Episode 88. Pergi ke Neraka Lebih Cepat atau Menuruti Perintahku

63 5 0
                                        

Tap ...

Tap ...

Tap ...

Suara langkah kakinya terdengar menggema di sepanjang lorong gelap nan sepi ini. Tak ada cahaya ataupun seseorang yang menemaninya. Ia sendirian dan dalam kesendiriannya, ia menangis, meratapi nasibnya yang malang. Keinginannya tak terpenuhi.

Pecahan beling dan kekacauan di sekelilingnya telah menyapu pandangannya. Wanita muda ini begitu terbebani hingga ia membanting segala sesuatu di sekitarnya dengan penuh kemarahan.

Tangannya terluka dan berdarah karena terkena pecahan beling, kakinya yang terluka semakin memburuk. Bibirnya robek karena ia dengan kasar menggores pisau lipat di sana.

Kini gadis bernama Chou Tzuyu itu melangkah menuju ruangan terpencil di dalam rumahnya. Ruangan penyimpanan barang yang tak berguna. Gudang yang gelap dan tak pernah ia kunjungi kini menjadi tujuan yang tak terelakkan.

Dengan penampilan yang berantakan dan pikiran yang kacau, Tzuyu melangkah menuju gudang tersebut. Dengan langkah santai, namun terlihat jelas beban pikiran yang berat, Tzuyu tak pernah berhenti melangkah.

Langkahnya terus melaju, membawanya ke depan pintu gudang yang terbengkalai. Tanpa ragu, Tzuyu melangkah masuk dan mengunci dirinya di dalam. Di tengah kegelapan, ia merenung, tak tahu apa yang ingin dilakukannya. Namun begitu ia berada di dalam, dorongan tak terbendung membawanya ke ujung gudang yang sunyi, di mana tersembunyi barang yang pernah menakutinya. Sebuah pistol dan pisau-pisau tajam terhampar di hadapannya.

Awalnya, pikiran Tzuyu tak pernah melintas untuk menginjakkan kaki di gudang ini. Sejak dulu, ia selalu membenci tempat ini yang dipenuhi kekotoran, kekumuhan, dan barang-barang usang. Kebersihannya yang konsisten tak bisa mentolerir keadaan seperti itu. Namun, dalam kekacauan pikirannya dan rencana yang hancur, ia tak terelakkan untuk mengunjungi gudang ini.

Setelah menemukan benda-benda mematikan itu, Tzuyu meraihnya dengan cepat, dan tatapannya menyapu tajam. Mata yang menyeramkan itu melontarkan kilatan keganasan saat benda-benda tajam itu berada di genggamannya.

"Sepertinya tidak ada cara lain selain cara itu. Aku harus segera menyelesaikan semua ini. Aku tidak bisa berdiam diri saja dan membiarkan dia kembali dengan wanita itu. Tapi jika aku melakukan ini bagaimana dengan posisiku nanti, apa sebaiknya aku suruh orang saja untuk melakukannya? baiklah, aku suruh orang lain saja untuk melakukannya. Lebih baik aku bermain aman saja, karena jika rencana ini gagal tentulah takkan ada yang tau aku dalangnya." ucap Tzuyu dengan suara lembut, sambil menatap senyuman yang terukir di wajahnya. Tangannya memegang erat pistol di genggamannya, merasakan dinginnya logam itu. Dengan gerakan yang perlahan, ia mengusap permukaan pistol dengan kelembutan.

"Tapi bagaimana jika dia selamat? bukankah akan sia-sia saja rencanaku? semoga kali ini takkan gagal seperti sebelumnya. Aku tak ingin wanita itu bersama Taehyung. Taehyung itu milikku, dan tak seorangpun dapat memilikinya selain aku. Jadi aku harus segera mendatanginya. Ehm, tapi pria suruhanku kemarin mengatakan di taman merpati kan? apa tidak terlalu terbuka di sana? ahh, sudahlah lebih baik aku segera berangkat sana, memberikan surprise pada wanita itu. Dia pasti takkan percaya jika yang menemuinya itu aku bukanlah teman masa lalunya itu. Hmm, pasti dia takkan berkutik setelah ini, ku jamin dia akan menyerah dan meninggalkan Taehyung. Lagipula dia itu terkena gangguan jiwa, bagaimana wanita sepertinya dapat menjadi istri pria sesempurna Taehyung? tidak! ini tidak bisa di biarkan. Aku harus segera berangkat sekarang, taman itu terlalu jauh nanti keburu macet di jalan." ucap Tzuyu.

Dengan hati yang penuh kegelisahan, Tzuyu tak sabar untuk melangkah ke taman merpati, tempat di mana seseorang yang menjadi objek kebenciannya berada. Dengan tekad yang bulat dan rencana yang terperinci, ia memutar tubuhnya dengan mantap dan berjalan keluar dari gudang. Di tangannya, ia memegang erat sebuah pistol, matanya menatap tajam ke depan. Ambisi yang tak terbatas dan obsesi yang melampaui batas wajar memenuhi pikirannya.

Setelah melangkah keluar, Tzuyu dengan langkah mantap menuju kamarnya, mempersiapkan diri dengan seksama. Ia berganti pakaian yang lebih tertutup, sementara pistol yang ia bawa sebelumnya diselipkan di dalam saku baju tebalnya. Ia telah merencanakan semuanya dengan teliti, dan setelah siap, Tzuyu melangkah keluar dari kamarnya dengan langkah mantap, menuju taman yang menjadi tujuan akhirnya. Ia bertekad untuk menyelesaikan rencananya dan meraih kesuksesan yang diidamkan.

Tzuyu terus melangkah, dan begitu tiba di luar, ia dengan sigap naik ke mobilnya yang terparkir rapi di halaman dan dengan cepat melaju menuju taman yang menjadi tujuan hatinya. Taman merpati, tempat yang dia yakini sebagai saksi keberhasilan rencananya kelak.

..................................................

Lalu keesokan harinya, setelah Suzy dan Min Ho ketahuan berlibur berdua, kini tampak Jisoo tengah menaiki taksi menuju taman merpati untuk menemui teman lamanya. Dalam hatinya, perasaan berkecamuk dan napas yang memburu terus mengiringi setiap gerakan, sementara jari-jarinya terus sibuk memainkan ponsel. Ia terus berbalas pesan dengan Taehyung hingga akhirnya sampai di taman yang tampak sepi.

Taman itu tersembunyi, terletak sedikit masuk ke dalam dan berada di pinggiran hutan. Jauh dari keramaian perumahan dan terpisah jauh dari hiruk pikuk jalan raya. Awalnya, Jisoo merasa ragu untuk turun, mengetahui bahwa taman merpati ternyata seperti ini. Namun, saat mengingat bahwa ini adalah undangan dari teman lamanya, ia mengumpulkan keyakinan dan bersiap-siap untuk melangkah keluar.

Tanpa ragu, Jisoo segera meraih tasnya dan turun dari taksi. Ia melangkah ragu ke arah taman yang indah di depannya, sambil terus menatap ke kanan dan kiri, memerhatikan sekeliling dengan perasaan deg-degan. Namun, begitu ia berdiri di tempatnya, pandangannya tertuju pada sosok yang mengenakan hoodie hitam, duduk di bangku di ujung taman. Keberadaannya membuat Jisoo merasa yakin dan dengan langkah mantap, ia melangkah ke arahnya.

Dengan langkah perlahan, akhirnya Jisoo tiba di hadapannya. Di hadapan sosok yang mengenakan hoodie hitam, yang menatap ke arahnya melalui topeng tebal yang ia kenakan.


"Ehm, permisi, kamu Jaehyun ya? kamu yang memanggilku kesini kemarin?" tanya Jisoo ragu. Ia segera duduk di sebelah orang itu. Duduk dengan ragu dan penuh kewaspadaan.

"Kamu lupa denganku, Kim Jisoo?" deg! Jisoo langsung terkejut sesaat mendengar orang itu berbicara dan ternyata dia bukanlah laki-laki. Dia perempuan dan naasnya Jisoo tau siapa dia.

"Tzuyu?? kau?? jadi kau yang memanggilku kesini kemarin? untuk apa kau memanggilku kesini?" tanya Jisoo tak percaya. Tak percaya jika dia adalah Tzuyu. Jisoo kenal siapa dia dan sangat mengenali suaranya. Benar, tidak salah lagi. Wanita ini adalah Tzuyu, Tzuyu mantan tunangan Taehyung.

"Untung tadi aku yang kesini bukan suruhanku. Kalau yang kesini suruhanku kan bisa bahaya. Dia tidak bisa menunggu lama dan sifat temperamennya itu sangat merepotkan." batin Tzuyu.

"Kau pikir aku teman lamamunya ya? hahaha, ternyata segitu mudahnya membodohimu. Segitu mudahnya aku untuk membawamu kesini. Huufftt ... sebenarnya aku tidak ada kepentingan khusus sih mengajakmu kesini. Aku hanya ingin mengantarkanmu ke neraka lebih cepat jika kamu tidak menuruti perintahku." ancam Tzuyu tajam dan sengit.

"Setelah ini dia pasti meninggalkan Taehyung. Pasti, aku yakin dia akan melakukannya. Karena siapa sih yang tidak takut kematian. Pastilah dia lebih sayang nyawanya daripada Taehyung. Huufftt ... oke, sepertinya aku harus menunggu sedikit lebih lama. Menunggu hingga dia mengiyakan perintahku. Ayo, katakan iya sekarang!" batin Tzuyu sembari tatapannya tetap menatap kearah Jisoo. Menatapnya tajam tanpa berkedip.

Bersambung ...

Cinta setelah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang