*Part 52*

28 7 5
                                        

Pelajaran hari ini sudah selesai, para siswa satu persatu mulai meniggalkan sekolah. Hao sedang berdiri di depan gerbang masuk, menunggu supir menjemputnya. 

Jiung baru keluar dari tempat parkir. Dia melihat Hao. 

"Hao pasti lagi nunggu di jemput. Baru sehari gak nganterin lo, gw udah kangen. Apa lo masih marah sama gw?  Gw pengen banget ngobrol sama lo lagi," Batin Jiung. 

Hanbin dan Matthew juga baru mau pulang. Mereka segera menghampiri Jiung.

"Samperin jangan cuma diliatin doang," Kata Matthew.

"Gw gak berani."

"Masa lo gak berani?  Katanya lo pengen dapetin Hao, lo harus usaha dong," Kata Hanbin. 

"Hao mungkin makin marah kalo gw gak nepatin omongan gw."

"Gimana kalo dia malah marah kalo lo diemin dia kayak gini?" Tanya Hanbin.

"Orang marah itu harusnya di bujuk bukan diemin balik," Saran Matthew. 

"Mungkin Hao emang gak suka sama gw, dia keliatan baik-baik aja. Tadi juga dia ketawa-ketawa di kantin."

"Ada beberapa orang yg nutupin luka mereka dengan tawa. Mungkin Hao cuma berusaha menghibur dirinya sendiri," Kata Hanbin. 

"Iyah. Kita gak tau gimana perasaan dia. Hao juga orangnya pendiem, dia lebih suka memendam semuanya sendirian."

"Gw tau lo bukan tipe orang yg gampang nyerah. Semangat Jiung..!!" Kata Hanbin.

"Kita duluan yah."

"Hmm."

Matthew dan Hanbin pun pergi dengan motornya. 

"Okey. Gw akan coba ngomong sama Hao. Gw gak mau diem terus. Kalo dia marah itu urusan nanti, yg penting gw coba dulu."

Jiung menjalankan motornya menuju ke arah Hao. Dia berhenti tepat di belakangnya. Jiung mengumpulkan keberaniannya untuk bersuara.

"Supir lo belum jemput?" Tanyanya.

"Itu Jiung. Dia ngomong sama gw?" Batinnya.

"Woii Panda.."

"Kenapa?" Tanya Hao tapi dia melihat Jiung. 

"Ayo naik. Biar gw anterin."

"Gak usah. Bentar lagi gw dijemput."

"Udah mendung kayaknya bentar lagi hujan. Lo mau nunggu sampai kapan?"

"Gw akan tunggu sampai supirnya dateng."

"Kalo gak dateng gimana?  Mungkin aja mobil lo mogok."

Tiba-tiba handphone Hao berbunyi. Ada panggilan telfon dari supir pribadinya.
Hao segera menjawabnya.

"Bapak dimana?" Tanya Hao.

"Maaf tuan mobilnya mogok, sepertinya saya tidak bisa menjemput tuan sekarang."

Hao kesal sekali. Dia langsung mematikan telfonnya.
Jiung juga mendengar perkataan supir itu.

"Tebakan gw bener kan? Ini namanya takdir. Lo emang harus pulang sama gw," Kata Jiung.

"Gw gak mau. Mending gw naik taxi."

"Nyari taxi jam segini susah banget."

"Kalo gak ada taxi gw bisa naik angkot atau ojek."

"Lama. Udah mending naik motor gw aja," Kata Jiung sambil memberikan helm padanya.

CINTA SEPIHAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang