Wilana terlihat lesu, matanya sembab karena sering menangis bagaimana tidak hingga hari ini keberadaan putrinya belum juga diketahui, ia memeluk erat gaun Winter yang baru selesai dilaundry itu, gaun yang anaknya kenakan saat acara pernikahannya beberapa hari yang lalu. Wilana mendekap erat gaun itu seakan memeluk putrinya.
"Winter dimana sayang? Mama kangen Winter sekali, Winter kenapa mainnya jauh banget, mama papa cari winter gak ketemu"
Air matanya kembali luruh membasahi pipinya. Sejak semalam perasaannya tidak enak, bahkan jarinya terluka saat tidak sengaja memecahkan gelas. Jarinya terkena pecahan beling untung saja tidak terlalu dalam. Wilana tidak peduli sama sekali dengan lukanya. Yang ia pikirkan sekarang adalah dimana keberadaan putrinya saat ini, apakah Winter baik - baik saja?
"Winter pulang ya nak, mama kangen winter gak kangen mama sama papa?"
Jaendra baru kembali, ia mengurus beberapa pekerjaan yang tidak bisa dihandle oleh Lingga.
"Sayang—"
"Kak Jaendra"
Jaendra mendekap tubuh Wilana, mengusap pelan surai sang istri pelan.
"Kak bilang sama aku Winter bakal ketemu kan? Polisi bakal temuin anak kita kan?". Pertanyaan yang selalu ditanyakan Wilana pada Jaendra maupun kepada yang lainnya.
"Iya sayang, polisi masih mencari keberadaan anak kita mereka pasti temuin Winter"
"Tapi Wila takut kak, Wila mimpi buruk terus Wila gak bisa tidur, Wila takut Winter gak ditemuin, Wila takut Winter ditemukan dalam keadaan gak bernya—"
"Ssssttt—kita gak boleh pesimis sayang, Winter bakal ketemu dalam keadaan hidup, sehat dan baik, dia kuat anak kita itu kuat" ucap Jaendra menenangkan Wilana padahal dalam hatinya ia sendiri takut, takut kemungkinan terburuk yang terjadi.
Tak berbeda jauh dengan Wilana, Yerima juga tampak murung, bahkan ia sempat tidak fokus untuk menggendong si kembar hampir saja terjatuh, ditambah Zean yang ikut rewel. Ah hati Yerima semakin tidak karuan ia sempat membentak Zean tadi, untung saja Katrina dan Jonas membantu dirinya membawa Zean ikut pergi dengan mereka, katanya Katrina mengidam entah makanan apa yang wanita itu inginkan tadi, mau tak mau Jonas harus mencarinya.
"Natra, aku beneran gak maksud buat bentak Zean tadi"
"Iya sayang, aku tahu kamu gak mungkin tega, Zean memang agak rewel mungkin karena biasanya dia selalu bareng sama ion" ucapnya setelah menaruh salah satu putri kembarnya di atas tempat tidur.
"Tidur nyenyak cantiknya papi" ucapnya pelan pada kedua putrinya lalu beralih pada Yerima, memandang sendu koper berisi penuh mainan milik putranya
"Sayang, Mami listen to me, pencarian masih terus dilakukan ada beberapa info mengenai mereka, tapi kita belum tahu kebenarannya, ada yang melihat keberadaan orang yang mirip Ferdinand tapi polisi masih memastikan apa informasi itu benar atau hanya orang iseng" ucap Martin
Yerima menatap penuh harap Martin, berharap ada informasi lebih mengenai keberadaan anaknya. Meski akhirnya harus menelan kecewa karena masih tak ada kejelasan keberadaan Zion dan juga anak - anak yang lainnya.
"Natra, abang bakal baik - baik aja kan? mereka, Samantha gak bakal apa - apain anak kita kan?"
"Kamu masih meragukan Samantha?" tanya Martin dengan hati - hati
Yerima mengangguk, awalnya ibu empat anak itu mencoba percaya jika Samantha sudah berubah namun dengan kejadian ini, rasa ingin percayanya pada sepupunya itupun lenyap seketika.
"Dia udah hilangin nyawa kembaran aku, dia juga bikin aku kehilangan calon anak kita Natra lantas bagaimana aku percaya kalau dia gak akan berbuat apa - apa sama Zion?" ucapnya pelan
