"Mas dam Ibu, aku gak nyangka kalian kayak gini?"
"La denger Mas dulu"
"Ndak! Kalian tau gimana mereka susah payah mencari anak - anak mereka nyatanya ibu dan mas Tian juga ikut dalam rencana penculikan itu?"
"Aku ndak nyangka mas tega sama Wilana!"
"Diam kamu La! Kamu itu ndak tau apa apa ibu dan Tian punya alasan membantu penculik itu"
"Aku aja kecewa buk, apalagi Wilana dan keluarganya" ucap Seola
"Ibu dan Mas Tian ndak tau terimakasih keluarga mereka udah banyak bantu kita, bantu warga disini, alasan opo toh? Ibu sampe bisa sejahat ini sama mereka?" ucap Seola
"Karena orangtua Wilana itu yang buat mbak dari Tian meninggal, mereka pisahkan ibuk dengan mbaknya Tian"
Tiana benar-benar tidak menyangka dengan apa yang ia dengar. Ibu Wilana itu berencana memanggil Bu Hana juga anak dan menantunya Tian dan Seola untuk mencoba masakannya. Ia berjalan ke warung yang ada di sebelah rumah. Namun apa yang ia dengar membuat dirinya terkejut bukan main.
Dirinya memang tidak mengenal begitu dalam mengenai Hana dan keluarganya namun mendengar cerita Wilana, Tiana berkesimpulan bahwa keluarga ini memang baik ditambah dengan Tiffany yang memang mengenal baik Hana yang dulu menjadi pengasuh Jonas dan Jian selama bekerja Hana tidak pernah melakukan hal aneh atau buruk ia bekerja dengan baik bahkan Tian sempat menjadi teman bermain Jonas dan Jian dulu.
Tiana mendengar lekat setiap kalimat yang diucapkan Seola dan berharap semua itu adalah bohong namun, ia harus menelan kecewa ternyata keluarga yang selama ini dijadikan Wilana sebagai rumah keduanya, tempat Wilana bertahan hidup dari masa pelariannya dulu adalah orang bermuka dua yang nyatanya ikut dalam penculikan cucunya.
Tiana bahkan tak bisa bicara, bibirnya seakan kelu untuk memanggil mereka, ia berjalan mundur tak sengaja menyenggol sebuah pot dan di sana ketiga orang tersebut terkejut ketika mendapati Tiana berada di sana.
"Buk Tia"
"Bu Hana, saya harap anda dan anak anda berkata jujur pada Wilana tentang apa yang saya dengar barusan, dan saya ingin tau maksudnya dengan saya dan suami saya memisahkan anda dengan anda"
"Caecilia, anda mengenalnya kan Bu Tiana?"
"Cae, bukankah dia keluarga—"
"Iya Cae di adopsi keluarga kaya, tapi saya juga baru tau kalau dia meninggal orang itu bilang semua karena pak Bayu, dia yang buat anakku depresi dan memilih mengakhiri hidup semua karena suamimu dia yang bunuh anakku!" ucap Hana
"Bu Hana apa maksudnya, ayah bunuh siapa?" ucap Wilana
"Wila"
"Bun ini ada apa?"
"Kamu kenapa ada di sini kan bunda bilang istirahat"
"Wila cari kak Jaendra bun dia kemana? Trus tadi apa jawab Wila dulu bun ayah bunuh siapa?"
"Ayah gak bunuh siapa siapa bu Hana hanya salah paham"
"Salah paham?"
"Ya, karena memang itu kenyataan selama ini saya dan suami saya sudah mencoba bersabar dengan tuduhan - tuduhan itu" ucap Tiana dengan nada tinggi
"Tuduhan terhadap suami saya yang anda dengar itu berlebihan pertama Caecilia mengakhiri hidupnya sendiri karena kemauannya bukan karena Bayu yang menyuruhnya! kedua, Cae anak ibulah yang membuat suami saya memutuskan untuk menghindarinya karena apa dia terlalu bergantung pada suami saya dan berharap lebih dari sekedar teman dia sendiri yang merusak pertemanan yang sudah dibangun bertahun - tahun ketiga, anak anda pernah menyerang saya bahkan mencelakai saya dua kali, itu yang membuat suami saya enggan berhubungan lagi dengannya seandainya kami kejam saya sudah melaporkan anak ibu dengan percobaan pembunuhan! ke empat, berhenti berasumsi semua karena suamiku hanya karena sepupunya pernah melakukan tindak asusila padanya Bayu yang menanggung malu untuk semuanya! Ayah kamu gak salah Wila tapi kenapa semua beranggapan ayah kamu harus bertanggung jawab atas semuanya!" ucap Tiana tak kuasa menahan tangis membuatnya sedikit limbung
