32. main

444 4 0
                                        

Adel dan Kevin masuk rumah mereka, kevin merangkul pinggang istrinya posesif, adel menghela napas berat mereka duduk di sofa, kevin mengelus rambut adel menciumnya singkat "jangan tinggalkan aku lagi, ya" ucap kevin lembut.

"Asalkan kamu berubah, kamu jangan kasar lagi" ucap adel lemas.

Kevin mengangguk "iya aku janji" ucapnya lembut, kevin menekankan handphonenya "mau makan apa?, Biar aku pesan" tanyanya.

Adel menggeleng ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa "kalau kaya gini sepi banget, enggak ada yang bisa diajak main" lirih adel jenuh.

Kevin menaruh handphonenya di meja "makanya punya anak, biar bisa main sama anak kita" sahut Kevin santai tanpa menghiraukan tatapan tajam istrinya.

"Kita kerumah aku yuk, aku kangen sama bang alek" ajak adel "disana ram--"

"BESTIE" teriak mega merentangkan tangannya "GUE RINDU LO" lanjutnya.

Senyum adel mengembang mereka langsung berpelukan Teletubbies "arghh, rindu kamu juga" rengek adel mengoyong-goyongkan tubuh adel.

Mereka duduk di sofa "rio sama rudi, enggak kesini?" Tanya adel tidak mendapati kedua sahabatnya.

Mega menggeleng "mereka sibuk ngerjain tugas kuliah, maklum calon dokter" ucap mega sambil memeluk toples yang isinya kripik pisang tanpa rasa malu "enak, del, gue bungkus boleh, kali?" Tanya adel menaik turunkan alisnya.

Kevin dan adel geleng-geleng kepala "boleh, ambil aja, sepuas lo, heran sama lo, padahal lo anak orkay, masih aja mau yang gratisan" heran adel.

Mega tersenyum manis "jika ada yang gratisan kenapa harus mengeluarkan duit, haha" tawa mega.

Adel melirik suaminya "sana pergi, aku mau ngobrol berdua sama maga" usir adel.

Kevin menggeleng "enggak, ngobrol tinggal ngobrol" ucapnya, ia takut adel mengobrol tentang dylan, atau pria lainnya.

Adel mendengus sebal "nyebelin" kesalahan menendang kaki kevin.

Mega menatap kevin yang sedang memainkan rambut adel "pak kevin, boleh kali intip-intip kuis buat besok, supaya saya bisa belajar buat besok, takut-takut nilai saya jelek" ucap mega tersenyum manis.

Kevin melirik mega sinis "enggak, enak aja, makanya belajar yang benar, lo, sama istri gue, nilainya jelek-jelek" ucap kevin.

"Masa sih?, Padahal saya belajar terus, lho, pak" ucap mega.

"Walaupun kita belajar giat, pak kev--"

"Saya bukan bapak kamu" potong kevin menarik pelan rambut adel.

Adel memutar bola matanya malas "kak kev--"

"Saya bukan kakak kamu" sembur kevin kesal.

Adel menatap tajam kevin "biasanya juga manggil kakak, udah deh diam, katanya mau nurut" kesal adel. Kevin mengangguk takut, mega yang melihat wajah ketakutan suami sahabatnya ingin tertawa terbahak-bahak, tapi ia masih sayang nyawanya.

"Kenapa del?" Tanya Mega melihat wajah sahabatnya kebingungan.

"Tadi gue--"

"Jangan gue-gue, adel, enggak sopan" tegur kevin tak suka.

Adel menarik napasnya "tadi aku ngomong sampai mana?" Tanya adel lupa.

"Sampai belajar giat" ucap mega sambil minum jus yang dibuat pelayan.

Adel mengangguk "walaupun kita belajar giat, kita enggak bakal dapat nilai bagus" ucap adel malas.

"Kenapa gitu?" Tanya kevin sekaligus heran, kenapa dengan dirinya, kenapa ia selalu disalahkan istrinya.

"Ya karena kakak licik, contohnya gini, kita belajar A, ngasih kuis Z mana nyangkut coba ke otak polos kita" ucap adel panjang lebar.

"Emang lo, polos del?" Tanya mega mengejek.

Adel melotot ia melempar bantal tepat mengenai wajah mega yang tertawa terbahak-bahak "diam lo, ah, enggak seru" kesal adel.

Mega menatap adel "eh bentar itu suara motor dua curut" ucap mega menajamkan pendengarannya.

Adel mengangguk, kevin langsung berdiri ia melihat dua sahabat istrinya "dylan enggak ikut?" Tanya Kevin menatap dingin mereka berdua.

Mereka menggeleng "enggak, dia lagi malas keluar, kita boleh masuk?" Tanya rudi. Kevin mengangguk mempersilahkan mereka masuk.

"Del, apa kabar?" Tanya Rudi.

Adel mengangguk tersenyum tipis "baik, oh ya, dy--kalian darimana?" Tanya adel, hampir saja keceplosan.

"Cafe, abis ngerjain tugas, del, minum dong" pinta rudi mengelus tenggorokan yang kering.

"Katanya Lo abis ke cafe, ko haus?" Tanya mega.

Rudi melirik sinis mega "gue ke cafe satu jam yang lalu, minuman gue udah habis 30 menit lalu--"

"Berisik" sembur kevin. "Bikinkan minum mereka berdua" suruh kevin pada pelayan.

Rudi menatap sinis kevin "sombong banget, enggak kaya adiknya" cicitnya.

Kevin mengambil bantal yang tadi ia sadarkan menutupi paha adel "lain kali kalau ada teman-teman kamu, jangan pakai kaya gini, saya enggak rela mereka lihat yang seharusnya hanya untuk saya lihat" bisik kevin.

Adel mengangguk kecil malas berdebat dengan kevin, lebih baik menurut agar selesai. Adel menatap temen-temennya "kalian sering-sering kesini, biar aku ada temannya, suntuk disini" ucap adel.

"Asal ada makanan, dan minuman aja" sahut mega.

"Makanan mulu, heran deh sama lo, meg" ucap rudi sambil minum jus yang dibuat pelayan.

"Del gue boleh pinjam kamar mandi?" Tanya Rio yang sedari tadi diam.

Adel mengangguk cepat "boleh z gue antar, yuk" ucapnya. Kevin menarik tangan adel "apa sih kak?, Aku enggak macam-macam sama rio, dia sahabat aku" ucap adel kesal.

"Awas macam-macam" adel langsung pergi bersama rio ke kamar mandi dekat dapur.

Rio berhenti tepat di depan kamar mandi "lo udah cinta sama, kak kevin, del?" Tanya rio hati-hati.

Adel mengerutkan dahinya "maksud lo? Apa" tanya adel tak paham.

"Lo cinta sama kak kevin?" Ulang rio.

Adel menggeleng ribut "enggak, gue enggak gampang suka, gue sama dylan udah ngejalanin hubungan 3 tahun lebih, dan cinta gue enggak pernah pudar atau berkurang sedikitpun" jelasnya.

Rio mengangguk matanya tidak sengaja melihat bungkus obat di tong sampah, ia ambil, melihat bungkus obat itu seketika matanya membulat sempurna "lo minum obat, KB, del?" Tanya rio.

Seketika adel gelagapan ia merebut bungkus obat itu "i-ini, obat biasa, obat sakit kepala" elaknya.

Rio menatap adel lekat "gue tau jenis obat, jadi gue enggak bisa dibodohi, jawab gue, kenapa lo minum obat itu?" Tanya rio.

Adel mengangguk pasrah "gue takut hamil, rio, gue belum siap, gue enggak mau hamil anak kak kevin, gue mau hamil anak dylan" lirihnya.

Rio terkekeh kecil "lo ngerasa enggak, kalau ucapan lo itu salah" tanya Rio.

Adel menggeleng "benar ko, gue enggak mau hamil anak kak kevin, gue mau hamil anak dylan, cowok yang gue cintai"

Rio mengangguk kecil "serah lo, gue ingetin jangan pernah minta obat KB, karena nantinya akan susah untuk punya anak" ucap rio.

"Lebih bagus, tapi kalau sama dylan jangan lah" ucap adel cepat.

"Jangan terlalu berharap, menyakitkan" setelah mengatakan itu ia langsung meninggalkan kamar mandi, memang niatnya ingin mengobrol serius soal kevin, tanpa kevin denger.

****

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang