Windura menusukkan sebuah suntikan berisi obat bius ke lengan anak buah Mitha. Hilmi berdecak kagum, sungguh ini seperti lakon di film - film Windura sangat jago dalam hal berakting bahkan ia sangat totalitas sudah seperti dokter sungguhan.
"Mi, ayo waktu kita gak banyak" ucap Windura.
Hilmi mengangguk bergegas mengikuti arah Windu melangkah. Satu per satu pintu yang ada di sana mereka buka namun nihil mereka tak menemukan siapapun. Keduanya pun harus tetap hati - hati jika tiba - tiba dihadapkan dengan anak buah Mitha yang lain bisa saja berada di sekitar sini.
Keduanya dikejutkan dengan kemunculan asap dan beberapa titik api. Tentu saja mereka semakin panik.
"Wah, ini mah pasti gara gara si mak lampir, anjir nekat pisan sampe main api" ucap Hilmi
Windura dan Hilmi juga menemukan jejak minyak yang menandakan kebakaran yang terjadi memang disengaja.
Pernapasan mereka sudah mulai terganggu. Namun tak surut untuk keduanya mencari keberadaan Winter dan Jeman hingga akhirnya suara dentuman keras terdengar keduanya mendekat ke arah suara.
"Ada orang di dalam?" tanya Windura hati - hati
"Ya, saya bersama seorang anak laki-laki kami sengaja di kurung disini"
"Aefar ini papa!" ucap Windu seketika
"Anda ayahnya? kalau begitu bantu saya untuk membuka pintu ini segera"
Windura dan Hilmi mengangguk memberi aba - aba agar orang yang ada di dalam menghindar hingga dobrakan ke sekian akhirnya pintu berhasil terbuka disana Jeman bersama seorang pria. Windu berlari ke arah Jeman dan langsung memeluknya.
"Papa"
"Papa disini Aefar"
"Bang, kita gak bisa lama disini apinya udah nyebar!"
Tentu saja ketiganya segera beranjak dari sana. Hilmi cukup lega karena Jeman berhasil ditemukan dalam keadaan baik meski ada beberapa luka ditubuhnya.
"Papa, Winter pa cari Winter!" seru anak lelaki itu
"Jeman tau dimana Winter?" tanya Hilmi
Namun Jeman menggeleng yang anak kecil itu tahu mereka dikurung secara terpisah, namun dipastikan tidak jauh dari tempatnya dikurung.
"Maaf jika saya lancang, ada anak perempuan yang dikurung bersama dengan anak bos kami tuan Ferdinand"
"Jadi maneh salah satu orang suruhan si Ferdinand gila itu, tapi kenapa maneh ikut dikurung?"
"Saya hanya ditugaskan untuk menjaga nona Ryuna disini, soal itu karena saya ikut membantu nona Ryuna membawa anak perempuan itu berobat"
Tentu saja Hilmi mencebik. Pria jahat itu apakah masih bisa disebut ayah bahkan ia menjerumuskan anaknya sendiri dalam kejahatan, Hilmi mendadak ingin tertawa merasa lucu saat Ferdinand berusaha menjaga putrinya disisi lain ia mencoba mencelakai anak orang lain. Hilmi menggeleng tidak mengerti dengan perilaku Ferdinand sepertinya setanpun akan sujud melihat perilaku manusia satu itu.
"Anda tahu tempatnya?" tanya Windura. Lelaki itu mengangguk dan memberitahu Windura dan Hilmi. Meski ada sedikit keraguan pada keduanya namun apa salahnya mencoba. Namun keberuntungan tak berpihak pada mereka api semakin membesar membuat Hilmi membuat keputusan.
"Bang lo bawa aja, anak lo keluar sekarang biar Winter gue yang cari, masih ada Jaendra juga disini"
"Tapi Mi?"
"Bang udah nanti makin susah keluar, lo tenang aja gue sama Jaendra bakal temuin Winter secepatnya, dan—gue bisa percaya lo kan?" Hilmi menatap salah satu anak buah Ferdinand itu dan lelaki itu mengangguk.
