Malam itu keadaan Shasha kembali menurun, ini sudah kesekian kalinya Shasha dirawat dalam bulan ini, sebenarnya dokter sudah menyarankan agar dia dirawat intensif di Rumah Sakit namun Shasha termasuk yang keras kepala, bahkan bujukan Ruanthpun tak mempan baginya, ia selalu merasa diri sehat - sehat saja.
"Bandel sih udah aku bilang dirawat aja ngeyel pengen di rumah aja". Ruanth mengomel sejak tadi namun Shasha justru tertawa meski masih merasakan sakit.
"Ketawa?"
"Maaf, aku ngerepotin kamu banyak banget" ucap Shasha pelan
Ruanth menghela nafasnya, capek? tentu saja dia lelah, baru saja ia berurusan dengan dosennya perihal tugas akhir kini ia harus menjaga Shasha di Rumah Sakit.
"Kamu istirahat aja aku tau kamu pasti capek banget"
"Badannya masih sakit?"
"Hmm, sakit banget Ru semuanya—aku, aku kayaknya gak ku—"
"Ssstt, udah ngomongnya jangan ngawur mana yang sakit aku usapin" Ruanth mengusap pelan tangan Shasha pelan.
"Ganteng" gumam Shasha
Shasha terpaku pada wajah Ruanth yang dihiasi gurat kelelahan.
"Kamu bilang apa tadi?"
Shasha menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Ruisha mana?"
"Aku titip sama ci Helen tadi, besok pagi dia pasti ngerengek mau ketemu kamu"
"Dia rewel, karena aku sering sakit"
"Dia tumbuh dengan baik karena mamanya" ucap Ruanth
"Karena ayahnya juga Ru"
"Tapi dia lebih dengerin mamanya ketimbang ayahnya"
"Anak aku udah mau empat tahun kan?"
"Anak kita Sha, iya beberapa bulan lagi dia mau umur empat tahun"
"Ternyata aku bisa ya Ru bertahan sampai Ruisha mau empat tahun"
"Iya kamu hebat bisa bertahan sampai sekarang, dia udah cerewet banget apalagi kalau gak sesuai sama maunya, pilih baju yang dia mau, maunya nenteng tas kamu yang di lemari kayak orang gede" ucap Ruanth membuat Shasha tertawa pelan
"Aku beneran terimakasih sama kamu Ru, aku tahu aku keras kepala menginginkan dia tetap lahir, tapi aku gak menyesal dengan pilihan aku buat pertahankan Ruisha, empat tahun lalu dia lahir tapi aku baru bisa liat dia diumur dia tiga bulan, aku sedih banget karena aku sakit aku gak bisa nyusuin dia secara langsung, terimakasih udah menerima dia dengan baik, sejujurnya aku takut kamu gak bisa nerima Ruisha karena keadaan kita dulu"
"Dia anak aku juga Sha, udah sepantasnya aku menerima dia hadir dunia, maafkan aku yang sempat menolak kehadirannya, kamu tahu saat pertama kali aku denger detak jantungnya waktu nemenin kamu USG perasaan aku gak karuan antara senang sedih dan takut, dengar tangisannya saat dia lahir ada perasaan lega, hatiku menghangat ketika menggendongnya untuk pertama kali, gak ada alasan aku untuk membencinya"
"Dia tumbuh dengan baik Sha, meski dia gak full asi, dia masih bisa beradaptasi dengan teman - teman playgroupnya"
"Bagus kalau begitu, aku lega dengernya"
"Kamu ceritain dia tentang Natalie?"
"Iya, aku bilang dia spesial she has two mom kenapa?"
