Ferdinand tersenyum menang, saat seorang pria yang ditunggunya datang, rencananya berhasil menghasutnya.
"Akhirnya datang juga, kau berubah pikiran?"
Pria itu tersenyum sinis. Ia menatap tajam lelaki itu.
"Apa yang ingin kau katakan cepat"
"Wow, kau sungguh tidak sabaran aku belum menawarkan teh atau kopi untuk—"
"Aku baru tahu latar belakang Caecilia berhubungan dengan dirimu"
"Hana memiliki seorang putri yang sengaja ia titipkan di panti asuhan dan dia diadopsi oleh keluarga kami"
"Ibumu itu tahu bahkan tentang kematian putrinya, dan kurasa kau pun pasti tahu"
"Kau mencari keberadaan kakakmu yang ternyata telah tiada di tangan mereka yang kau beri tumpangan itu. Keluarga Dipta yang kau bantu itu adalah pembunuh kakakmu bagaimana bisa selama ini kau berpura-pura dan berada di pihaknya?"
"Tian, jangan kira aku tidak tahu—Ini saat yang bagus sebenarnya untuk kau dan ibumu membalasnya biarkan mereka hancur, dan merasakan kehilangan seperti yang ibumu rasakan, semua yang terjadi pada Cae adalah karena mereka, kau pikirkan baik - baik kita bisa bekerjasama jika kau mau"
Tian berpikir sejenak, setelah Ferdinand memberi waktu hingga jawaban pria itu membuat Ferdinand tertawa puas. Tentu saja ia puas karena kini Tian berada di pihaknya.
"Tak akan ada yang menyadari bahwa kau dan ibumu ikut terlibat dalam rencana yang akan ku buat" ucap Ferdinand
"Maksudnya?"
"Ibumu sudah lebih dulu menyetujuinya, jangan kau kira ibumu hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak mengerti apa - apa ibumu tahu tentang penculikan itu ibumu yang menyediakan tempat untuk kami, kau pikir bagaimana bisa kami menemukan tempat aman untuk bersembunyi semuanya berkat bantuan ibumu"
"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"
"Cukup informasikan padaku tentang yang mereka lakukan dan aku akan menghubungimu jika perlu bantuan"
.
"Ibu kenapa ndak bilang sama aku buk kalau ibu ikut rencana orang itu?"
"Mas, sudah tau?"
"Mas maafin ibu yang gak cerita ibu juga terkejut orang itu menemui ibu diam - diam dan memberitahu sesuatu, kakakmu dulu ibu titipkan di panti asuhan karena ibu ndak sanggup buat rawat mbakmu dan kamu secara bersamaan, tapi ibu balik lagi buat cari dia kebetulan ibuk dapat kerja di keluarga Raegan, ibu diam - diam cari informasi tentang mbakmu"
Hana menatap sendu putranya, hatinya pilu mengingat putrinya yang harus tiada dengan cara seperti itu.
"Ibu lega, mbakmu dapat orang tua angkat yang baik, tapi semenjak itu ibu gak bisa dapat kabar lagi tentang mbakmu mas"
"Ibu baru tau kalau dia udah gak ada dari orang itu, hati ibu hancur dengernya mas ibu belum sempat peluk dia, ibu belum sempat bilang minta maaf udah buang dia— ibu setiap liat Wilana ibu inget mbakmu, makanya ibu terima baik dia berharap itu bisa mengobati kerinduan ibu sama dia nyatanya, Wilana adalah anak dari orang yang buat putri ibu pergi, lantas apa tidak boleh ibu kecewa mas?"
"Bu, mas cuma gak ingin ibu terbawa - bawa kasus ini biar mas aja bu, ibu gak usah ikut - ikutan"
"Tian, justru ibu gak mau kamu terlibat biar ibu aja, Ola dan Kristal masih butuh kamu nduk, ibu wes tua ibu ndak masalah kalau akhirnya ibu harus dipenjara"
