Hilmi sepertinya tidak menganggap serius perihal pesan yang ia terima mengenai informasi keberadaan winter. Tapi tidak dengan Gianna, entah firasat atau sejenisnya ia merasa ganjal dengan nomor itu.
"Kamu gak mau coba lagi hubungin nomor tadi?" tanya Gianna pada Hilmi
"Nomor apa?" tanya Jaendra
"Reuwas anjir maneh, sejak kapan maneh didinya?" tanya Hilmi
"Kepala gue pusing banget bang tadi niatnya mau merem bentar gak sengaja denger kalian ngomongin soal nomor"
Jaendra terlihat pucat membuat Hilmi khawatir.
"Anjir, Gi meuni mendidih kieu" Hilmi sedikit terkejut saat memeriksa dahi Jaendra dengan suhu cukup tinggi.
"Gi hansaplas gi!"
"Hah, hansaplas? dia gak luka kenapa harus pake plester segala?"
"Itu loh Gi yang penurun panas yang ditempel di jidat apa namanya yang kayak perangko!"
Gianna menggeleng mencari kotak obat mengambil benda itu lalu memberikannya pada Hilmi
"Nih, udah makan belum lo Ja?" tanya Gianna
Jaendra menggeleng ia baru ingat, ia belum mengisi perutnya siang ini.
"Gue cuma makan sisa Wilana tadi"
Wilana baru saja memejamkan matanya karena lelah menangis, dan ditenangkan oleh Jaendra. Wilana sering histeris dan Jaendra harus menenangkannya. Pikirannya makin bercabang terlebih hingga saat ini putri mereka belum juga ditemukan mungkin ini penyebabnya kondisi tubuhnya melemah.
Gianna beranjak menuju dapur rencananya ia akan membuat bubur untuk Jaendra. Telepon genggam milik Hilmi berbunyi nomor itu kembali menghubunginya.
"Halo—"
Maaf ini dengan siapa?
"Harusnya saya yang nanya gak sih, kamu kasih saya sebuah pesan tentang keberadaan dua keponakan saya"
Oh, mohon maaf Pak, mungkin bapak keluarga pasien yang tadi pinjam handphone milik saya
"Pasien? maksudnya Gimana?" tanya Hilmi
"Loudspeaker coba Mi" ucap Gianna dari arah dapur.
Begini tadi ada keluarga pasien seorang anak kecil—
"Perempuan?" tanya Jaendra
Iya Pak anak perempuan kira - kira usia empat lima tahunan
"Bang, Winter bang!" ucap Jaendra
"Bagaimana keadaan anak itu?"
Keadaannya cukup mengkhawatirkan pak, demamnya masih tinggi seharusnya anak itu dirawat tetapi walinya memaksa untuk pulang
"Saya Ayahnya mbak! dia pasti penculik itu anak saya diculik mbak!"
Maaf Pak saya tidak tahu untuk hal itu
"Mbak yang bawa keponakan saya ke sana laki - laki atau perempuan?"
Satu perempuan muda dan satu laki - laki Pak dan satu anak laki - laki
"Udah pasti itu winter dan jeman! Kita kesana bang!" ucap Jaendra
"Tenang Jaendra tenang oke, mbak dua anak itu adalah keponakan saya mereka diculik dengan dua anak lainnya, saya harap mbak mau bantu kami untuk memberi keterangan nanti pada polisi"
Ba—baik Pak tapi
"Mbak jangan takut ya kami hanya perlu keterangan dari mbak aja nanti" ucap Hilmi tenang
