38. dua garis merah

364 5 0
                                        

Kevin mengajak adel ke kantornya, ini pertama kalinya adel ke kantornya, selama dua bulan menikah adel belum pernah ke kantor kevin, dan ini pertama kalinya, kevin merangkul pinggang adel posesif. Adel mendengus kesal tapi ia bisa apa selain nurut sama suaminya yang super posesif.

"Pagi pak" sapa karyawan yang berpapasan. Kevin mengangguk kecil ia masuk ke ruangan pribadinya.

Adel menatap sekeliling kantor suaminya yang sangat besar, dan mewah "besar banget, kantor kak kevin" ucap adel.

Kevin tersenyum tipis mengusap poni adel gemas "kantor kamu juga, kan, kamu istri aku" ucap kevin.

Adel duduk di kursi kebesaran suaminya "kakak duduk di sini" adel menepuk kursi di depannya yang terhalang meja. Tanpa protes kevin duduk menatap adel "jelaskan kesalahan bapak dimana?" Tanya adel menatap serius kevin.

Kevin terkekeh geli "kesalahan saya telah mencintai pacar adik saya sendiri, yang alhamdulillahnya jodoh saya sendiri" jawab Kevin.

Adel diam ia mendengus sebal "pak Kevin, apakah anda tidak ingin memilki istri lagi?" Tanya adel.

Kali ini kevin yang mendengus sebal "tidak, saya tidak ada niatan untuk punya istri lagi, saya mencintai istri saya yang sekarang ini ada di hadapan saya" ucapnya.

Adel mengangguk kecil "pak Kevin, apakah anda memiliki pac--"

Tokk..tok..

Ucapan adel terpotong saat seseorang mengetuk pintu ruangan kevin, adel mendengus sebal "ganggu, ah, nyebelin" kesal adel mendorong kursi kebelakang.

Kevin membuka pintu ia menatap datar perempuan itu "ada apa?" Tanya kevin to the point.

"Ini harus di tanda tangani, pak" ucapnya.

Kevin mengangguk ia langsung menutup pintu, kembali menatap istrinya yang masih kesal "kenapa, hm?" Tanya kevin lembut.

Adel menggeleng "dah ah, malas, nyebelin banget orang lagi serius-serius diganggu terus, heran deh, enggak bis bikin orang senang" kesal adel.

Kevin menghampiri istrinya "kenapa marah-marah gitu, hm?, Mau makan atau mau jal--"

"Enggak" sentak adel kesal "mau pulang aja" kesalnya.

Kevin menatap adel kenapa istrinya gampang marah "gini aja, tunggu bentar aku mau tanda tangan dulu, nanti kita pulang" pasrah kevin, buru-buru ia tanda tangan "yuk kita pulang" ajak kevin, adel mengangguk.

***

Adel megerjapkan matanya ia menutup mulutnya, tiba-tiba perutnya mual, rasanya ia ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perut. "Kenapa aku pengen, muntah" cicitnya.

"Uekkk--uekk"

Adel berlari ke kamar mandi ia ingin muntah tapi tidak ada yang keluar dari dalam mulutnya. Hanya cairan bening yang keluar "uhekk..uhekkk" rasanya perutnya tidak enak, membasuh wajahnya dengan air.

"Kenapa aku pengen muntah gini, kayanya aku masuk angin" lirihnya.

"Uekk..uekk"

Kevin yang masih tidur ia terbangun kaget mendengar suara adel yang muntah-muntah "sayang kamu kenapa?" Tanya kevin khawatir.

Adel menoleh "kayanya aku sakit, soalnya perut aku mual" lirih adel lemas.

"Kita kerumah sakit" ajak kevin khawatir.

Adel menggeleng "aku cuman butuh istirahat, dan minum obat, nanti juga sembuh, aku mau mandi dulu mau kuliah" lirihnya ia langsung mendorong kevin keluar kamar mandi, menguncinya dari dalam.

"Apa adel hamil" cicit kevin.

Adel sudah siap ia menatap dirinya dipantulan cermin "emang dasarnya cantik gini, mau pakai apapun tetap cantik" puji adel pada dirinya sendiri.

satu hati 2 pria [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang