Sudah memasuki liburan akhir tahun. Natalie menyusun pakaian dan barang yang akan dipakai untuk berlibur sesuai dengan diskusi kemarin akhirnya mereka tetap memilih Bali untuk liburan singkat kali ini. Nusa Dua Bali dipilih sebagai destinasi dan tempat menginap mereka selama tiga hari, sengaja mencari pantai yang ramah untuk anak - anak.
"Baju renang udah, sunscreen Ruisha udah, skincarenya juga udah, kak aku udah pilihin baju yang kita bawa tolong cek dong siapa tau ada yang belum dimasukin, ini aku lagi beresin koper Ruisha" ucap Natalie yang sejak tadi sibuk mengurusi koper
"Udah aku cek, ngapain bawa bikini?" tanya Ruanth
"Kan ke pantai masa pake gamis?"
"Ya enggak pakek ginian juga kan ada yang lebih normal bajunya"
"Nata jelek ya pake bikini lagi hamil begini?" bibirnya mengerucut
"Bukan gitu—tapi ini terlalu terbuka Nda"
"Jadi gak boleh?"
"Gak" ucap Ruanth singkat namun penuh ketegasan. "Janji pakenya cuma di kolam villa aja boleh ya" sekali lagi Natalie memohon ia mengedipkan mata berkali - kali. "Ekhemm, ngapain matanya begitu?" Ruanth tak mau goyah, "Ayah— ya ya please boleh ya?" Natalie memeluk lengan Ruanth sudah seperti Ruisha ingin minta jajan tangannya terulur membenarkan helaian rambut Natalie "Oke boleh tapi— cuma di villa aja" Natalie bersorak senang.
"Ada syaratnya"
"Apa?"
"Give me a kiss". Natalie mendekat mengecup pipi kiri Ruanth. "Kok cuma disini, ini belum?" Ruanth menunjuk seluruh area wajahnya. "Ahh, ini mah akal - akalan aja kan pengen kiss?" Meski melayangkan protes namun Natalie tak menolak, ia mencium seluruh wajah Ruanth, lelaki itu menatap intens mata sang istri keduanya saling menatap cukup lama. Ruanth mengangkat Natalie untuk duduk dipangkuannya.
"Ough—kaget ih kak Jun!" Natalie secara spontan memberikan pukulan manja pada bahu suaminya. Ruanth hanya tersenyum keduanya kembali saling memandang, dibalik tatapan keduanya banyak sekali pikiran yang berkecamuk. Natalie membeku sesaat ketika bibir Ruanth menyentuh bibirnya. Lewat ciuman itu, Ruanth sepertinya menyalurkan rasa gelisah dan ketakutannya, perlakuannya pada Natalie disadari atau tidak sedikitnya pasti membuat Natalie terluka.
"Eunghh". Lenguhan Natalie terdengar saat pagutan itu masih belum menunjukkan kata selesai keduanya masih menikmati Natalie mengagungkan tangannya meremas rambut Ruanth, keduanya sesekali berhenti sejenak mengambil pasokan udara. Ruanth kembali mengingat ancaman yang diberikan oleh mantan mertuanya. Ia tak ingin melibatkan Natalie dalam perseteruannya dengan Arlan. Ia tak mau membuat Natalie dalam bahaya, ia berusaha tak melibatkan Natalie perihal mantan mertuanya yang sampai saat ini masih berniat membuat hidupnya hancur. Ia berusaha menahan semuanya sendiri, berharap Arlan tak berbuat nekat, di sisi lain Ruanth menyadari bahwa tindakan yang ia ambil mungkin akan beresiko tinggi.
Ciuman keduanya berakhir Ruanth menempelkan keningnya pada kening Natalie, tangannya terulur membersihkan bibir Natalie dari lipstik yang belepotan akibat ulahnya. "Kak, kamu kenapa?" mendapatkan pertanyaan itu membuat Ruanth menghentikan mengusap bibir Natalie. Natalie hanya selalu merasa ada yang disembunyikan, seperti ciuman tadi Natalie merasakan ketakutan dalam diri Ruanth yang Natalie tak tahu apa itu.
Natalie memeluk Ruanth tangannya mengusap pelan punggung suaminya. Ruanth menaruh dagunya di bahu Natalie merasakan pelukan istri begitu nyaman untuknya, hatinya menghangat sudah lama ia tak merasakan kehangatan seperti ini sentuhan yang menenangkan hatinya, peluk yang membuatnya agak lega.
"Kak, kalau kamu sedang merasa kesulitan kasih tau aku kak, apapun itu termasuk soal kerjaan, aku gak bisa sok paham tentang yang kamu rasain, kalau kamu gak cerita"
