas ia memberikan Suzy semua makanan itu. Ternyata sejak dulu kelemahan bundanya itu adalah makanan kesukaannya.
"Sama-sama Bun, Ya udah ya Bun Kita mau izin ke rumah dulu mau istirahat soalnya capek banget habis dari luar." kata Jisoo sambil bersiap untuk berjalan. Namun, tiba-tiba Suzy mencekal lengan Jisoo dan menghentikan langkahnya dengan tegas.
Dengan ekspresi serius dan tatapan mata tajam, Suzy langsung memalingkan perhatiannya ke arah Jisoo. "Nak, tadi ada kiriman paket dari seseorang untuk kamu. Sebenarnya Bunda sih nggak pengen membukanya, karena itu bukan hak Bunda. Tapi karena Bunda penasaran maka Bunda pun langsung membukanya. Nak, di dalam paket itu ada secarik kertas yang tidak Bunda baca dan juga sebuah foto kamu bersama seorang cowok yang tidak pernah Bunda lihat sebelumnya. Bunda sempat melihat dan mengamati foto itu, dan di bagian belakangnya, Bunda melihat ada sebuah nama. Ehm, Jaehyun. Yap, Jaehyun. kamu mengenalnya, Nak? sepertinya pengiriman paket tadi dikirim atas nama itu," tanya Suzy dengan rasa ingin tahu yang semakin memuncak.
Deg!
Tidak mungkin! Jisoo terkejut bukan kepalang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh bundanya. Jaehyun. Nama itu membangkitkan kenangan manis tentang seseorang yang selalu ada untuknya, namun tiba-tiba menghilang entah ke mana dan tak pernah terlihat lagi. Sepertinya pria itu hilang ditelan bumi, hingga suatu saat ada sebuah paket yang datang atas nama anak itu.
"Dia .. bukankah dia itu, sudah ..." Jisoo tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya mampu membeku dan terdiam selepas mengetahui ada sebuah paket untuknya yang mengatasnamakan anak itu.
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta setelah Cinta
Fanfiction"Dasar wanita murahan, apa dengan menggoda suamiku seperti ini kau merasa hebat, hah?!" ucap Jisoo dengan suara yang penuh amarah. Jennie menoleh ke arah Jisoo dengan tatapan yang penuh keterkejutan. Ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini pasti ter...
