Hari itu, suasana di kantor Taehyung begitu tegang setelah serangan misterius oleh beberapa pria bertopeng sehari sebelumnya. Taehyung sendiri masih terkejut dengan kejadian tersebut, namun yang lebih mengejutkan adalah ketika para polisi tiba-tiba menangkap Jennie dan Seokjin sebagai tersangka utama di balik serangan tersebut dan memanggil Taehyung ke kantor polisi untuk memberi penjelasan.
Taehyung ditemani Jisoo segera pergi ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan. Mereka tidak bisa percaya bahwa Jennie dibantu oleh Seokjin bisa melakukan hal seperti itu. Jisoo marah besar pada Jennie, merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Atau lebih tepatnya mantan sahabat.
"Kenapa kau tidak juga mau berhenti, Jennie? Apa yang kau mau sebenarnya?! kenapa kau menyuruh orang untuk menyerang kantor suamiku?!" bentak Jisoo dengan suara gemetar.
Jennie hanya terdiam, wajahnya terlihat panik. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Jisoo. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk menyerang kantor Taehyung."
Namun Jisoo maupun Taehyung tidak percaya pada kata-kata Jennie. Jisoo merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mantan sahabatnya itu. Taehyung pun ikut angkat bicara, "Jennie, kau jangan berkilah lagi. Cepat katakan semuanya pada kami sekarang. Apa maksudmu dan Seokjin menyuruh orang untuk menyerang kantorku?!"
Jennie tetap enggan mengakui, hingga akhirnya sesi interogasi selesai dan Jennie beserta Seokjin ditahan sementara sampai penyelidikan selesai. Taehyung dan Jisoo pulang dengan hati yang berat. Mereka tidak pernah menyangka bahwa ambisi Jennie bisa sampai sejauh ini. Semuanya terasa sangat gila, terlebih lagi dengan keterlibatan Seokjin. Bagaimana Jennie mengenal Seokjin? Apakah mereka berteman? Dan sejak kapan mereka saling mengenal?
Di ruang tamu apartemennya, Jisoo duduk di sofa sambil menatap layar televisi yang menyala tanpa tujuan. Hatinya gelisah, tidak bisa menahan rasa cemas yang menghantui pikirannya sejak tadi siang. Tiba-tiba, pintu apartemennya terbuka dan Taehyung masuk dengan langkah mantap, membawa angin segar ke dalam ruangan.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Taehyung serius.
Jisoo menoleh ke arah Taehyung, wajahnya penuh tanda tanya. "Ada apa, sayang? Kenapa kamu terlihat begitu serius?"
Taehyung duduk di sebelah Jisoo, mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai berbicara. "Papa meminta aku pergi ke Korea minggu depan. Perusahaannya disana sedang mengalami masalah dan dia ingin aku mengecek langsung keadaannya di sana."
Jisoo terkejut mendengar kabar tersebut. "Korea? Minggu depan? Tapi, bagaimana dengan kita? Maksudnya aku dan Hyun Woo, kamu disana tidak akan lama kan? aku pasti akan sangat merindukanmu jika kamu pergi kesana,"
Taehyung menatap Jisoo dengan penuh penyesalan. "Aku tahu ini tiba-tiba, sayang. Tapi, aku tidak punya pilihan. Aku harus menuruti permintaan papa. Ini juga untuk kebaikan perusahaan keluarga kita."
Jisoo merasa sedih mendengar penjelasan Taehyung. Namun, dia juga mengerti bahwa Taehyung tidak bisa menolak permintaan papanya. "Baiklah, Sayang. Aku mengerti. Kamu harus pergi ke Korea. Aku dan Hyun Woo akan menunggumu di sini."
Taehyung tersenyum lega mendengar kata-kata pengertian dari Jisoo. "Terima kasih, Sayang. Aku janji akan kembali secepat mungkin. Dan setelah aku kembali aku akan mengajak kamu dan Hyun Woo untuk pergi liburan bersama ke Jepang. Kita akan menjelajahi negara sakura itu dan menciptakan kenangan-kenangan manis dan indah disana."
Jisoo tersenyum mendengar janji Taehyung. "Aku sangat menantikan momen itu, Sayang. Kita akan memiliki liburan yang luar biasa di Jepang dan menciptakan kenangan yang tak terlupakan bersama Hyun Woo."
Mereka berdua duduk di sofa, saling berpelukan dalam keheningan yang nyaman. Walaupun ada rasa sedih karena kepergian Taehyung, mereka berdua tahu bahwa cinta mereka akan tetap kuat dan tak tergoyahkan. Mereka akan menjaga api cinta mereka tetap menyala, walaupun jarak memisahkan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta setelah Cinta
Fanfiction"Dasar wanita murahan, apa dengan menggoda suamiku seperti ini kau merasa hebat, hah?!" ucap Jisoo dengan suara yang penuh amarah. Jennie menoleh ke arah Jisoo dengan tatapan yang penuh keterkejutan. Ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini pasti ter...
