Taehyung langsung menghela nafas selepas mengetahui apa tujuan Yoona datang ke kantornya. Jika dipikir-pikir tujuannya itu adalah hal yang sepele. Jika hanya sekedar meminta Taehyung untuk menelpon adiknya, kenapa dia harus jauh-jauh datang ke kantornya?
Bukankah seingat Taehyung, Yoona juga memiliki nomor teleponnya. Jadi, seharusnya dia bisa mengirim pesan kepada Taehyung untuk memintanya menelepon Tzuyu tanpa perlu datang langsung ke kantor. Atau, jika pesannya tidak segera mendapat respons, Yoona bisa menelepon Taehyung langsung. Taehyung merasa bingung, mengapa Yoona memilih untuk melakukan hal yang lebih rumit daripada memanfaatkan cara yang lebih mudah dan efisien.
Memang sejak dulu, Yoona selalu memiliki kebiasaan untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih rumit. Meski ada pilihan yang lebih mudah dan sederhana, wanita itu selalu memilih jalan yang lebih menantang. Jika ada tugas yang bisa diselesaikan dengan mudah, Yoona lebih memilih untuk mencari cara yang lebih kompleks atau bahkan sulit. Ini bukan karena dia suka mencari masalah, tetapi lebih karena dia menikmati tantangan dan proses belajar yang datang bersamanya.
Huufftt ...
"Hanya itu?" Taehyung bertanya dengan nada yang tetap dingin dan acuh tak acuh, tak ada perubahan ekspresi di wajahnya.
Lalu Yoona yang tiba-tiba teringat dengan muka istri Taehyung seperti apa kembali mengalihkan atensinya ke arah Jisoo. Dia menatap Jisoo dengan intens, matanya tak berkedip, seakan mencoba membaca sesuatu dari wajah Jisoo.
Fokus Yoona yang begitu kuat pada Jisoo membuat Jisoo dan Taehyung saling bertukar pandang, bingung. Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi, mengapa Yoona datang dan apa maksud dari ekspresi wajahnya saat ini. Keduanya merasa ada sesuatu yang tidak biasa, tapi apa itu, mereka masih belum bisa memahaminya.
"Mbak, halo, kenapa Anda memandangi istri saya seperti itu?" tanya Taehyung sembari menjentikkan jarinya di depan muka Yoona.
Masih dengan tatapan dan ekspresi yang sama Yoona pun menjawab, "Istri kamu cantik ya, tapi sayang masa lalunya begitu buruk."
Setelah Yoona selesai berbicara, dia kembali menatap Taehyung sejenak sebelum beranjak pergi. Wanita itu tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, hanya diam dan perlahan berjalan menjauh. Punggungnya yang selama ini tampak jelas, perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan sebuah kesan mendalam dan pertanyaan yang belum terjawab.
Dalam kesunyian yang tiba-tiba menyeruak, Taehyung menatap Jisoo dengan intensitas yang tak terbantahkan. Kata-kata Yoona yang tajam dan menusuk telah menggetarkan hatinya, menciptakan gelombang emosi yang membanjiri pikirannya. Ada rasa ingin marah, tetapi dia tahu itu hanya akan sia-sia. Baginya, memarahi Yoona bukanlah solusi, hanya akan membuang-buang energi dan emosi saja.
Setelah masalah dengan Yoona teratasi, Taehyung membawa Jisoo ke dalam ruang kerjanya, sebuah ruangan yang menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa dalam hidupnya. Di sana, Taehyung langsung menuju ke kursi kebesarannya dan duduk di sana.
"Sayang, sini dong." Panggil Taehyung pada Jisoo dengan suara lembut, sembari menepuk-nepuk pahanya dan tersenyum kearahnya. Itu adalah senyuman yang hangat, penuh dengan cinta dan harapan, sebuah undangan untuk Jisoo agar mendekat dan berbagi kedekatan yang mereka miliki.
Awalnya Jisoo merasa bingung dengan panggilan dan tepukan yang diberikan Taehyung pada pahanya. Ia sempat terdiam, mencoba mencerna maksud dari gestur tersebut. Namun, setelah beberapa detik berlalu, pemahaman akhirnya datang. Tanpa ragu, Jisoo bergerak menuju Taehyung.
Di ruangan kerja yang biasanya serius dan formal, suasana berubah menjadi hangat dan romantis saat Jisoo mengambil posisi di atas paha Taehyung. Tatapannya tertuju padanya, dan ia melingkarkan kedua tangannya di leher Taehyung, seakan mempererat ikatan antara mereka. Kepalanya merebah di dada Taehyung, memberikan rasa nyaman dan kedekatan yang lebih dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta setelah Cinta
Fanfiction"Dasar wanita murahan, apa dengan menggoda suamiku seperti ini kau merasa hebat, hah?!" ucap Jisoo dengan suara yang penuh amarah. Jennie menoleh ke arah Jisoo dengan tatapan yang penuh keterkejutan. Ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini pasti ter...
