76. kembali

195 8 1
                                        

Lima tahun kemudian

wanita cantik keluar pesawat sambil menyeret kopernya, lima tahun ia meninggalkan kotak kelahirannya, lima tahun ia meninggalkan kenangan yang yang begitu indah, dan begitu buruk, lima tahun ia meninggalkan bayi kecil yang sudah lahir di rahimnya.

Banyak pasang mata yang menatapnya kagum, bagaimana tidak kagum, peras yang cantik, tubuh yang mungil. Sepertinya tubuh mungil itu sudah mendarah daging di tubuhnya, tidak bisa dirubah.

"Del, mau apartemen aja atau hotel?" Tanya pria di sampingnya, bernama---noval.

Adel membuka kacamata hitamnya, menoleh menatap noval. "Kita hanya beberapa Minggu disini, lebih baik di hotel saja" ucap adel.

Ya, wanita cantik yang keluar dari pesawat itu adel Chyntia Sari, yang sudah lama meninggalkan kota kelahirannya, kota yang sangat ia rindukan selama lima tahun ini.

Noval mengangguk, Mereka langsung masuk kedalam taksi yang sudah dipesan novel. Diperjalanan adel menatap kosong jalanan, jalan yang sudah pernah ia lewati beribu-ribu kali.

Tanpa sadar air matanya menetes membasahi kedua pipinya. "Apa kabar" lirih adel entah sama siapa.

Novel menoleh kaget, ia menggenggam tangan adel, ia tau masalah temanya ini. "Are you oke?" Tanya novel.

Adel mengangguk ia mengusap air matanya. "I'm fine. Gue udah lupain semuanya, lagian kita ke sini buat kerja bukan buat mengenang masa lalu, haha" kekeh adel hambar.

Adel dan novel turun dari taksi, mereka langsung check-in, adel masuk kedalam hotel yang cukup mewah. "Nov, lo langsung istirahat aja ke kamar lo, nanti kalau gue perlu sesuatu lo harus samperin gue langsung" ucap adel.

Noval mengangguk cepat. "Siap, princess, kalau gitu saya undur diri dulu, selamat istirahat, haha" tawa novel sambil keluar kamar hotel adel.

Adel terkekeh kecil ia langsung berjalan balkon kamar hotelnya, ia menatap kota Jakarta yang sangat ramai. "Welcome to Jakarta" cicit adel.

Lama mengamati jalanan yang ramai, setelah puas ia kembali masuk merebahkan tubuhnya di kasur empuk, ia berusaha memejamkan matanya. Ingatannya kembali pada lima tahun lalu, dimana ia masih tinggal di kota ini, kota yang sangat ia cintai.

"David pasti udah besar, umur dia sekarang udah 5 tahun, dia pasti tubuh dengan sehat" lirih adel. Mau ia sejahat apapun david tetap anak kandungnya.

***

Adel dan noval sekarang ini sedang makan di restoran terbesar di kota Jakarta, restoran yang dulu ia sering makan bersama keluarga, dan teman-temannya.

"Enak juga nih makanan" puji noval.

Adel hanya mengangguk membenarkan perkataan temannya. Tatapannya jatuh pada anak kecil berusia lima tahun berlari-lari tanpa arah, berlawanan dengan seorang pelayan yang membawa makanan begitu banyak.

Ia mendorong keras kursi yang ia duduki sampai terjatuh kelantai, semua pengunjung menatap adel keheranan, termasuk noval yang kaget melihat adel berlari kencang menghampiri anak kecil.

PRNAGG...

Adel langsung menarik anak laki-laki itu, ia dekap tubuh bergetar anak laki-laki itu, entah kenapa ia sangat khawatir dengan anak yang sedang ia peluk ini.

"Hwaaaa" tangis anak laki-laki itu, memeluk tubuh adel erat.

Adel mengelus punggung anak kecil dipeluknya. "Are you oke?" Tanya adel melepaskan pelukannya, setelah anak laki-laki itu tenang.

Mengangguk pelan "aku baik-baik saja, terimakasih mamah" ucap bocah itu menatap adel.

Adel mengerutkan dahinya, 'mamah' kenapa bocah ini memanggilnya mamah, mungkin masih syok, pikirnya tidak mau ambil pusing.

Adel mengangguk pelan, ia membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan bocah kecil menggemaskan. "Lain kali hati-hati, ya, jangan lari-lari" ucap adel. Ia menatap lekat wajah dan mata bulat coklat anak kecil dihadapannya, rasanya ia mengenal wajah dan mata itu, menggeleng pelan, tidak mungkin.!

"Mbak, gimana sih anaknya dijaga dong, lari-lari di sini, ini bukan taman bermain" marah pelayan yang tadi nabrak anak kecil.

Adel menoleh ia mengangguk pelan "maaf, nanti saya bayar ganti ruginya" ucap adel tidak mau ambil pusing, pelayan mengangguk ia langsung beranjak dari sana.

Adel mendudukkan anak kecil itu di kursi. "Nama kamu siapa?" Tanya adel.

"Dav---"

"David, astaga!" Teriak wanita paruh baya, diikuti ketiga laki-laki dan dua perempuan.

Adel mematung tubuhnya membeku, ia mengenal suara, dan nama itu. "D-david" cicit adel.

David yang dipanggil ia langsung berlari menghampiri sumber suara. "Oma, opah, om, papah, aunty" panggil davit memeluk Omanya.

Noval berlari menghampiri adel, ia menatap adel yang hanya bengong. "Adel, astaga, lo enggak papa?, Ada yang luka?" Tanya novel khawatir, novel membantu adel bangun. "Jangan ngelakuin hal yang ceroboh, del, walaupun itu demi kebaikan orang lain" tegur noval.

David menunjuk adel. "papah, mamah itu nolongin david, dia tarik david, terus dia peluk david, dia juga nenangin david" tunjuk david pada Adel yang hanya menunduk.

Ya, papah yang dipanggil david itu, kevin, dylan, hardi, vina, dan sela. Mereka terkejut mendengar nama yang sudah lama tidak mereka denger.

David turun dari gendongan omanya. Ia berlari tanpa sendal, adel yang melihat didepannya ada pecahan beling tajam, reflek ia menggeser pecahan beling itu menggunakan tangannya langsung, tanpa menghalang. "Awhhh" rintih adel.

David memeluk adel. "Mamah" panggil david "mamah makasih" ucap david.

Adel mendongak ia menatap wajah david, kevin, hardi, vina, sela, dan dylan menatap kaget adel. Wanita yang selama ini mereka cari. Wanita yang sudah lima tahun meninggalkan mereka tanpa jejak.

"Lain kali hati-hati, jangan ceroboh, kamu bisa terluka" tegur adel.

"A-adel" kaget mereka menghampiri adel.

Adel melepaskan pelukannya ia menatap mereka, dengan tatapan Sulit diartikan, Ia mundur beberapa langkah. "Noval, kita harus pergi sekarang" ajak adel.

Kevin langsung menahan pergelangan tangan adel. "A-adel, i-ini kamu s-sayang?" Tanya kevin gugup. Perubahan adel sungguh jauh, ia semakin bertambah cantik, hanya tinggi badan adel yang tidak berubah.

Adel mematung ia menatap lurus, Menepis tangan kevin. "Maaf saya tidak kenal dengan anda" ucap adel bohong.

Kevin menggeleng. "Jangan bohong, ini saya suami kamu, del, kamu kemana aja, aku cari kamu kemana-mana tapi kamu tidak ada" lirih kevin, ia menarik tubuh adel memeluknya dari belakang. "Kamu ninggalin saya, dan ninggalin anak kita, david, dia tubuh besar tanpa seorang ibu disampingnya, kamu tau, kalau aku tidak bisa urus david sendiri, dia jadi anak yang ceroboh, seperti sekarang ini, dia hampir celaka dua kali, untung ada kamu" ucap kevin panjang lebar.

Noval menarik paksa adel dari pelukan pria yang tidak ia kenal. "Kalian siapa?, Jangan peluk sembarangan" tegur noval.

Dylan berjalan menghampiri adel. "Kamu enggak lupa sama aku, kan, del?" Tanya dylan lirih.

Air mata adel mengalir deras, ia berlari keluar mal dengan perasaan hancur, noval menyusul adel yang berlari tanpa arah.

"ADEL" teriak kevin dan dylan

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang