51. kumpul

242 3 0
                                        

Saat ini teman-temannya adel sedang berkumpul di taman belakang rumah termasuk Dylan, adel tentu sangat senang bisa kumpul dengan temen-temennya termasuk, Dylan.
Sesekali adel dan dylan saling melirik dan tersenyum tipis.

"Sepi banget di kelas enggak ada, lo, gue kantin sendiri, biasanya sama lo berdua" ucap mega.

Rudi memukul mega menggunakan kripik yang ia makan "berempat, bego, gue, rio, dylan, eh, si dylan kan pindah waktu itu, jadi bertiga" ucapnya lupa.

Mega menatap sengit rudi "biasanya berangkat berdua kantin, bego, gitu maksud gue, enggak paham-paham sumpah" kesalnya.

"Sayang" panggil kevin baru pulang dari kantor, kevin menatap datar keempat orang yang menatapnya. Kevin menghampiri adel ia berdiri di samping adel. Karena kursi yang Adel duduki hanya muat dua orang, mega langsung berpindah. "Kenapa kalian kesini?, Ada perlu apa?" Tanya kevin dingin dan menusuk.

Rudi menyenggol rio agar menjawab, kali ini Rudi tidak berani, tatapan kevin menusuk dan tajam, seperti ingin menerkam mereka.

"Kita mau main" jawab rio seadanya.

Mega mendengus sebal, teman satunya ini memang irit bicara "jadi gini, kita mau main aja sama adel, udah 3 bulan enggak ketemu jadi kita rin---"

"Tanpa izin saya?" Potong kevin.

Mereka langsung diam, adel yang tau mereka takut ia langsung mencubit pinggang kevin, menatap kevin kesal
"Apaan sih, jangan gitu dong, mereka sahabat aku" kesal adel.

Kevin menoleh menatap datar istrinya "termasuk mantan pacar kamu?" Kevin menekan kata 'mantan pacar' sambil melirik dylan yang menatapnya dingin.

"Kita belum putus" batin adel dan dylan.

Adel berusaha sabar ia menarik kuping Kevin, yang membuat semua orang kaget, termasuk Dylan, menatap adel khawatir, takut Kevin tidak terima. "Katanya kamu mau berubah, kenapa kamu masih kaya dulu, hah?" Kesal adel.

Kevin meringis sakit ia melepaskan tangan adel dari kupingnya, menatap adel cemberut "ish, sakit tau, galak banget sama suaminya, padahal suaminya cemburu" lirih kevin, menatap temen-temen istirnya dengan tatapan tidak suka "lanjutin ngobrolnya, saya enggak bakal ganggu" lanjutnya terpaksa.

"Kenapa kamu masih disini?, Sana masuk" usir adel.

Kevin menggeleng "enggak. Saya mau disini, titik" menarik pinggang adel agar rapat dengannya.

"Awas ganggu" ancam adel.

Rudi menatap sahabatnya "eh, gue dengar-dengar kampus kita bakal adain party, bener enggak pak kevin?" Tanya rudi menatap Kevin yang asik memainkan rambut adel.

Kevin menghendikan bahunya "enggak tau" jawabnya singkat.

Dylan mengangguk kecil "Ya, gue perwakilan buat jaga semua siswa-siswi" jawab dylan yang sedari tadi hanya diam.

Adel menoleh menatap dylan "perwakilan kesehatan?, Berarti semua siswa-siswi dong, maksudnya--"

"Jangan lebih bicara dengan dylan lebih dari 3 kata" potong kevin.

Adel melotot kaget, begitupun dylan dan yang lain "astaga! Kak, ah bodoamat" kesal adel.

"Del, lo lanjut kuliah, enggak?" Tanya mega, di angguki yang lain.

Adel diam ia menunduk sedih "enggak tau, kayanya enggak, kak Kevin larang aku--"

"Kuliah, tapi beda kampus" potong kevin menatap adel yang kaget "ya, karena enggak mau kamu satu kampus sama, dylan" lanjutnya.

Dylan mendengus sebal, bisa-bisanya Kevin posesif seperti itu "santai aja kali, gue juga tau bat--"

"Saya tidak bicara sama kamu" potong kevin.

Adel menarik dagu kevin agar menatapnya "kenapa gitu?, Aku enggak mau pindah kuliah, kak, aku--"

"Kalau kamu enggak mau kuliah di kampus lain, yaudah jangan kuliah, lebih bagus, karena, kamu tidak perlu capek-capek" potong kevin.

Adel mendengus sebal "enggak asik--"

"Kamu boleh kuliah di kampus lama kamu, dengan syarat--"

"Apa?" Tanya adel tidak sabar.

Kevin tersenyum miring "kamu harus hamil anak saya dulu, baru kamu boleh kuliah disana" jawabnya santai, sontak membuat adel dan yang lain kaget. Kevin melirik dylan yang menatapnya tajam "gimana?, Masih mau kuliah di kampus lama?" Lanjutnya sambil mengelus perut rata adel.

Adel mendorong kevin "apaan sih, aku belum siap hamil" sentaknya.

Kevin mengangguk kecil "terlambat, saya sudah menanam benih cinta saya kedalam rahim kamu, sayang" bisik Kevin tepat ditelinga adel, menggigitnya pelan.

***

Adel memeluk guling erat Enggan menatap kevin yang sedari tadi menderek memintanya memeluk kevin. "Apaan sih, jangan pegang-pegang" sentak adel menepis kasar tangan kevin dari perutnya.

Kevin menarik tangan adel sampai menatapnya "saya enggak suka kamu cuekin saya, camkan itu" ucapnya, bahkan tidak lagi menggunakan kata 'aku'.

Adel kembali mendorong kevin yang memeluknya erat "minggir, ah, mau tidur jangan ganggu aku" kesalnya.

Kevin mendengus sebal "jangan buat saya marah, adel Chyntia Sari, saya enggak mau marah-marah sama kamu, ini udah malam" lirihnya berusaha sabar menghadapi sikap istrinya yang sedang ngambek.

Adel menatap dingin Kevin, yang ditatap biasa saja "oke, tapi ijinkan aku kuliah di kampus lama, baru aku mau turuti kemauan kamu" ucapnya selembut mungkin, supaya kevin menuruti kemauannya.

Kevin tersenyum miring ia mengelus adel "gampang, kamu tinggal turuti aku saja malam ini, baru kamu boleh kuliah di kampus lama" ucap kevin.

Adel bergidik takut "jangan aneh-aneh, aku enggak mau" curiga adel, pasti Kevin merencanakan sesuatu.

Kevin menindih tubuh adel "kita senang-senang malam ini, sampai pagi, sampai saya puas dan lemas, baru kamu boleh kuliah di kampus lama kamu, bersama teman-teman kamu" ucapnya.

Adel menggeleng tegas "enggak, aku enggak mau, enak aja, turun" tolak adel mendorong tubuh besar kevin.

Kevin mengangguk kecil "yasudah kalau kamu menolak, saya tidak memaksa, itu keputusan kamu sendiri, dan kamu tidak akan berkumpul sama teman-teman kamu" ucapnya, adel melotot ia menggeleng tegas, menahan tubuh kevin yang hendak turun.

"Jangan, ish, enggak ada syarat lain?" Tanya adel lirih.

Kevin menggeleng "malam ini aku mau kamu yang awali, kamu harus buat aku--"

"Aku enggak bisa, tolong jangan aku" potong adel dengan wajah yang memelas.

Kevin mengangguk paham ia melepaskan kancing baju adel "kalau kamu tidak bisa, berarti kamu harus bisa buat tanda kepemilikan kamu di leher aku" pintanya.

Adel menggeleng "aku enggak bisa, kak, aku--"

"Udah aku bilang malam ini kamu yang leb--"

"Oke, aku coba, mesum banget sih, abis ini kakak jangan kerja dulu untuk beberapa hari, biar hilang dulu itu nya, ish, anu, nya" ucap adel bingung sendiri.

Kevin terkekeh gemas "iya, nanti saya ambil cuti" bohongnya. "Ayo cepat, mau yang sebelah kanan, atau kiri?" Tanyanya, tidak sabar. Akan ia tunjukkan pada dylan dan semua orang.

Adel menggaruk kepalanya bingung "kak, aku enggak bisa, gimana bikinnya" bingung adel.

Kevin menjelaskan, walaupun ia tau adel hanya berpura-pura, untuk mengulur waktu. "Paham?, Mas enggak paham sih" ucap kevin.

Adel mengangguk paham, walaupun sedari tadi paham, ia mulai melakukannya, kevin mengeram, kenapa tidak dari dulu saja ia memaksa adel. "Udah" ucap adel melihat merah di leher kevin.

Kevin mengambil ponselnya ia untuk berkaca, tersenyum miring "cantik sekali, ternyata kamu jago juga, ya" ucap kevin. "Lagi dong, pokonya yang banyak" ucapnya. "Dylan lo bakal sakit hati, lihat ini" batin kevin.

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang