Sementara itu di tempat lain, di tempat yang sepi dan terpencil, di tengah gemuruh angin yang seakan menyiratkan ketegangan, Jennie dan Sooyoung berjalan dengan langkah hati-hati membawa baby Hyun Woo yang lucu dan menggemaskan. Wajah mereka penuh dengan rasa gugup dan kekhawatiran, namun juga terlihat sedikit kegembiraan karena berhasil menjalankan rencana yang sebelumnya mereka rancang.
"Sooyoung, apa yang kita lakukan ini benar-benar gila, tapi sepertinya kita berhasil, ya?" ucap Jennie sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Iya, Jen. Rencana kita memang berani, tapi demi bantuin Lo, gue rela ngelakuin apapun." balas Sooyoung dengan tulus, meskipun terkesan sedikit kasar dalam ucapannya.
Saat mereka tiba di bangunan tua yang menjadi tempat persembunyian, Jennie dengan lembut memeluk baby Hyun Woo yang masih polos dan tak tahu apa-apa. Namun, senyum manis dari Hyun Woo membuat Jennie dan Sooyoung tersenyum ikut bahagia.
"Si kecil ini benar-benar lucu, ya. Tidak menangis meskipun dalam situasi seperti ini." ujar Jennie sambil tersenyum lembut, melihat Hyun Woo sama sekali tidak menangis. Bayi tampan itu justru tertawa bahagia dan tersenyum senang.
"Benar, dia seakan tahu bahwa kita tidak bermaksud jahat padanya, hanya menjadikannya ancaman saja. Semoga rencana kita berhasil, Jennie." balas Sooyoung.
Namun, kejutan besar menanti mereka ketika Jisoo dan Taehyung tiba di tempat tersebut dengan tatapan tajam yang langsung mengarah pada Jennie dan Sooyoung. Pertanyaan pun muncul di benak mereka.
"Kalian pikir kalian bisa melakukan ini tanpa ketahuan kami, Jennie, Sooyoung?" tegur Jisoo dengan tajam.
"Kami tahu segalanya. Dan kalian akan bertanggung jawab atas apa yang telah kalian lakukan." tambah Taehyung dengan suara yang penuh dengan keputusan dan ketegasan.
Jennie dan Sooyoung terdiam, tak menyangka bahwa rencana mereka telah terbongkar oleh Jisoo dan Taehyung. Bagaimana mereka bisa tahu? Itu menjadi pertanyaan besar yang menggantung di udara, sementara ketegangan semakin terasa di antara mereka.
Lantas setelah mendapati Jennie dan Sooyoung terus terdiam, Jisoo mengambil kesempatan itu untuk berjalan mendatangi mereka untuk mengambil kembali anaknya, Hyun Woo, dari gendongan Jennie. Namun, sebelum Jisoo bisa mencapai mereka, Jennie tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya, menimbulkan kekagetan di sekelilingnya.
"Jennie, apa yang sedang kau lakukan? Tolong serahkan Hyun Woo padaku." ucap Jisoo dengan nada panik saat melihat Jennie mengarahkan sebuah pisau lipat pada Hyun Woo.
Jennie, dengan tatapan yang penuh dengan campuran emosi, menatap Jisoo tanpa sepatah kata pun, sementara Sooyoung hanya bisa menahan napas dalam-dalam, tak menyangka situasi bisa berubah secepat ini.
"Jisoo, jangan mendekat! Aku tidak ingin melukai Hyun Woo, tapi aku tidak punya pilihan." balas Jennie dengan suara gemetar, ekspresinya mencerminkan kebingungan dan kecemasan.
Ketegangan semakin terasa di udara saat Hyun Woo terus tersenyum polos, tanpa menyadari betapa tegangnya situasi di sekelilingnya.
Lalu Taehyung yang tidak menyangka jika Jennie bisa senekat ini, berani menodongkan pisau pada anaknya, Hyun Woo yang masih polos itu, langsung saja mengangkat satu jari telunjuknya dan setelah ia mengangkat jarinya itu, ada beberapa orang berpakaian hitam yang mengepung tempat itu.
Orang-orang itu langsung saja mengepung Jennie dan Sooyoung, menambah kekacauan di tempat itu.
"Bereskan mereka sekarang. Rebut Hyun Woo dari tangan mereka dan bawa mereka ke tempat biasa kita kumpul." perintah Taehyung dengan tegas kepada orang-orang yang mengepung Jennie dan Sooyoung. Mereka menjawab dengan anggukan kepala singkat, siap melaksanakan perintah tersebut tanpa ragu.
Kemudian, setelah menerima arahan dari Taehyung, yang merupakan bos mereka, para orang berpakaian hitam itu segera melangkah maju dan menyerang Jennie dan Sooyoung.
Mereka bergerak dengan cepat dan terampil, menangkap kedua wanita itu dengan mudah. Jennie berteriak histeris saat dua orang berpakaian hitam itu menyeretnya ke dalam mobil. Dia mencoba melawan, tetapi kekuatan mereka terlalu besar baginya. Sooyoung juga berjuang, tetapi sia-sia. Mereka berdua akhirnya terjebak di dalam mobil yang gelap.
"Kami mau dibawa kemana? tolong lepaskan kami." pinta Jennie dengan suara gemetar.
Namun, para orang-orang berpakaian hitam itu tetap hening tanpa memberikan jawaban. Mereka dengan tegas membawa Jennie dan Sooyoung pergi ke markas besar mereka setelah menerima instruksi dari Taehyung, pemimpin mereka.
Sementara itu, di depan bangunan tua yang sunyi, Jisoo masih memeluk erat putranya, Hyun Woo. Rasa khawatir melanda hatinya setelah insiden penculikan yang dilakukan oleh Jennie dan ancaman dengan pisau yang mengancam keselamatan Hyun Woo.
Taehyung, suami Jisoo, berusaha menenangkan Jisoo dengan lembut sambil menepuk-nepuk bahunya, "Semuanya sudah baik-baik saja, sayang. Hyun Woo sudah kembali kepada kita. Kamu jangan khawatir lagi ya, aku berjanji akan lebih menjaga Hyun Woo habis ini. Dia akan selalu aman dan terlindungi, tidak akan ada lagi yang menyakitinya atau menculiknya." Suara tenang Taehyung membawa sedikit ketenangan di tengah kegelisahan yang melanda.
"Iya sayang, aku cuma khawatir aja, tadi Jennie mau nusuk Hyun Woo pake pisaunya dia. Aku tau sebenernya Jennie nggak serius ngelakuin itu, tapi aku tetep aja khawatir. Sayang, setelah kejadian ini apa yang mau kamu lakuin sama Jennie?" tanya Jisoo sembari mengalihkan pandangannya kearah Taehyung, yang saat itu langsung saja menatap tajam ke depan sesaat setelah mendengar pertanyaan Jisoo
"Aku mau pecat dia dari kantorku. Nggak sudi rasanya terus nerima dia jadi sekretaris di perusahaanku setelah apa yang dia lakuin ini. Dia sudah nekat culik anak kita sayang, bahkan mau nyakitin dia. Apa masih pantes aku nerima Jennie jadi karyawanku di kantor? sepertinya nggak. Aku tetep akan pecat dia habis ini." balas Taehyung dengan tegas dan mantap.
Setelah beberapa saat, Taehyung dan Jisoo segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka kembali ke apartemen, mengantarkan Jisoo dan Hyun Woo yang masih kecil ke tempat yang aman dan nyaman.
Setelah menyelesaikan tugasnya mengantar mereka, Taehyung bergegas menuju markas besarnya. Di sana, dia bersiap untuk menginterogasi Jennie dan Sooyoung, mencari kejelasan dari tujuan sebenarnya mereka melakukan semua insiden hari ini.
..................................
Sementara itu di markas besar Taehyung, yang dikenal sebagai Red Mamba, anak buah Taehyung dengan cermat mengurung dan mengikat Jennie dan Sooyoung di sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Mereka menunggu dengan tegang kedatangan Taehyung, bos besar mereka yang kini masih sibuk mengantarkan anak dan istrinya kembali ke apartemen.
Dalam situasi yang tegang itu, Jennie dan Sooyoung terdiam, dihadapkan pada ketegangan yang memenuhi ruangan dengan keheningan yang mencekam. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Taehyung memiliki kelompok rahasia seperti Red Mamba.
Atmosfer yang tercipta begitu mencekam bagi mereka, dihadapkan pada kenyataan yang tak terduga. Wajah mereka mencerminkan campuran kebingungan dan ketakutan di hadapan situasi yang begitu gelap dan mengancam.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Sooyoung? kita harus mencari cara untuk keluar dari sini sebelum Taehyung datang." bisik Jennie dengan suara pelan.
"Aku setuju, Jen. Kita harus segera mencari celah untuk melarikan diri sebelum mereka kembali." balas Sooyoung dengan tekad yang sama kuatnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Taehyung masuk dengan langkah mantap. Wajahnya terlihat serius dan penuh dengan kekuatan.
"Markas ini berada di tengah hutan belantara, jauh dari peradaban. Kalian tidak akan bisa melarikan diri dari sini," ucap Taehyung dengan tegas, mengisyaratkan bahwa peluang untuk kabur sangatlah tipis di tempat yang terpencil ini.
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta setelah Cinta
Fanfiction"Dasar wanita murahan, apa dengan menggoda suamiku seperti ini kau merasa hebat, hah?!" ucap Jisoo dengan suara yang penuh amarah. Jennie menoleh ke arah Jisoo dengan tatapan yang penuh keterkejutan. Ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini pasti ter...
