Ryuna terus menatap jam di dinding. la harap Hilmi membaca pesan yang ia kirim dan datang sebelum infus Winter habis. Namun ia harus menelan kecewa rencananya untuk menyelamatkan dua anak itu gagal. Infus untuk Winter sudah habis dan mereka harus segera pergi sebelum orang-orang menyadari keberadaan mereka. Karena berita tentang empat anak yang hilang itu masih ramai dibicarakan terlebih wajahnya terpampang di berbagai media. Tentu saja pria yang bersamanya itu tidak mau mengambil resiko lebih.
"Kita harus segera pergi dari sini sebelum orang-orang menyadari anak ini" ucapnya
Ryuna mengigit kuku ibu jarinya. Ia berfikir keras bagaimana caranya agar keluarga anak kecil ini tahu keberadaan mereka. Sebut saja Ryuna mengkhianati sang ayah, langkah ini la buat agar ayahnya berhenti melakukan hal-hal jahat seperti ini terlebih ia muak dan lelah dengan hidupnya yang harus bersembunyi dari kejaran polisi benar apa yang Lyanna katakan, ayah mereka tidak akan pernah puas dengan apa yang ia lakukan untuk membalas dendam dan ia juga menyesal mau saja terlibat dengan hal ini, harus ada yang menghentikan perbuatan Ferdinand dan Ryuna berusaha untuk itu.
Keempatnya pergi tergesa, Ryuna berhenti membuat pria yang bekerja mengawal dirinya ikut berhenti.
"Ada apa?" tanyanya
"Gue mau ke toilet bentar!"
Ryuna barlari ke arah toilet, namun sebenarnya bukan itu tujuan dirinya. Setelah mencuci tangan ia segera mendapati bagian informasi
"Mbak boleh minta kertas dan pinjam pulpen sebentar?"
Setelah mendapatkannya Ryuna menulis sebuah surat dan menggambar sebuah peta yang ia buat untuk memberikan petunjuk keberadaan mereka berbekal patokan yang ia ingat saat pergi ke rumah sakit ini. Ia berharap Hilmi membaca pesan yang ia berikan dan menuju kemari
"Mbak saya titip ya nanti kalau ada orang yang nyari dan nanyain anak kecil yang dirawat barusan namanya winter, tolong kasih ini ke dia ya Mbak atas nama Hilmi" ucap Ryuna
Ryuna memberikan kertas itu, lalu beranjak dari sana segera.
"Anda lama sekali nona, kita tidak bisa berada disini terlalu lama"
"lya bawel banget sih lo jadi cowok!"
.
Hilmi membaca sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Gianna yang melihat ekspresi suaminya membuatnya terheran.
"Kenapa? apa ada sesuatu?"
"Bentar neng, ini Aa dapet info dari nomor yang engga dikenal" Hilmi menyodorkan telpon genggamnya pada Gianna.
"Menurut kamu informasi ini apa dapat dipercaya?"
"Kemungkinan iya, sebentar typingnya kayaknya orangnya kenal sama kamu" Gianna mengembalikan benda itu pada Hilmi.
"Sieun, jiga nu kamari, kumaha mun jelema ieu ngabohong?"
(Takut kayak kemarin lagi, gimana kalo orang ini berbohong?)
"Coba deh kamu telpon Mi, siapa tau diangkat, sekecil apapun informasi yang kita dapat kita harus coba siapa tau orang ini bener - bener tau keberadaan Jeman dan Winter?"
Benar kata Gianna, sekecil apapun informasi yang di dapat itu bisa saja membuka jalan buntu pencarian anak - anak yang masih berlangsung saat ini.
"Jadi telpon balik?"
Gianna mengangguk mantap, Hilmi mendial nomor itu dan tersambung membuatnya sedikit lega.
"Nyambung Gi!"
Panggilan pertama dan kedua tidak diangkat hingga di panggilan ketiga kemudian telpon itu diangkat namun sedetik kemudian di reject oleh empunya.
