Episode 131. Lisa dan Rose; Harus Memanggil Bu Jisoo atau Jisoo

94 8 0
                                        

Seminggu setelah kejadian di hotel yang meresahkan, Taehyung merasa perlu untuk lebih berhati-hati dalam segala hal. Dia segera memecat Jaemin keesokan harinya dan mulai mengutamakan Jisoo dan putra mereka, Hyun Woo, di atas segalanya.

Taehyung merasa yakin bahwa Jennie tidak akan tinggal diam setelah kejadian itu. Dia tahu bahwa gadis itu akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya. Namun, Taehyung tidak akan membiarkan dirinya dan keluarganya menjadi korban lagi.

Pagi itu, Taehyung membawa Jisoo bersamanya dalam perjalanan menuju kantornya. Dia ingin memperkenalkan Jisoo kepada seluruh karyawan sebagai sekretaris barunya yang akan menggantikan Jennie. Jisoo merasa sedikit cemas dengan tanggung jawab baru ini, terutama karena mereka tidak memiliki pengasuh untuk Hyun Woo di apartemen. Namun, Taehyung sudah memikirkan segalanya.

Ternyata, Taehyung telah menyewa seorang pengasuh dan pembantu untuk menjaga Hyun Woo di rumah. Dia ingin memastikan bahwa putra mereka akan selalu dalam perhatian dan keamanan yang baik saat Jisoo bekerja. Pengasuh tersebut juga memiliki keahlian sebagai seorang seniman, sehingga dapat mengajak Hyun Woo bermain dan mengasah kreativitasnya.

Sesampainya di kantor, Taehyung dengan bangga memperkenalkan Jisoo kepada semua karyawan. Mereka menyambut Jisoo dengan hangat dan memberikan dukungan padanya. Jisoo merasa lega karena mendapat sambutan yang baik dari rekan kerja barunya.

Namun, kekhawatiran Jisoo tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah Jisoo mulai bekerja, Jennie muncul di kantor Taehyung. Dia terlihat marah dan kesal saat melihat Jisoo menggantikannya sebagai sekretaris Taehyung.

"Kau pikir kau bisa menggantikan posisiku begitu saja?" ujar Jennie dengan nada tinggi.

Taehyung segera melangkah mendekati Jennie, "Jennie, aku sudah memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu. Tapi kau malah memilih untuk menjebakku. Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu Jisoo dan keluargaku lagi."

Jennie terdiam sejenak, namun kemudian dia tertawa sinis. "Kau pikir kau bisa menang dariku, Jisoo? tidak. Tidak semudah itu. Dengan kau menjadi sekretaris Taehyung kau sudah mengibarkan bendera perang denganku. Lihat saja Jisoo, tidak lama lagi aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!"

Jisoo hanya tersenyum tenang, "Aku tidak takut padamu, Jennie. Aku akan melindungi suamiku dan Hyun Woo, tidak peduli apa yang kau lakukan."

Dengan tatapan marah, Jennie pergi dari kantor Taehyung. Namun, Jisoo merasa khawatir dengan ancaman Jennie. Dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut dan mengganggu kehidupan Taehyung dan Hyun Woo.

Taehyung merasa prihatin melihat ekspresi cemas Jisoo. Dia segera menghampiri Jisoo dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Jangan khawatir, sayang. Aku akan melindungi kalian berdua. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama."

Jisoo tersenyum lega mendengar kata-kata Taehyung. Dia merasa bahagia karena memiliki seseorang yang begitu peduli dan melindunginya. Bersama Taehyung, Jisoo merasa bahwa dia bisa menghadapi segala rintangan yang akan datang, termasuk ancaman dari Jennie.

........................................

Sementara itu di sebuah cafe, Joohyun menatap tajam ke arah Jennie, wajahnya penuh dengan kekecewaan dan kemarahan. "Jennie, apa yang kamu pikirkan? Mengapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini?" ucapnya dengan suara yang penuh dengan emosi.

Jennie menatap balik kakaknya dengan tatapan yang penuh dengan ketegangan. "Aku tidak peduli, kak. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku tidak akan membiarkan Jisoo bahagia dengan Taehyung. Aku harus bisa merebut Taehyung darinya," jawabnya dengan suara yang penuh dengan kebencian.

Joohyun merasa terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jennie. Matanya melebar dan tangannya spontan menepuk jidatnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa adiknya bisa seceroboh itu. "Jennie, kau tidak bisa melakukan hal seperti ini. Kau harus bersabar, jangan melakukan hal bodoh yang akhirnya membuatmu semakin mustahil untuk mendapatkan Taehyung," ucap Joohyun dengan suara yang penuh dengan ketegasan.

Namun, Jennie hanya menatap sinis kearah Joohyun dan berdecak kesal. "Kak, dari dulu kamu hanya menyuruhku bersabar dan bersabar. Kapan kamu akan membantuku? aku sudah capek, aku tidak sabar rasanya untuk menunggu sampai Taehyung akhirnya menjadi milikku," ucap Jennie dengan suara yang penuh dengan kegigihan.

Joohyun merasa frustasi. Dia tahu bahwa tidak mudah untuk mengubah pikiran Jennie, terutama ketika adiknya sudah terobsesi dengan sesuatu dan menginginkan sesuatu itu untuk menjadi miliknya. Namun, dia tidak bisa hanya diam dan membiarkan Jennie melakukan hal bodoh.

"Jennie, dengarkan aku. Aku akan membantumu, tapi bukan dengan cara yang gegabah seperti ini. Kita harus merencanakan segala sesuatunya dengan matang agar apa yang kita rencanakan itu bisa berjalan dengan baik," ucap Joohyun dengan suara yang penuh dengan ketegasan.

Jennie menatap Joohyun dengan tatapan tajam. Dia tahu bahwa kakaknya benar, tapi hatinya tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk segera mendapatkan Taehyung.

...........................................

Sementara itu di kantor suaminya, Jisoo, yang merupakan karyawan baru di perusahaan suaminya, merasa sedikit canggung saat pergi ke kantin untuk makan siang seorang diri. Taehyung, suaminya yang juga merupakan bos di perusahaan tersebut, sedang sibuk dengan para karyawan di di ruang meeting.


Jisoo berjalan dengan langkah hati-hati menuju loket untuk memesan makanan. Setelah memesan, dia melihat sekeliling mencari tempat duduk yang kosong. Namun, pandangannya disambut dengan pemandangan meja-meja yang penuh sesak dengan orang-orang yang sedang menikmati makan siang mereka.

Dia merasa sedikit kecewa dan bingung. Hati-hati, dia melihat setiap sudut kantin, berharap menemukan tempat yang masih kosong. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada satu meja di ujung kantin yang tampak sepi. Tanpa ragu, Jisoo memutuskan untuk menuju meja tersebut.

Namun, ketika dia hampir mencapai meja itu, dia melihat dua gadis yang sudah duduk di sana. Jisoo merasa sedikit kecewa, tapi dia tidak ingin menyerah begitu saja. Dia tetap melangkah menuju meja itu dengan senyuman di wajahnya.

"Maaf, apakah tempat ini masih kosong?" tanya Jisoo dengan ramah kepada kedua gadis itu.

Salah satu dari mereka, yang memiliki rambut panjang dan senyum yang cerah, tersenyum ramah. "Tentu, silakan duduk. Kami baru saja tiba di sini juga."

Jisoo merasa lega mendengar jawaban itu dan segera duduk di samping mereka. Dia merasa senang bisa berkenalan dengan rekan kerja barunya.

"Aku Jisoo, karyawan baru di perusahaan ini. Senang bertemu dengan kalian," kata Jisoo sambil memberikan salam tangan kepada kedua gadis itu.

Gadis pertama dengan rambut panjang itu menjawab, "Aku Park Chaeyong, panggil saja aku Rose dan ini temanku Lalisa Manoban. Kami juga baru saja bergabung di perusahaan ini. Senang bertemu denganmu juga, Jisoo. Ehm, atau aku lebih sopannya memanggil kamu Bu Jisoo, karena kamu kan istrinya bos Taehyung ya, haha,"

Jisoo tersenyum malu-malu saat mendengar kata-kata Rose. "Oh, tidak perlu memanggilku Bu Jisoo, Rose. Panggil saja aku Jisoo. Dan ya, aku memang istri dari bos Taehyung," ujarnya sambil tersenyum.

Lalisa tersenyum lebar. "Wow, keren sekali! Aku dengar kabar bahwa bos Taehyung sangat menyayangi kamu, Jisoo. Kalian berdua pasti pasangan yang sempurna."

Jisoo merasa hangat di hatinya mendengar pujian dari kedua gadis itu. "Terima kasih, Lisa. Ya aku memang merasa Taehyung sangat menyayangiku, tapi kami tidak sesempurna itu kok. Kami masih terus berjuang untuk keharmonisan rumah tangga kita,"

Mereka mulai berbincang-bincang sambil menunggu makanan mereka datang. Jisoo merasa nyaman dan senang bisa berada di tengah-tengah suasana yang ramah dan hangat.

Mereka berbagi cerita tentang pengalaman mereka di perusahaan, hobi mereka, dan minat mereka di luar pekerjaan. Jisoo merasa bahwa dia telah menemukan teman-teman baru yang hebat di tempat kerja barunya.

Saat makanan mereka tiba, mereka menikmati hidangan mereka sambil terus mengobrol dengan riang. Tidak ada lagi perasaan kesepian atau kecanggungan. Mereka saling mendukung dan menghibur satu sama lain.

Bersambung ...


Cinta setelah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang