Episode 118. Kenangan yang Akan Terus Terpatri

83 7 0
                                        

"Loh sayang, kamu kenal sama Jennie?" tanya Taehyung sewaktu melihat Jisoo menyapa Jennie dengan begitu hangat, namun Jennie yang disapa justru tetap diam dan mengacuhkannya.

Lalu Jisoo pun menganggukkan kepalanya. "Dia temanku sayang, itu loh temanku yang selalu datang buat jengukin anak kita. Yang selalu bawain anak kita itu mainan. Ya, Aku kaget sih sewaktu melihat dia kerja di sini, karena dia nggak pernah bilang kerjanya itu di mana, cuma bilang kalau dia kerjanya itu di bidang sekretaris tapi soal di mananya dia nggak bilang ...,"

"Astaga ternyata dia kerja di perusahaan kamu ya. Udah dari kapan Sayang, kok kamu nggak bilang sama aku sih kalau sekretaris kamu itu Jennie." Jisoo tampak penasaran sekali dengan kapan Jennie kerja di perusahaan Taehyung dan bagaimana pengalaman temannya saat berada di sana.

Rasanya Jisoo excited banget sewaktu mengetahui hal ini, dia begitu senang, namun juga bingung kenapa reaksi Jennie seperti itu sewaktu melihatnya.

"Udah lebih dari 5 bulanan kali. Udah dari lama. Lupa aku. Maklumlah kerjaanku banyak, jadi ya soal kayak gitu aku jelas lupa. Ehm, maaf ya, aku lupa bilang ke kamu soal sekretarisku itu. Sebenarnya dulu aku cari sekretaris itu cowo, tapi nemunya malah cewe. Aku nggak pengen terjadi yang nggak-nggak kalau sekretarisku itu cewe. Tapi ya gimana sudah juga nemuinnya. Oh iya sayang, kita keluar yuk, lunch. Udah mau tengah hari kan ini. Kita langsung gas aja cari makan di luar." ajak Taehyung.

"Nanti dulu, aku mau ketemu Jennie. Ehm, ruangan Jennie dimana ya, aku mau ngobrol bentar sama dia," rupanya Jisoo ingin mengobrol dengan temannya itu. Seperti bunga yang merindukan sinar matahari, Jisoo merasa hatinya berdesir dengan antusiasme.

Tak lama kemudian, Taehyung dengan lembut menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Ia dengan penuh perhatian mengantarkan Jisoo ke ruangan tempat Jennie berada. Di antara lorong yang sunyi, Jisoo merasa sentuhan hangat persahabatan mereka mengalir dalam setiap langkah.

Namun, Taehyung memilih untuk menunggu di luar ruangan. Ia merasa tak enak hati untuk mengganggu obrolan intim mereka. Seperti penjaga setia, Taehyung berdiri tegak di pintu ruangan, menunggu dengan sabar sambil memperhatikan setiap detail yang terjadi di sekitarnya.

Tok ...

Tok ...

Tok ...

Dengan hati yang berdebar, Jisoo menghentikan ketukan pintu ketiga. Ia memutar gagang pintu perlahan dan menyusup ke dalam ruangan Jennie. Di dalam, Jisoo melihat Jennie tengah sibuk dengan berkas-berkas yang terhampar di tangannya. Namun, pandangan Jennie tidak berpaling sedikit pun saat Jisoo memasuki ruangan.

Seperti seorang penjelajah yang menemukan tanah baru, Jisoo merasa terpesona oleh suasana misterius yang mengelilingi mereka. Ruangan itu dipenuhi dengan aroma tinta dan kertas yang menggugah imajinasi. Jisoo merasakan getaran kegigihan dan dedikasi yang terpancar dari setiap sudut ruangan tersebut.

"Jen, kamu sibuk?" tanya Jisoo, namun Jennie tidak menjawab. Dia terus terdiam dan sepenuhnya fokus pada berkas-berkas yang ada di hadapannya.

"Jen," dan di panggilan ketiga yang terdengar, Jennie segera mengalihkan pandangannya ke arah Jisoo. Tatapannya terlihat tajam, menyiratkan kehadiran emosi yang tak terucapkan. Namun, hanya dalam hitungan detik, ekspresi wajah Jennie berubah.

Sebuah senyuman terukir di wajah Jennie, meskipun Jisoo tahu bahwa senyuman itu hanya sebuah keterpaksaan.

"Maaf tadi aku sedang sibuk. Tidak melihatmu masuk. Ada apa?" tanya Jennie.

"Tidak ada kok. Aku cuma ingin mengobrol denganmu saja. Kamu ternyata kerja di sini ya, pantas saja selalu sibuk dan jarang menemuiku. Bagaimana kesanmu kerja di sini, di perusahaan suamiku?" tanya Jisoo dengan penuh antusias. Namun, Jennie, yang mendengar kata-kata suami, tiba-tiba berubah menjadi murung. Seakan ada gelombang emosi yang melintas di wajahnya, atau mungkin dia tidak menyukai kata-kata tersebut.

"Baik, nyaman, aku betah kerja di sini." balas Jennie sembari memfokuskan pandangannya kembali pada berkas-berkas yang ada di tangannya.

"Jen--"

"Jisoo!! aku sedang sibuk, kerjaanku banyak, jika kamu datang kesini tidak ada hal penting mending pergi aja deh. Jangan ganggu aku, aku masih harus ngerjain berkas ini. Besok ada meeting, jadi aku harus cepat. Please, kumohon pergilah, aku sedang ingin sendiri." tiba-tiba, Jennie tampak begitu emosional. Wajahnya memerah, dan matanya memancarkan kemarahan yang tak terbendung. Dalam suara yang tinggi, Jennie membentak Jisoo, membuatnya terkejut dan terpaku di tempat.

Terkejut dan bingung, Jisoo merasa dorongan kuat untuk meraih tangan Jennie dan menggenggamnya erat. Ia ingin tahu apa yang membuat Jennie marah seperti ini dan ingin memberikan dukungan. Namun, Jennie terus menunjuk pintu dengan tegas, memberi isyarat agar Jisoo pergi. Dengan sedih, Jisoo mengurungkan niatnya dan meninggalkan ruangan Jennie.

........................................

"Loh sayang, udah ngobrolnya, kok bentar banget?" tanya Taehyung dengan raut wajah penuh keheranan saat melihat Jisoo keluar dari ruangan Jennie.

Jisoo tersenyum lembut, mencoba menjelaskan situasi dengan bijak.
"Dia lagi sibuk, aku nggak bisa ganggu dia. Kita makan aja yuk, tadi kamu ajakin makan kan?" sahut Jisoo, berusaha terlihat baik-baik saja, meski sebenarnya ia terluka. Jawaban Jennie sangat menyakiti hatinya. Tidak biasanya Jennie membentaknya seperti ini.

Mendengar jawaban Jisoo, Taehyung mengangguk mengerti. Dia tahu betapa pentingnya memberikan ruang bagi orang lain ketika mereka sedang sibuk. Dalam kebersamaan mereka, Taehyung dan Jisoo memahami arti dari saling menghargai dan mendukung satu sama lain.

Mereka berdua berjalan bersama, menuju restoran terdekat. Di sepanjang jalan, mereka berbagi cerita dan tawa, menciptakan suasana yang penuh kehangatan dan keakraban. Saat tiba di restoran, mereka memilih meja yang nyaman dan duduk dengan penuh kegembiraan.

Sembari menikmati hidangan lezat di hadapan mereka, mereka saling mendengarkan dan menghibur satu sama lain. Percakapan mereka dipenuhi dengan tawa dan canda yang mengalun, menciptakan momen yang tak terlupakan.

Di tengah riuhnya restoran yang ramai, mereka merasa seolah dunia hanya milik mereka berdua. Sinar matahari yang masuk melalui jendela restoran menambah kehangatan dalam suasana. Mereka merasakan getaran kebersamaan yang kuat, seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi mereka momen indah yang tak tergantikan.

Setiap suap hidangan lezat memberikan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aroma makanan yang menggugah selera mengisi udara, memperkuat ikatan cinta yang terjalin di antara mereka.

Dalam percakapan yang penuh keceriaan, mereka saling berbagi cerita, harapan, dan kegelisahan. Setiap kata yang diucapkan menjadi benang yang mengikat hati mereka lebih erat, memperkuat ikatan yang tak terpisahkan.

Tawa mereka bergema di antara dinding restoran, menciptakan riak kebahagiaan yang menular ke setiap pengunjung. Suasana penuh keceriaan dan kehangatan melingkupi mereka, menciptakan kenangan yang akan terus terpatri dalam ingatan.

Bersambung ...

Cinta setelah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang