Episode 115. Hanya Mimpi; Semuanya Sebatas Khayalan

105 8 4
                                        

"Aduh!" Jennie sontak mengaduh kesakitan sewaktu mendapati kepalanya digetok dengan suatu benda. Dan karena getokan itu dia tersadar dan membuka matanya.

Mendapati dirinya tengah berada di dalam ruangannya, Jennie merasa terkejut. Bukankah dia baru saja berada di taman bersama Taehyung? Bagaimana bisa dia tiba-tiba berada di ruangannya? Terlebih lagi, saat Jennie menegakkan kepalanya, dia melihat Taehyung berdiri di hadapannya dengan wajah marah.

"Kamu itu niat kerja atau tidak sih Jennie?! Dari tadi kamu bukannya kerja malah tidur. Saya dari tadi nelponin kamu, minta kamu ke ruangan saya buat ngambilin sebuah berkas buat meeting besok. Tapi kamu nggak nyaut-nyaut. Sebenarnya kamu kenapa? Kalau sakit mending pulang nggak usah kerja." ujar Taehyung dengan nada kesal.

Jennie masih tidak bisa mempercayai apa yang terjadi. Bukankah dia sedang berada di taman bersama Taehyung? Taehyung yang baru saja mengajaknya berpacaran? Mengapa Taehyung mengatakan bahwa dia sedang tidur? Apakah semua yang dialaminya hanya sebatas mimpi? Tapi rasanya begitu nyata. Jennie tidak bisa menerima jika semua yang dialaminya hanyalah khayalan semata. Dia sudah terlanjur bahagia dengan apa yang terjadi.

Jennie bangkit dari duduknya dan mendekati Taehyung, ingin memeluknya. Namun, saat Jennie mencoba memeluknya, Taehyung menghindar.

"Apa yang kamu lakukan, Jennie?" tanya Taehyung dengan kaget. Dia menatap Jennie dengan tatapan aneh, penuh cinta dan harapan.

"Sayang, kamu kok menghindar sih? Aku ingin peluk kamu loh. Kita baru aja jadian. Tadi kamu kan yang ngajakin aku ke taman Flamboyan terus nembak aku? Please, Kamu kenapa sih, kok aneh gini? Terus gimana aku bisa berada di sini, bukannya tadi berada di taman. Sayang, tadi kamu ya yang bawa aku? Aku ketiduran ya?" Jennie terus berusaha memeluk Taehyung, tetapi Taehyung menolak dan menatapnya dengan tatapan aneh. Dia bahkan menyentuh kening Jennie dan menggelengkan kepalanya.

"Sudahlah, jangan berkhayal terlalu banyak. Sekarang, kerjakan saja tugas-tugasmu. Besok kita ada meeting, jadi persiapkan semuanya," ucap Taehyung sambil memberikan sebuah berkas pada Jennie dan meninggalkan ruangan.

Semua ucapan Taehyung membuat Jennie semakin bingung. Jika dia mengatakan itu, bukankah itu berarti Jennie menyukainya? Tapi mengapa dia harus terbawa mimpi seperti ini? Apakah semua yang terjadi hanya khayalan semata?

Sementara itu, di dalam ruangannya, Jennie masih tidak bisa mempercayai bahwa semua ini hanya mimpi belaka. Dia dan Taehyung baru saja menjadi pasangan, itu bukanlah khayalan semata.

"Aku mencintainya, sungguh mencintainya. Tapi mengapa semuanya hanya mimpi? Apakah saat Taehyung mengajakku ke taman dan mengatakan bahwa posisiku akan sama seperti istrinya, itu hanya khayalanku saja? Tidak! Aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah terlanjur bahagia. Bisakah semuanya terulang kembali? Aku ingin memastikan bahwa semuanya bukanlah mimpi. Semuanya nyata. Huhuhu..." Jennie merasa frustasi dan menangis setelah menyadari bahwa semua yang dialaminya hanyalah khayalan semata.

Jennie merasa kecewa dan sedih. Dia tidak ingin kebahagiaan yang dirasakannya hanya sebatas mimpi. Setiap kali dia merasakan kebahagiaan, itu selalu berakhir dengan kekecewaan yang mendalam. Jennie merasa seperti hidupnya adalah siklus yang tak berujung dari harapan dan kekecewaan.

Sebagai seorang wanita muda yang cantik, Jennie hidup dalam dunia yang penuh dengan pengagum. Matahari yang memancarkan sinarnya dengan gemilang, setiap langkah yang ia ambil diiringi oleh tatapan kagum dari para pria yang terpesona oleh pesonanya. Namun, di balik senyumannya yang memikat dan kecerdasannya yang memukau, Jennie merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Meskipun banyak yang tertarik padanya, Jennie belum pernah menemukan seseorang yang bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Setiap kali ada seseorang yang menarik perhatiannya, mereka selalu pergi begitu saja, meninggalkan Jennie dengan hati yang hancur dan alasan yang tidak jelas. Rasa kecewa dan keraguan mulai merasuki pikirannya, membuatnya meragukan dirinya sendiri. Apakah dia tidak pantas mendapatkan cinta sejati?

Namun, di tengah kegelapan hatinya yang terusik, suatu hari Taehyung, bosnya yang tampan dan berkarisma, datang dan mengubah segalanya. Dalam satu momen yang tak terduga, Taehyung mengungkapkan perasaannya pada Jennie. Hatinya berdebar kencang saat mendengar kata-kata itu. Hidupnya terasa seperti sedang berputar dalam mimpinya yang paling indah.

Namun, sayangnya, saat Jennie terbangun dari mimpinya, dia menyadari bahwa itu hanya sebuah khayalan. Rasa kekecewaan melanda hatinya. Apakah hidupnya hanya akan diisi dengan kekecewaan semata? Jennie merenung sejenak, menatap langit-langit ruangan dengan harapan dan tekad yang baru. Dia tahu bahwa meskipun mimpi itu hanyalah ilusi, cinta sejati masih ada di luar sana menunggunya. Dan dia siap untuk menemukannya, meski harus melewati kekecewaan dan patah hati yang tak terhitung jumlahnya.

"Kapan aku bisa menemukan lelaki yang bisa menerimaku dan menjadi suamiku, kapan aku seperti Jisoo, bisa menikah dan mempunyai anak? aku menginginkan semua itu. Kapan aku bisa mendapatkannya?" ucap Jennie dengan kepedihan yang mendalam. Dia kembali ke tempat duduknya, duduk dengan penuh kekecewaan yang menyelimuti hatinya.

.......................................


Sementara di tempat lain, tampak Jisoo tengah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk imunisasi Hyun Woo. Ia memegang erat tangan kecil putranya yang berusia lima bulan, sementara di sisi lainnya, Yerim, adik ipar Jisoo, juga ikut serta dalam perjalanan ini.

Mereka berjalan beriringan di bawah sinar matahari yang hangat, menikmati keindahan alam sekitar. Jisoo merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama putranya dan adik iparnya. Meskipun perjalanan ini hanya sebentar, dia berharap dapat menjadikannya sebagai momen yang menyenangkan dan berkesan.

Saat mereka tiba di rumah sakit, Jisoo merasa sedikit gugup. Ia tidak suka melihat jarum suntik, apalagi saat harus melihat putranya menerima imunisasi. Namun, ia tahu bahwa itu adalah hal yang penting untuk kesehatan Hyun Woo. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri.

Yerim, yang selalu menjadi sosok yang ceria dan penuh semangat, mencoba mengalihkan perhatian Jisoo. Ia bercerita tentang pengalamannya saat mengunjungi taman bermain baru di kota. Cerita-cerita Yerim selalu berhasil membuat Jisoo tersenyum dan melupakan kecemasannya.

Saat giliran Hyun Woo untuk menerima imunisasi, Jisoo memegang tangannya erat-erat. Ia mencoba memberikan dukungan dan ketenangan pada putranya. Hyun Woo, yang masih belum mengerti apa yang sedang terjadi, hanya menatap ibunya dengan mata yang penuh kepercayaan.

Setelah imunisasi selesai, Jisoo merasa lega. Ia melihat Hyun Woo dengan penuh kebanggaan, melihat betapa tangguh dan kuatnya sang anak. Meskipun terlihat sedikit lelah, putranya tetap tersenyum dan bermain-main dengan jari-jarinya yang mungil. Melihat kebahagiaan dan kesehatan Hyun Woo, Jisoo merasa sangat beruntung dan bersyukur atas anugerah yang diberikan kepadanya.

"Hyun Woo, kamu begitu berani tadi saat diimunisasi. Mama sangat bangga padamu, sayang," ucap Jisoo dengan senyuman lembut yang menghiasi wajahnya, matanya penuh kebanggaan saat melihat putranya.

Hyun Woo merespons dengan senyuman dan menggenggam jari-jari Jisoo dengan lembut, sebagai tanda kasih sayang dan kebersamaan di antara mereka berdua.

"Kamu adalah anak yang tangguh, sayang. Mama akan selalu menjaga dan melindungimu dengan segenap hati," ucap Jisoo sambil mengelus lembut kepala Hyun Woo. Suara tawa kecil sang anak mengisi ruangan, menggambarkan kebahagiaan yang dirasakan.

"Melihat senyummu membuat hati Mama penuh kebahagiaan, sayang. Mama sangat bersyukur memiliki anak yang sehat dan bahagia seperti kamu." kata Jisoo dengan penuh kehangatan, sementara Hyun Woo menanggapi dengan senyuman yang semakin lebar.

"Ayo, kita pulang dan lanjutkan hari yang menyenangkan bersama, ya, Hyun Woo. Mama akan selalu ada untukmu. Yer, ayo kita pulang." ucap Jisoo dengan penuh kehangatan sembari beranjak menggendong Hyun Woo dengan penuh kasih sayang. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan dengan senyuman dan kebahagiaan yang melingkupi mereka.

Bersambung ...

Cinta setelah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang