Jennie dengan muka merahnya, tangan tangan yang mengepal erat segera berjalan mendekati Jisoo. Dia berhenti tepat di hadapan Jisoo, tangannya menarik kuat kerah Jisoo, membuat mereka saling berhadapan. "Maaf nggak akan berarti apa-apa, Jisoo! Kakakku, Joohyun Unnie sudah meninggal. Dia meninggal karenamu, karena ulahmu!" makian Jennie mampu mengiris hati Jisoo, ia hanya mampu terdiam dan bersabar. Menahan gejolak amarahnya, karena ia tahu, Jennie sedang berduka sekarang.
Kakaknya meninggal. Tapi tunggu! Kakaknya meninggal?! benarkah?!
Dengan kedua mata terbuka lebar, bibir yang terlihat bergetar, Jisoo membalas. "Me-meninggal?? benarkah? Jangan bohong Jen. Kematian itu hal yang serius, tidak bisa di bawa mainan!" Jisoo mencoba menyangkal ucapan Jennie mengenai kakaknya yang meninggal.
Sebelumnya Jisoo sudah mengucap bela sungkawa, namun rupanya ia tidak tahu jika Joohyun, kakak Jennie sudah tiada.
Plakkk ...
"Bangsatt!! gue serius anjirrr!! Kakak gue matii dan itu karena Lo! Lo harus tanggung jawab Jisoo." Jennie segera saja menampar keras pipi Jisoo, hingga membuat Jisoo oleng dan mundur satu langkah ke belakang.
Ia segera saja mengusap pipinya yang di tampar Jennie, rasanya panas, perih, tapi itu bukan apa-apa. Rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.
Jisoo segera saja mengalihkan pandangannya kearah Jennie, matanya berkaca-kaca. "Kamu nampar aku, Jen?" Jisoo terlihat sakit akibat tamparan Jennie. Ini adalah kali pertama semenjak berteman dengan Jennie dan Jennie menamparnya. Tamparan itu begitu keras, sakit bila di rasakan. Namun, Jisoo paham jika Jennie sedang terluka akibat kehilangan kakaknya.
Ia tidak membalas perlakuan Jennie padanya. Ia hanya menatapnya nanar, sedih dan mulai meneteskan air matanya.
Lalu Taehyung yang sedari tadi terpaku akibat perlakuan tiba-tiba Jennie pada Jisoo, segera menarik bahu Jisoo menjauh saat ia lihat Jennie sudah hendak melayangkan tangannya. "Stop. Ini bukan salah Jisoo, Jen. Ini salah kakakmu sendiri. Jika kakakmu tidak mengajak Jisoo ke sana, pasti dia nggak akan seperti ini." Taehyung terus membela Jisoo. Menyembunyikan Jisoo di sebalik tubuhnya.
"Dia nggak akan jatuh sampai akhirnya meninggal. Jika ada yang bisa di salahkan dalam hal ini, ya salahkan saja kakakmu itu. Kenapa dia sembrono sekali sampai mengajak istriku ke tempat itu dan hendak menjatuhkannya. Jika saja aku tidak kasihan padamu, aku pasti akan mengambil tindakan. Kakakmu sudah mau menjatuhkan istriku dari rooftop, Jen! pikirkan. Setelah apa yang kakakmu lakukan pada Jisoo, bagaimana bisa kamu menuduhnya seperti ini?" tambah Taehyung murka. Matanya tampak menatap nyalang dan tajam kearah Jennie. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
Dia sudah tidak tahan lagi. Kebanyakan diam hanya karena dia perempuan, tidak tega untuk akan mengambil tindakan, membuat Taehyung hampir saja kehilangan Jisoo.
Jennie yang mengetahui Taehyung begitu marah padanya, bahkan menatapnya begitu tajam segera saja menangis. Tubuhnya bergetar, tangannya yang semula ingin kembali menampar Jisoo, segera saja luruh, terjatuh lemas ke bawah.
"Kakakku melakukan ini karena dia menyayangiku, Tae. Aku adiknya, dia sebagai kakak pasti ingin membuat adiknya bahagia. Ingin memenuhi keinginanku. Aku mencintaimu, aku mengatakan padanya jika aku menginginkanmu, jadi mungkin dia sampai melakukan ini hanya demi mendapatkanmu untukku ...,"
"Tae, aku benar-benar mencintaimu, tidak bisakah kamu kasihan denganku sedikit saja? Terima cintaku dan menikahlah denganku. Aku tidak masalah jika kamu mau menjadikanku istri kedua. Aku rela, aku ikhlas, asalkan dengan itu aku bisa menikah denganmu. Tae, kumohon," Jennie terlihat mengemis-ngemis cinta pada Taehyung. Dia dengan penuh percaya diri, tanpa rasa malu sedikitpun segera saja meraih tangan Taehyung dan memohon mohon padanya.
Namun Taehyung yang mengetahui Jennie masih juga seperti ini, segera saja menepis tangan Jennie dari tangannya. "Kamu sudah gila ya? Tidak waras? Kakakmu baru meninggal, tapi kamu malah memohon mohon cinta padaku seperti ini?! Apa yang kamu pikirkan, Jen? Sudahlah, tidak perlu berjuang lagi untuk mendapatkanku, aku tidak akan pernah menerima cintamu." ujar Taehyung.
Mata Jennie merebak. Air matanya kembali luruh, membasahi wajahnya. "Jika tidak mau menerima cintaku, maka pergilah." Jennie sudah membalikkan badannya dan hendak berjalan, namun panggilan lembut dari Jisoo berhasil menghentikannya.
"Jen, aku ingin melihat kak Joohyun. Izinkan aku masuk sekali saja," pinta Jisoo dengan suara penuh harap.
Jennie berhenti sejenak, matanya memandang tajam ke arah Jisoo. "Masuk? Setelah apa yang kau lakukan, kau mau masuk dan melihat kakakku?! Tidak, Jis. Tidak akan pernah. Kau dan Taehyung lebih baik pergi dari sini, atau ku panggilkan satpam buat menyeret kalian pergi dari sini. Pergi!!" usir Jennie. Ia dengan langkah tergesa-gesa segera berjalan masuk ke dalam ruang ICU, meninggalkan Jisoo dan Taehyung yang masih terdiam di tempat mereka.
Jisoo merasa hatinya terasa berat, terbebani oleh rasa bersalah yang tak dapat dia hilangkan. Meskipun dia tahu bahwa ini bukanlah kesalahannya, tetapi kemarahan Jennie dan tuduhan yang dilontarkan padanya membuatnya semakin terpuruk.
Taehyung yang melihat kesedihan di wajah Jisoo segera mengambil keputusan untuk membawa Jisoo pergi dari sana, kembali ke apartemen mereka. Dia menyadari bahwa Jisoo membutuhkan waktu dan ruang untuk merenung dan melepaskan rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Saat mereka tiba di apartemen, Jisoo duduk di sofa dengan wajah yang muram dan tegang. Penuh dengan kegelisahan dan perasaan bersalah yang terus menggerogoti pikirannya. Taehyung duduk di sampingnya, memberikan dukungan dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Sayang, kamu harus tahu bahwa ini bukanlah kesalahanmu. Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi," kata Taehyung dengan suara lembut, mencoba menghibur Jisoo.
Jisoo mengangguk perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia tahu bahwa Taehyung benar, tapi rasanya begitu sulit untuk menerima kenyataan yang ada di depan matanya.
"Apa yang harus aku lakukan, sayang?" tanya Jisoo, suaranya penuh dengan keputusasaan.
Taehyung menggenggam tangan Jisoo dengan erat, mencoba memberinya kekuatan. "Kamu harus tetap tenang, sayang. Jangan terus berpikir jika ini adalah kesalahanmu. Bersabarlah, tetap berpikir positif dan yakin, setelah ini tidak akan terjadi apapun yang akan merugikan kita. Semua akan baik-baik saja, oke."
Mereka berdua duduk di ruang tamu yang sunyi, mencoba merenungkan segala kejadian yang baru saja terjadi. Suasana tegang terasa di udara, dan keduanya terlihat tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba, pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah terbuka dengan pelan, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. Langkah tergesa terdengar saat seorang wanita muda melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ekspresi gelisah dan panik terpancar jelas dari wajah cantiknya, mencerminkan kekacauan yang melanda pikirannya saat dia mendekati Jisoo dan Taehyung.
Wanita itu adalah Park Soojin, baby sitter dan art yang bekerja di apartemen mereka untuk mengurus Hyun Woo dan juga menjaga kebersihan dan memenuhi kebutuhan Jisoo dan Taehyung selama mereka berada di apartemen.
"Maaf, Bu Jisoo, Pak Taehyung. Hyun Woo demam tinggi. Saya tidak tahu harus bagaimana," ucap baby sitter dengan wajah panik.
Jisoo segera bangkit dari duduknya. "Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit. Tidak ada waktu untuk menunggu."
Mereka segera mengambil Hyun Woo dan membawanya ke mobil. Taehyung menyetir dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Dokter segera memeriksa kondisi Hyun Woo dan memberikan penanganan yang diperlukan.
"Hyun Woo akan baik-baik saja, tapi dia harus dirawat di sini untuk beberapa hari," kata dokter kepada Taehyung dan Jisoo.
Mereka merasa lega mendengar kabar baik tersebut. Mereka tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada putra kecil mereka.
Selama Hyun Woo dirawat di rumah sakit, Taehyung dan Jisoo bergantian menjaga di sampingnya. Mereka berjanji akan selalu melindungi dan merawat anak kesayangan mereka dengan sebaik mungkin.
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta setelah Cinta
Fanfic"Dasar wanita murahan, apa dengan menggoda suamiku seperti ini kau merasa hebat, hah?!" ucap Jisoo dengan suara yang penuh amarah. Jennie menoleh ke arah Jisoo dengan tatapan yang penuh keterkejutan. Ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini pasti ter...
