Baby Donat

408 30 10
                                        

"Al sayang sudah periksa ulang barang - barang yang mau kamu bawa? Jangan sampai ada yang ketinggalan, baju hangat kamu juga jangan sampai ketinggalan"

Almira memang sudah mempersiapkannya semalam, kini ia sudah bersiap berangkat menuju Bandara. Namun ia tak fokus mendengar ocehan ibunya karena ia sibuk memperhatikan telpon genggamnya sejak tadi ia menghubungi seseorang namun yang ia dengar hanyalah pesan dari operator seluler. Wajah sedikit muram semalam Jiansha berjanji akan mengantarnya ke Bandara, namun sampai jam keberangkatan lelaki itu belum juga muncul.

"Al, kamu dengerin mama? dari tadi mama lihat kamu sibuk dengan handphone kamu"

"Denger Ma, Almira lagi nunggu seseorang tapi kayaknya gak jadi dateng"

"Siapa? si Jiansha itu? Udah mama bilang kamu jangan terlalu harapkan dia, mama bingung deh kenapa kamu bisa secinta itu sama dia, dia sendiri aja gak bisa prioritaskan kamu, buktinya kayak sekarang kamu masih berharap dia datang?" ucap ibunya Almira

"Tapi Ma—"

"Gak ada tapi - tapi Al, kita harus berangkat sekarang lagipula jalanan macet kita bisa terlambat nanti, ini pesawat bukan angkot yang bisa ngetem nunggu penumpang! Lagian hubungan kalian sudah berakhir kan? Mama gak mau ya kalau dia bikin fokus kamu rusak"

Almira menghela nafasnya, menatap layar telpon genggamnya memilih untuk menonaktifkan benda itu.

"Kamu ngarepin apa sih Al?" gumamnya sendiri, kecewa tentu saja Jiansha mengingkari janjinya lagi.

Singkat waktu Almira kini tiba di terminal keberangkatan luar negeri, disana ia bersama orangtuanya dan seorang lelaki terlihat akrab dengan orangtuanya.

"Ravin, tante titip Almira ya, dia kalau sudah sibuk dengan sesuatu pasti saja makannya terbengkalai"

"Om dan tante gak perlu khawatir, Ravin pastiin bakal jaga baik Almira disana"

Pesawat yang akan ia tumpangi sedikit mengalami keterlambatan hingga Almira masih bisa menunggu sebelum boarding, sambil melihat disekitar, nyatanya ia tak melihat Jiansha dimana - mana.

Nyatanya Jiansha sudah disana sedikit jauh dari tempat Almira berada, niatnya menghampiri Almira terhenti setelah melihat pemandangan tak mengenakkan untuknya seorang lelaki merangkul mesra Almira dan terlihat sangat akrab dengan orangtua Almira, seingatnya Almira adalah anak tunggal jadi sudah dipastikan dia bukan adik atau kakaknya Almira.

Jiansha memang memiliki kendala tadi, semalam secara implusif ia membeli tiket dengan tujuan yang sama dengan Almira. Jiansha mungkin terinspirasi kelakuan abangnya di masa lalu yang kabur mengejar perempuan yang disukainya. Namun ia harus gigit jari sebut saja keberuntungan tak sedang berpihak padanya paspornya tiba - tiba menghilang entah ia yang teledor lupa menaruh dimana atau maminya yang sengaja menyembunyikannya darinya. Dan ya alasan yang kedua lebih masuk akal baginya karena ia memiliki ingatan yang cukup bagus, Itulah sebabnya ia terlambat karena mondar - mandir mencarinya.

Sejujurnya andai Almira tau, Jiansha tak rela jika gadis itu pergi, namun apalah daya Jiansha ia tak mungkin menghalangi Almira untuk pergi.

"Papip, kenapa malah diem bukannya samperin momim?" ucap seorang gadis

Jiansha mengalihkan pandangannya ke arah kiri, disana seorang gadis tersenyum manis.

"Halo Papip!"

"Lo siapa, tiba-tiba panggil gue papip?"

"Aku Camelia, anak Papip Jian dari masa depan". Kalimat yang diucapkan gadis itu membuat Jiansha melongo tidak percaya

"Dari masa depan?"

Never GoodbyeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang