Tok ...
Tok ...
Tok ...
Lalu beberapa saat setelah Jisoo, Suzy dan juga Yerim selesai dengan masakan mereka dan menata rentetan makanan itu di atas meja makan, mereka bertiga tampak berjalan kembali ke depan dan Jisoo yang saat itu memang tengah menunggu Jennie datang, tampak berjalan ke ruang tamu dan menunggu kedatangan Jennie di sana. Ia terlihat duduk di sofa di ruang tamu dan sedari awal ia duduk hingga tampak terdengar suara ketukan dari pintu, Jisoo terus-menerus mengusap-usap perutnya yang kini semakin membesar.
Rasanya semakin berat setiap kali Jisoo bergerak, namun kebahagiaan memenuhi hatinya karena sebentar lagi, seorang malaikat kecil akan hadir dalam keluarga mereka. Malaikat kecil ini akan melengkapi keluarga mereka, membawa kebahagiaan yang mampu menyembuhkan luka-luka masa lalu.
Tidak lama lagi, dua bayi kecil akan hadir dalam keluarga mereka. Selain Jisoo, Suzy juga akan segera melahirkan. Menurut perkataan dokter, jarak antara kelahiran mereka tidak akan terlalu lama, mungkin hanya dalam satu minggu. Jadi jika anak mereka lahir nanti dan besar mungkin mereka akan memiliki tubuh yang sama dan umur yang sama.
Jisoo tak bisa membayangkan bagaimana wujud anak-anak mereka ketika mereka dewasa, dan bagaimana mereka akan bermain bersama. Rasa tak sabar meluap dalam dirinya, ia tak sabar menunggu saat itu tiba.
Ketika suara ketukan pintu terdengar berulang kali, Jisoo bangkit dari duduknya dengan hati-hati. Ia berjalan perlahan menuju pintu, membukanya. Di hadapannya, Jennie tersenyum sambil membawa sebuah kotak di tangannya. Gadis itu masih cantik seperti dulu, senyumnya yang indah membuat Jisoo terpesona, sejenak melupakan bahwa mereka seumuran. Hampir saja Jisoo mengira Jennie masih berusia belasan tahun, melihat tubuh dan wajahnya yang masih segar seperti seorang pelajar. Benar-benar cantik!
Setelah melihat Jennie tiba di depan rumahnya, Jisoo dengan cepat mempersilahkan Jennie masuk dan duduk di sofa ruang tamu bersamanya. Jennie membantu Jisoo duduk, lalu dengan penuh kasih sayang mengelus perut Jisoo.
Senyum terus menghiasi wajah Jennie saat ia mengusap perut Jisoo, dan ia merasakan tendangan lembut dari sang buah hati di dalam sana.
"Jis, tadi anakmu nendang loh. Wah, udah bisa nendang aja dia." ucap Jennie terpesona saat merasakan tendangan di perut Jisoo ketika ia mengelusnya dengan lembut. Dia tidak bisa menahan senyuman melihat reaksi bayi di dalam sana.
Jisoo ikut tersenyum dan ikut mengusap-usap perutnya sendiri. Ternyata, bayi di dalam perutnya sudah mulai aktif menendang-nendang dengan semangat.
"Iya Jen. Udah bisa nendang aja dia, nggak sabar banget aku buat melihat dia lahir dan meluk dia dengan hangat. Rasanya tinggal menghitung hari aja ya sampai hari itu tiba. Nggak sabar banget aku rasanya untuk segera melahirkan dia dan melihat adikku lahir. Seperti apa mereka nanti saat lahir dan besar. Apakah mereka akan seperti anak kembar? ah, rasanya nggak sabar banget."
Jisoo dipenuhi kebahagiaan dan rasa tak sabar yang tiada tara saat ia membayangkan kelahiran anaknya sendiri dan juga adiknya yang sedang dikandung oleh Suzy. Kebahagiaan itu begitu mendalam, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Setiap detik terasa seperti sebuah kilatan yang membawa mereka semakin dekat dengan hari yang ditunggu-tunggu.
Setiap hari, Jisoo merasakan getaran kehidupan yang berkembang di dalam dirinya dan dalam perut Suzy. Ia tak sabar untuk melihat wajah-wajah mungil yang akan segera menghiasi keluarga mereka. Setiap kali Jisoo memikirkan momen itu, hatinya berdesir dengan kegembiraan yang tak terkira. Ia merasa seperti melayang dalam mimpi indah yang tak lama lagi akan menjadi kenyataan.
Rasanya waktu berlalu begitu lambat bagi Jisoo, setiap detik terasa seperti sebuah perjalanan yang panjang. Namun, di balik rasa tak sabar itu, ia juga merasakan keajaiban yang hadir dalam setiap momen. Setiap gerakan bayi di dalam rahimnya dan Suzy adalah pengingat betapa ajaibnya proses kehidupan yang sedang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta setelah Cinta
Fiksi Penggemar"Dasar wanita murahan, apa dengan menggoda suamiku seperti ini kau merasa hebat, hah?!" ucap Jisoo dengan suara yang penuh amarah. Jennie menoleh ke arah Jisoo dengan tatapan yang penuh keterkejutan. Ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini pasti ter...
