Pagi ini Katrina bangun dengan hati gusar, sepanjang malam setelah kejadian tangis Natalie itu membuatnya bertanya-tanya mungkinkah sesuatu terjadi pada adiknya. Ia tahu percis adiknya itu sedang memiliki masalah.
Melihat jam menunjukkan jam enam pagi hal pertama yang ia lakukan adalah mengirim sebuah pesan kepada Natalie.
Namun sepertinya Natalie tak berniat membalasnya, meski sudah ia baca. Ya mungkin benar kata suaminya Jonas, Natalie mungkin butuh waktu untuk bercerita. Setelah membersihkan diri ia beranjak mencari sangat suami ya semalam ia tiba - tiba sangat kesal dengan Jonas, entah karena bawaan bayi atau karena Katrina yang sedang sensitif karena melihat Natalie seperti itu.
Begitu keluar kamar ia disambut dengan sang suami yang membawakannya satu nampan berisi sarapan dan tentu saja satu gelas susu ibu hamil rasa coklat favoritnya.
"Good morning Mrs. Raegan" dengan senyum khasnya, matanya nampak seperti terpejam saat tersenyum.
Ah, Katrina tau suaminya ini sedang mencoba mengambil hatinya karena semalam ia terlihat marah padanya.
"Aku bawain sarapan buat kamu plus susu yang harus kamu minum" ucapnya lagi
Katrina menghambur kepelukan Jonas, untung saja Jonas sigap memegang nampan itu meski sedikit limbung.
"Good morning calon mama, masih badmood?"
"Sedikit, masih kepikiran Nanat"
Jonas menaruh nampan itu di nakas tepat di samping Katrina, lalu mendekap tubuh Katrina seutuhnya. Ia mengusap pelan rambut Katrina sesekali mengecup pucuk kepala sang istri.
"Aku yakin dia gak apa - apa sayang, kamu gak perlu sekhawatir itu kamu sendiri tau sesayang apa Bang Ru sama Natalie, kalaupun ribut itu hal wajar nanti juga balik lagi kayak biasanya" ucap Jonas menenangkan Katrina
Katrina mengangguk mengiyakan, mungkin ada alasan tertentu Natalie tidak bercerita, hanya saja masih ada yang mengganjal di hati Katrina entah apapun itu ia ingin adiknya bisa terbuka seperti biasanya.
Natalie menghela nafas baru saja ia menerima pesan dari sang kakak, mengenai dirinya semalam, Natalie sedikit menyesal mengapa ia terbawa suasana dan menangis seperti semalam membuat Katrina menjadi khawatir seperti ini.
Bahkan ia tak tahu harus menjawab pesan Katrina, apa yang harus ia ketik haruskah ia menjawab yang sebenarnya atau mengatakan bahwa dirinya baik - baik saja. Bergelut dengan pikirannya sendiri Natalie dikejutkan dengan Ruanth yang tiba - tiba memeluknya dari belakang.
"Kamu bengong terus aku liat - liat, kamu kenapa sayang?"
Apa katanya sayang?
Begitulah kira - kira yang ada dipikiran Natalie sekarang, entah rasanya kata sayang yang diucapkan Ruanth tak lagi membuatnya tersenyum lebar seperti biasanya, ia mengulas senyum singkat membalikkan badan menatap Ruanth sedekat ini, membuatnya ingin menangis lagi ia selalu saja teringat dengan perkataan Ruanth yang meminta izin untuk mencintai Shasha.
Ingin marah namun rasanya ia juga tak pantas, karena selama hampir empat tahun bersama tidak mungkin perasaan cinta antara keduanya tidak tumbuh, namun itu memilukan hati Natalie tentunya. Impiannya sejak mengenal Ruanth adalah menjadi pendampingnya satu - satunya yang dicintai Ruanth, namun kenyataannya ia tetap harus berbagi, meski Shasha telah tiada namun rasanya seperti ia diduakan.
Ruanth yang kebingungan mengapa Natalie menjadi aneh terakhir ini ia sering melamun, apakah ada yang salah padanya, atau hal yang lain terkadang ia juga takut ada perkataannya yang membuat Natalie sedih atau terluka.
Natalie memeluk erat Ruanth yang nampak sudah segar sehabis mandi tadi. mencium aroma parfum yang baru saja disemprotkan Ruanth, membuat Natalie sedikit lebih tenang, entah ia tidak bisa meluapkan rasa kesalnya pada Ruanth.
