Episode 75. Kekhawatiran Jisoo; Antara Dusta dan Kenyataan

99 3 0
                                        

Setelah beberapa saat lamanya Jisoo berdiri diam di depan kamar kedua orang tuanya, ia akhirnya memutuskan untuk membalikan badan dan pergi dari sana. Langkahnya dengan tergesa menuju ke arah ruang tamu dan mendudukkan bokongnya dengan kasar di atas sofa. Raut mukanya masih sangat marah saat itu terlebih setelah beberapa jam setelah ia duduk datanglah Min Ho dan Suzy ke arahnya di ruang tamu.

Di sana tampak mereka tersenyum tanpa beban ke arahnya dan sambil bergandengan tangan.

"Loh, nak. Jennie udah pulang ya, kapan? kok ayah sama Bunda nggak dikasih tahu?" tanya Min Ho sesaat dirinya dan Suzy sudah tiba di tempat di mana Jisoo duduk dan mendudukkan bokong mereka di sofa kosong di sebelah kanan dan kiri Jisoo.

Mereka ada menatap ke arah Jisoo dan mendapati sorotnya yang seperti tengah menahan amarah saat itu.

"Udah dari tadi." hanya sebatas kata itulah yang Jisoo ucapkan atas pertanyaan ayahnya. Ia tidak menatap ke arah kedua orang tuanya dan tetap memfokuskan pandangannya lurus ke depan.

Lalu Min Ho dan Suzy yang mendapati Jisoo tengah marah langsung saja saling memandang sejenak sebelum mereka dengan cepat mengusap punggung Jisoo, mencoba menenangkannya.

"Nak, Kamu kenapa? kok marah gitu? tadi berantem ya sama Jennie, dia pulang karena kalian berantem ya?" tanya Suzy sembari menatap sedih ke arah Jisoo yang saat itu masih juga menatap tajam ke depan dengan penuh amarah.

Lalu Jisoo yang mendapati pertanyaan bundanya dan juga ekspresi sedihnya, langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Suzy dan menatapnya masih dengan tatapan yang sama. Tatapan yang tajam dan penuh dengan amarah.

"Bun, tadi Bunda sama ayah ngapain? Kok pas aku ke dapur, kalian nggak ada?" tanya Jisoo dengan lugas. Dia tidak ingin berbasa-basi atau mengatakan kata-kata yang tidak penting sebagai awal dari kemarahannya.

Tanpa basa-basi, Jisoo langsung mengungkapkan apa yang mengganjal pikirannya dan ingin mengatakan semuanya dengan jujur kepada kedua orang tuanya saat mereka mendapatinya marah.

Lalu Suzy yang kaget dengan pertanyaan Jisoo langsung saja mengalihkan perhatiannya ke arah lain dan seperti tengah berpikir untuk akan menjawab pertanyaan Jisoo seperti apa. Pikirannya sibuk mencari-cari alasan yang pas untuk menutupi apa yang baru saja ia lakukan bersama Min Ho di dalam kamar.

"Nggak usah bohong lagi Bun, aku udah tau kok, kalian baru saja ngapain di sana. Kalian baru saja bermain kan di dalam kamar. Dan itu karena paksaan dari ayah." kini tatapan tajam Jisoo itu ia arahkan ke arah Min Ho yang langsung saja menundukkan kepalanya.

"Bun, Bunda itu kan lagi hamil, bagaimana bisa sih Bunda sama ayah ngelakuin itu? nanti kalau terjadi sesuatu sama bunda dan kandungan Bunda bagaimana? Aku takut kalau Bunda sampai kenapa-napa." ucap Jisoo sembari merubah ekspresinya yang semula tengah begitu marah kini tampak begitu sedih dan seperti ingin menangis.

Matanya yang berkaca-kaca dan juga dirinya yang dengan tergesa langsung beranjak memeluk Suzy membuat Suzy yang tidak siap akan hal itu langsung saja terkejut. Dia ada membalas pelukan Jisoo, namun tidak mengatakan apapun padanya.

"Nak, kamu jangan khawatir ya, Bunda nggak apa-apa kok. Bunda dan calon adik kamu baik-baik aja. Kami bermainnya tidak terlalu keras, lagi pula tadi yang memaksa untuk bermain bukan ayahmu tapi Bunda. Bunda yang awalnya tidak ingin melakukan itu selama bunda hamil, langsung saja tergoda sesaat tanpa sengaja melihat resleting celana ayahmu yang terbuka. Di sana bunda udah coba nahan-nahan tapi akhirnya tidak tahan juga dan mengajak ayahmu untuk melakukan itu. Nak, maafkan Bunda ya. Bunda sampai nggak mikirin kandungan Bunda karena nafsu. Kamu jangan khawatir lagi ya, Bunda jamin nggak akan kenapa-napa kok sama calon adik kamu ...,"

"Oh iya, nanti malam kamu temenin Bunda ke dokter ya buat cek kandungan, sekalian kalau kamu mau beli sesuatu di luar juga kita bisa langsung beli." ucap Suzy mencoba menjelaskan tentang apa yang terjadi padanya dengan Min Ho beberapa saat lalu pada Jisoo.

Suzy mencoba menjelaskan semuanya dengan hati-hati agar Jisoo tidak salah paham. Namun, setelah penjelasan Suzy, Jisoo justru terdiam dan mengurai pelukannya.

"Ehm, nanti malam suruh temenin ayah aja ya Bun, aku rasanya capek, mau istirahat." setelahnya tampak Jisoo bangkit dari duduknya dan berjalan dengan santai menuju ke arah kamarnya.

Ia seperti marah pada Suzy atas semua penjelasannya dan tidak menerima semua alasannya. Jisoo memang benar-benar khawatir kepada bundanya dan mengira jika ayahnya lah yang sudah memaksa bundanya untuk melakukan permainan tersebut. Namun, setelah mendengar penjelasan dari bundanya, Jisoo merasa sangat kecewa dengan sikap bundanya yang masih mempertahankan perilaku seperti itu.

Jisoo merasa bahwa bundanya terlalu ceroboh dan lebih memprioritaskan nafsu daripada kesehatan. Terlebih lagi, bundanya sedang hamil, sehingga bukan hanya kesehatan bundanya yang dipertaruhkan, tetapi juga kesehatan anak yang dikandungnya.

"Mas, sepertinya Jisoo marah deh sama kita, haduh bagaimana ini? dia kan kalau sudah marah bakal susah banget buat balikin mood-nya. Ehm, mas, nanti malam kamu temenin aku cek kandungan ya, sebenarnya tadi aku ingin mengajak Jisoo, tapi berhubung Jisoo sudah marah kepadaku jadi aku nggak bisa mengajaknya lagi. Oh ya mas, ini sudah terlalu sore ya kok Taehyung belum balik sih? Apa pekerjaannya di kantor terlalu sibuk sampai dia belum balik-balik?" tanya Suzy sembari mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang saat itu kebetulan tengah tertutup.

..................................................

Sementara itu Taehyung yang sudah selesai membelikan Jisoo seikat bunga lili, kini tampak tengah dalam perjalanan pulang ke rumah dengan penuh ketenangan. Dia ada mengemudikan kendaraannya dengan hati-hati, tanpa ada keinginan untuk terburu-buru. Namun, ketika ia memasuki sebuah kompleks perumahan yang padat, tiba-tiba teleponnya berdering dengan keras, membuatnya terkejut. Dengan cepat, Taehyung memutuskan untuk memarkirkan kendaraannya dan mengangkat panggilan tersebut.

Sesaat Taehyung meraih ponselnya dari dasbor mobilnya dan melihat siapa yang menelpon, dia terkejut dan mengenyitkan dahinya sewaktu mendapati ada sebuah nomor asing yang menelponnya. Nomor tersebut telah menelponnya beberapa kali dan mengirimkan beberapa pesan teks yang cukup panjang. Tanpa ragu, Taehyung memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.

"Halo, siapa ya?"

"Ehm, Tae. Ini aku Yoona, kakaknya Tzuyu,"

"Oh, ngapain anda menelpon saya?" Taehyung tampak begitu malas menjawab telepon itu setelah menyadari jika Yoona lah yang menelponnya.

"Tae, kamu bisa datang ke rumah nggak, rumah yang lama. Aku di sini ketakutan, Tae. Aku lagi sendirian dan di sini ada orang asing yang masuk ke dalam rumah. Please, Tae. Kamu datang ya aku takut banget. Hanya kamulah yang terlintas di pikiranku untuk dapat membantuku."

Awalnya, Taehyung meragukan semua perkataan Yoona. Namun, ketika ia tanpa sengaja mendengar suara benda jatuh dan langkah kaki dari beberapa orang melalui panggilan telepon, Taehyung menajamkan telinganya dan menyadari bahwa kakak Tzuyu tidak sedang bercanda atau membohonginya.

Pikirannya mulai berputar saat Taehyung memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah ia harus mengabaikan semua ini atau segera bertindak?

"Sebenarnya saya tidak percaya sama anda. Tapi saya akan mencoba untuk datang. Tetap diam di sana dan tunggu saya datang."

Tut ...

Setelahnya tampak Taehyung menutup panggilan tersebut dan memutar balik laju kendaraannya menuju ke rumah Tzuyu untuk menemui Yoona. Sebenarnya Taehyung tidak begitu percaya dengan kakak dari Tzuyu itu, namun entah mengapa firasatnya mengatakan jika Yoona tidak sedang bercanda padanya kali ini. Jadi untuk membuktikan semuanya Taehyung memilih untuk pergi mendatanginya ke rumahnya daripada terus kepikiran. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan dan rasa penasaran yang semakin besar. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Bersambung ...

Cinta setelah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang