Kevin menarik tangan adel masuk apartemen yang akan mereka tinggali bersama, Kevin tidak rela istrinya lebih mementingkan adiknya ketimbang suaminya sendiri. Lebih-lebih dylan pernah bicara kalau dia suka adel, walaupun dylan berusaha menyakinkan semua orang tapi, Kevin tidak gampang percaya.
"Hiks, kak aku mau dirumahnya mamah vina aja kak, hiks" isak adel.
"Enggak, pokonya kamu harus tinggal disini, jangan ngeyel" tegas Kevin.
Adel menggenggam tangan suaminya "aku janji, kalau aku enggak akan perhatian sama dylan dan ak---"
"Keputusan saya sudah bulan, kalau kamu bersikeras mau kembali kerumah mamah, kita sekalian pindah keluar negeri supaya kam--"
"Enggak, aku enggak mau" potong adel.
"Yaudah makanya tinggal disini aja" ucapnya. Adel menatap sebal suaminya ia langsung masuk kamar membanting pintu cukup keras.
Kevin tidak menghiraukan itu ia langsung duduk di sofa memijit hidungnya "kenapa saya curiga sama adik saya sendiri, harusnya saya tidak curiga sama mereka, dylan adik saya jadi dia tidak akan merebut adel dari saya, tapi tetap saja, saya takut, secara mereka seumuran" lirihnya.
Cklek..
Kevin menoleh tersenyum tipis "mau apa?" Tanya Kevin lembut.
"Aku mau makan, lapar" rengek adel memegang perutnya yang keroncongan minta di isi "kak Kevin sana beli makanan, aku tunggu disini"
Kevin mengerutkan keningnya "kita pesan online saja" ucapnya mengotak-atik ponselnya memesan makanan untuk makan siang mereka.
Adel duduk di sofa ketakutannya terjadi ia jauh dari dylan, pasti akan terasa berat, sekuat tenaga ia menahan rindu. "Lama, aku lapar kak" kesal adel.
Kevin terkekeh geli melihat wajah kelaparan istrinya "sabar lagi otw ko, bentar lagi sampai" ucapnya.
Adel menyandarkan kepalanya di sandaran kursi ia menatap langit-langit apartment "kak, kenapa kakak mau nikah sama aku, yang umurnya jauh dari kakak?" Lirih adel. Seandainya Kevin menolak perjodohan ini mungkin ia dan dylan akan bersama selamanya.
"Karena saya cinta kamu" jawab gilbert cepat dan santai.
Adel menoleh menatap lekat Kevin "cinta?" Kevin menganggu "kalau saya punya pacar gimana?, Maksudnya saya mencintai orang lain" ucapnya.
Kevin cukup kaget ia menatap lekat istrinya "saya yakin kamu tidak punya pacar" ucapnya yakin.
Adel yang mendengar itu terkekeh kecil "saya punya pacar, hanya saya tidak publish, jadi, saya mohon kakak hapus cinta kakak untuk saya, karena. Itu membuat kam Kevin sakit hati" ucapnya menatap lekat mimik wajah suaminya.
Kevin menatap datar adel "sekeras apapun kamu menolak saya, takdir sudah berpihak pada saya" ucapnya tegas.
Adel memejamkan matanya "asal kak Kevin tau, waktu ayah saya mau jodohkan saya, waktu itu saya lagi bersama pacar saya, tiba-tiba ditelpon suruh pulang, terus ayah ceritain kalau saya mau di jodohkan, saya tentu tolak langsung, karena saya mencintai pacar saya, kami menjalankan hubungan selama 3 tahun lebih, suka duka, kita jalani bersama, sampai akhirnya kita harus terpisah, setiap hari saya kepikiran dia terus, apa dia akan selalu bersama saya, dengan status saya yang sudah menikah, atau mau dia...pergi" lirihnya.
Kevin cukup kaget mendengar cerita adel "pokonya saya akan tetap cinta kamu, apa perlu saya bunuh orang yang kamu cintai supaya kamu mencintai saya, dan kamu tidak akan pergi dari saya?" Tanyanya sedikit ancaman.
Adel menoleh kaget menatap tajam suaminya "berani kakak sentuh dia, berhadapan dengan saya langsung, karena dia separuh napas saya" ancamnya.
Ting..tongg..
Kevin yang tau ia langsung membuka pintu, menerima pesanannya. "Jangan bahas itu, kamu makan aja" ucapnya sambil membuka pizza "saya tau cerita kamu bohong, saya yakin kamu tidak punya pacar" yakinya.
Adel menatap Kevin "serius saya punya pac--"
"Udahlah, saya malas berdebat makan aja tadi bilang lapar" ucapnya menyodorkan pizza kedepan yang langsung adel terima.
"Serah kalau enggak percaya" ia langsung mengigit pizza itu sedikit kesal, ia kira Kevin akan menceraikan dirinya, setelah tau kalau dirinya sudah punya pacar, eh, responnya diluar dugaannya.
***
Adel tidur dikasur ia menatap langit-langit kamar, sedari tadi ia tidak bisa tidur entah kenapa pikirannya kacau "kak, aku enggak bisa tidur" rengek adel.
Kevin menoleh "kenapa? Kamu masih lapar?" Tanyanya "nanti saya pesankan makanan" lanjutnya sambil duduk di kasur.
"Bukan, saya tidak bisa tidur ditempat lain, maksudnya saya enggak betah, saya resah" ucapnya jujur.
Kevin menatap datar adel "kamu jangan buat saya kesal, please, tidur jangan banyak alasan hanya karena kamu ingin kembali kerumah mamah Vina" ucapnya.
Adel menatap kesal suaminya "kenapa sih enggak percaya sama saya, kak, saya juga manusia, saya enggak nyaman disini, asal kakak tau semenjak SD sampai SMK, saya enggak pernah ikut kemping, atau apalah itu yang berbaur menginap ditempat lain, bahkan saya saja belum pernah menginap di rumah nenek saya, dan sekarang saya dipaksa untuk tidur, saya tidak bisa" kesal adel menatap benci Kevin.
"Lalu kenapa kamu betah di rumah mamah vina?" Heran Kevin.
Ya, juga kenapa ia betah disana, mungkin ada dylan pikirnya, dylan berpengaruh di kehidupannya. Ah. Jadi makin cinta.
"Saya juga enggak tau, yang jelas saya tidak bisa tidur sekarang" kesalnya.
Kevin yakin kalau adel bohong padanya, ia kembali merebahkan tubuhnya mengabaikan adel yang berteriak-teriak minta pulang, adel turun dari kasur ia berjalan keluar balkon, Kevin mengintip takut-takut, adel berbuat aneh dan membahayakan keselamatannya.
Karena Kevin terlalu kantuk ia tertidur pulas, sedangkan adel ia enggan untuk tidur. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, adel masih belum tidur bahkan ia ingin cepat-cepat pagi dan segera berangkat kuliah.
Jam lima adel mandi masih belum ingin tidur, ia sudah rapih dengan outfitnya. Baju lengan pendek dipadu dengan rok pendek warna putih kotak-kotak.
Kevin membuka kelopak matanya ia menatap Adel yang sudah rapi "sayang, tumben pagi-pagi udah rapih gini, mau kemana?" Tanya Kevin khas bangun tidur.
Adel menoleh "mau kuliah lah, emangnya mau kemana coba" jawabnya sinis.
Kevin duduk diatas kasur "ini tanggal merah, mau ngapain kuliah" ucapnya terkekeh kecil.
Adel menoleh menatap suaminya "ko baru ngomong sih, aku udah siap gini. Arghh" kesalnya menghentak-hentakan kakinya ke lantai.
"Suruh siapa bangun pagi-pagi" ucapnya sambil turun dari kasur.
Adel memutar bola matanya malas "aku enggak tidur, dari semalam asal kamu tah" sinisnya.
Mata Kevin membulat sempurna "kamu enggak tidur?, Yang benar?" Tanya gilbert.
Adel mengangguk "aku enggak bisa tidur, kalau kamu ngotot mau tinggal disini, aku mau pulang aja kerumah aku mau tinggal disana, daripada seumur hidup aku enggak bisa tidur, yang ada aku mati gara-gara enggak bisa tidur, terus kamu jadi duda tua, hahah, lucu" tawanya membayangkan semuanya, aneh itulah adel Chyntia Sari.
Kevin menatap datar istrinya "ck! Oke kita pulang ke rumah mamah vina, asalkan kamu jangan dekat-dekat, dylan" putusnya ia langsung masuk kamar mandi.
Sedangkan adel ia mancak-mancak kegirangan, enggak sia-sia ia dramatis, pura-pura enggak bisa tidur, padahal tadi malam ia tidur dikamar mandi, tanpa sepengetahuan gilbert. "Aku tuh suka tidur, mana ada aku enggak betah, hehe" cicitnya. "Dasar berondong tua, mau aja dibodohin bocil umur 21, eh gue kan udah dewasa, eh bodoamat deh" ribut sendiri.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
satu hati 2 pria [TAMAT]
Teen FictionBagaimana rasanya jika kalian menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat kalian cintai, tapi takdir berkata lain, Adel Chyntia Sari, biasa disebut Adel Yang masih berumur 21 tahun, Harus menikah dengan kakak dari kekasihnya sendiri. Kevin April...
![satu hati 2 pria [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/342264170-64-k606034.jpg)