Episode 109. Panggil Mas saja

79 5 0
                                        

Setibanya Taehyung di tempat di mana dirinya akan bertemu dengan klien dari luar kota, tampak Jennie berada di dalam cafe itu seorang diri.

Atensi gadis itu tampak serius menatap ke arah layar ponselnya. Sebelum akhirnya Taehyung menghampirinya dan menepuk pundaknya dari belakang.

"Serius banget Jen, ngapain sih?" tanya Taehyung sembari beranjak duduk di kursi kosong di sebelah Jennie.

Lalu Jennie yang mengetahui kedatangan Taehyung dan Taehyung yang langsung mengejutkannya membuatnya sedikit salah tingkah. Dengan cepat, ia meletakkan ponselnya dengan hati-hati di atas meja dan berusaha mengalihkan pandangannya ke sekeliling, berharap dapat menyembunyikan perasaan groginya.

"Ehm, saya lagi chattingan sama teman saya Pak. Dia habis lahiran jadi rencananya saya besok atau enggak lusa mau ke tempat dia buat tengokin anaknya. Ehm, bapak sendiri baru sampai di sini?" tanya Jennie.

"Iya, baru sampai saya. Tadi saya harus nganterin istri saya pulang dulu baru setelah itu langsung kesini. Oh iya, saya kerasa tua banget ya waktu kamu manggil bapak-bapak gitu. Panggil Mas aja lah atau nggak nama. Biar rasanya lebih akrab." sahut Taehyung. Dia merasa tidak nyaman dengan Jennie yang menyebutnya bapak.

Rasanya dia merasa sudah terlalu tua ketika Jennie memanggilnya 'bapak'.

"Hehe, iya deh m-mas, saya panggil itu sekarang. Bahasanya pun saya akan pakai aku kamu biar rasanya nggak kaku. Tapi kalau lagi di kantor atau ketemu klien seperti ini lebih baik manggilnya tetap bapak ya dan bahasanya pun pakai saya anda biar dirasanya sopan." Jennie tampak begitu malu memanggil Taehyung dengan sebutan Mas dan mengatakan itu semua.

Rasanya tidak sopan baginya memanggil seseorang yang adalah bosnya dengan panggilan seperti itu. Meskipun di dalam hatinya, dia sangat ingin memanggilnya seperti itu.

"Oh ya tentu dong. kalau sama klien atau pas kita lagi meeting kamu manggilnya emang harus seperti itu. Tapi kalau pas lagi santai atau enggak ada kerjaan kamu manggilnya yang tadi saya bilang aja biar kesannya lebih santai, nggak kaku. Oh iya, Jen. Kliennya udah sampai mana? kok belum sampai-sampai." tanya Taehyung sesaat mengetahui klien yang akan bertemu dengannya tidak kunjung tiba di tempat dimana mereka janjian untuk bertemu.

Waktu janjian mereka untuk bertemu seharusnya pukul 10.00 pagi, namun sudah lebih dari 15 menit berlalu dan mereka belum juga datang.

"Tadi pas saya chat sih sudah otw ke sini. Mungkin sebentar lagi sampai." balas Jennie sembari memeriksa ponselnya. Apakah ada pesan dari client tersebut atau tidak. Namun, setelah dia memeriksa ponselnya ternyata tidak ada satupun pesan dari klien tersebut.

Lalu setelah menunggu beberapa saat tibalah klien itu di tempat di mana dirinya dan Taehyung akan melakukan suatu meeting penting. Setibanya di sana klien itu mengatakan beribu-ribu maaf kepada Taehyung karena sudah terlambat datang.

Kondisi jalanan yang macet serta berkas-berkas yang ketinggalan menjadi alasan utama klien itu untuk terlambat datang.

"Baik Pak, tidak masalah. Ehm, untuk mempersingkat waktu bisa kita mulai sekarang?" lalu setelah beberapa saat bernegosiasi, meeting itu pun dimulai.

Mereka terlibat dalam percakapan yang begitu mendalam dan penuh makna selama hampir setengah jam. Topik-topik yang beragam diangkat, ide-ide saling berpadu, dan pandangan-pandangan saling bertaut. Waktu terasa berlalu begitu cepat, seolah-olah dunia di sekitar mereka pun ikut terhanyut dalam diskusi yang begitu hidup.

Namun, seperti semua pertemuan yang memiliki batas waktu, akhirnya meeting itu pun harus berakhir. Klien dengan langkah terburu-buru mengucapkan terima kasih kepada Taehyung dan Jennie. Ada sesuatu yang tampak membebani pikirannya, seolah ada urusan mendesak yang menantinya di luar sana.

Mereka berpisah dengan salam hangat, meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa-gesa. Taehyung dan Jennie melihat klien itu pergi dengan perasaan campur aduk. Ada rasa puas karena pertemuan berjalan lancar dan ide-ide yang berharga telah terbagi, tetapi juga ada kekhawatiran yang menghampiri. Apa yang membuat klien itu terburu-buru? apakah ada sesuatu yang harus segera dihadapinya?

"Buru-buru banget dia. Kayak istrinya mau lahiran aja." ucap Taehyung mengetahui klien yang baru saja bertemu dengannya itu pergi meninggalkannya dengan langkah terburu-buru dan sorot muka yang penuh kekhawatiran.

"Mungkin masih ada urusan lain kali pak." sahut Jennie.

Lalu tiba-tiba saja perut Taehyung berbunyi. Menandakan dirinya mulai merasa lapar saat ini. Memang saat ini sudah menjelang jam 12.00 siang. Sudah waktunya makan siang. Namun, Taehyung tidak mengira jika perutnya akan berbunyi dengan keras seperti itu. Ia merasa malu dengan kejadian tersebut.

"Hehe, Jen. Udah jamnya makan siang nih Kita makan yuk. Kamu pesen apa aja deh terserah nanti saya yang bayar." ucap Taehyung.

Jennie sempat tersenyum mendengar bunyi perut Taehyung dan juga Taehyung yang menawarkan untuk makan siang dengannya.

"Mas laper ya? hehe, iya mas. Siap. Saya pesen ya," setelahnya tampak Jennie mengangkat tangannya memanggil waiters di cafe itu untuk memesan.

Ada beberapa saat lamanya waiters itu datang sebelum akhirnya Jennie dan Taehyung memesan makanan yang mereka inginkan.

"Ehm, Jen. Dua hari lagi kita harus mengecek kerjaan di luar kota. Tepatnya di Surabaya. Kamu siapkan kalau kita berangkat ke sana?" tanya Taehyung setelah mengingat jika beberapa hari lagi dia harus ada mengecek kerjaannya di luar kota, namun itu tentu harus bersama dengan Jennie selaku sekretaris pribadinya.

Awalnya Jennie tampak menimbang-nimbang dan berpikir dengan ajakan Taehyung itu atau lebih tepatnya perintahnya. Namun, setelah menyadari jika itu sudah menjadi kerjaannya Jennie pun mengagungkan kepalanya dan tersenyum ke arah Taehyung.

"Oh siap mas. Saya bersedia kapan saja kalau Mas mau mengecek kerjaan di luar kota. Tapi di sana nanti kita akan berapa lama terus kita tinggalnya di mana?" tanya Jennie kemudian.

"Ada hampir tiga harian. Tinggalnya di hotel. Saya sudah pesan dua kamar untuk kamu dan saya. Terus saya juga sudah pesankan tiket pesawatnya juga, jadi kita tinggal berangkat saja." sahut Taehyung.

...................................................

Sementara itu, di rumah Suzy, suasana hangat dan penuh kasih tercipta di antara Jisoo, anaknya, dan adiknya. Mereka duduk bersama di atas ranjang yang sama, menciptakan momen kebersamaan yang indah.

Jisoo dengan lembut mensejajarkan anaknya dan adiknya di sampingnya. Ia merasa begitu bahagia melihat mereka berdua bersama, merasakan kehangatan keluarga yang tak tergantikan. Dengan lembut, ia mengusap-usap kepala mereka, memberikan sentuhan sayang yang penuh kasih.

Sembari tersenyum, Jisoo mencium kening mereka secara bergantian. Setiap ciuman itu melambangkan rasa sayang yang tak terhingga, mengisi ruangan dengan aroma kehangatan dan kebahagiaan.

"Hyun Woo, Dain, cepat besar ya kalian. Rasanya nggak sabar banget nunggu kalian besar terus bisa main sama-sama. Mama, Kakak sayang banget sama kalian." ucap Jisoo setelah ia mengecup kening mereka dengan penuh kasih sayang.

"Oh iya, ini Taehyung udah selesai belum ya ketemu sama kliennya? udah satu jam lebih loh bahkan hampir dua jam kok dia belum ada kabarin aku sih? Apa belum selesai meeting sama kliennya, kayaknya iya deh. Ya udahlah aku ganti popok Hyun Woo aja, tadi kayaknya dia ngompol deh." ucap Jisoo sembari beranjak mengambil popok persediaan Hyun Woo dari dalam almarinya. Ia merasa perlu untuk mengganti popok anaknya dengan yang baru.

Bersambung ...










Cinta setelah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang