Adel memeluk David yang tidur pulas di kasurnya, mengabaikan kevin yang yang sedari tadi merengek. Entah apa yang dia mau, jelas-jelas adel muak. Dan benci dengan kevin.
Sudah satu minggu kevin belum juga mendapatkan bukti kalau pesan itu tidak benar. Adel tidak memperdulikan itu, mulai sekarang ia fokus dengan kuliahnya, dan david.
Rasuna kepalanya ingin meledek, hubungannya dengan dylan hancur. Hubungan rumah tangganya diambang kehancuran.
Kevin tidak henti-hentinya menjelaskan dan meminta maaf, kalau dirinya tidak bersalah, bahkan ia sudah membayar hackers yang bisa membantunya, tapi sayangnya mereka gagal. Karena. Si sms itu sangat pintar.
Kedua orangtuanya terus membujuk adel supaya Percaya dengan Kevin. Tapi adel tetap adel, wanita keras kepala. Ia membenci perselingkuhan, tapi ia sendiri yang selingkuh. Sungguh tidak adil untuk kevin.!.
"Oekkk...oekkk"
Adel menepuk-nepuk pelan david, supaya tidur kembali, karena waktunya David tidur. "Tidur, mau ngapain sih?" Tanya adel kesal.
Kevin yang mendengar anaknya menangis ia langsung mengambil david paksa. "Jangan lampiaskan amarah sama anak kecil. Kalau kamu marah sama aku, marah aja, jangan sama david, dia enggak tau apa-apa” bentak kevin.
Adel bangun ia menatap datar Kevin. "Kamu bentak aku?" Tanya adel sinis
"KALAU IYA KENAPA?, MAU MARAH?, MAU PERGI DARI SINI?, SILAHKAN, AKU ENGGAK BAKAL PEDULI LAGI SAMA KAMU, AKU BAKAL URUS DAVID. JAUH LEBIH BAIK DARI KAMU"
Adel terkekeh hambar. "Kau sendiri yang menahan aku untuk tidak keluar dari sini. Dan sekarang kau yang mengusirku, Fine aku bakal pergi dari sini." Ucap adel. Ia memasukan baju-bajunya ke koper miliknya.
Sedangkan Kevin ia terus berusaha menenangkan David, yang semakin menangis kencang. "Sayang, jangan nangis, disini ada papah" ucap kevin lembut.
Adel mengambil tas selempang. "Jaga David baik-baik. Aku memang wanita egois, tapi aku sayang David" ucap adel. Ia langsung keluar rumah. Air matanya mengalir deras.
Ia masuk kedalam taksi menatap lurus jalanan yang ramai, karena malam ini malam Minggu. "Tujuan keamanan mbak?" Tanpa supir.
"Ke jalan, melati, nomor 12" sahut adel asal-asalan.
Supir mengangguk. Adel kembali terdiam ia menatap lurus, ia harus bisa menghadapi semua ini. Harus. Setelah sampai adel turun, ia jadi bingung, kenapa ia berada di rumah kiki. Rumah yang sangat ia ketahui.
"Kenapa gue ada disini?" Tanya adel pada dirinya sendiri. Ia menatap pintu rumah mewah didepannya.
Cklek...
Adel mundur kaget. Sama halnya dengan pria yang membuka pintu rumahnya, menatap adel kaget. Apakah ini mimpi.
"A-adel?, Sayang kenapa kamu ada di sini?" Tanya kiki kaget. Ya. Rumah yang adel kunjungi ini rumah kiki. Kekasihnya, ah. Ia sendiri tidak tau apa status hubungan mereka.
Adel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mmm...a-anu. aku salah alamat" gugup adel.
Kiki melihat kebawah, koper. "Kenapa kamu bawa-bawa koper?, Kamu mau pindahan, atau kamu di usir?" Tanya kiki.
Adel mengangguk kecil "i-iya, tapi aku enggak di usir ko, aku kabur dari rumah, aku lagi kesal sama kak, kevin" sahut adel. Ia tidak mau kiki mengetahui semuanya.
Sudut bibir kiki terangkat membentuk senyuman tipis, yang tidak terlihat adel. "Yaudah, kamu tinggal disini aja, sama aku" ajak kiki.
Adel menggeleng "enggak, aku mau ke hotel aja" tolak adel.
Kiki menggenggam tangan adel. "Jangan tolak. Tenang, disini banyak orang ko, ada mamah, papah, dan yang lain juga, kamu jangan khawatir" ucap kiki berusaha meyakinkan adel.
Terpaksa adel mengangguk. Ia juga tidak tau harus Kemana lagi, ini sudah malam, dan ia tidak membawa uang sepeserpun.
****
Pagi-pagi sekali adel sudah bangun, bahkan ia sudah berada di dapur rumah kiki. Membantu pelayan menyiapkan sarapan pagi.
"Bibi udah lama kerja disini?" Tanya adel. Basa-basi.
Pelayan paruh baya itu mengangguk. "Dari den kiki belum lahir bibi sudah kerja di sini, bibi yang rawat den kiki" sahut pelayan tersenyum tipis.
Adel manggut-manggut. "Menurut bibi, kiki orangnya seperti apa?, Maksudnya galak, baik, perhatian. Atau jahat?" Tanya adel kepo.
"Den kiki baik. Kadang-kadang emang bikin kesal seisi rumah, tapi orangnya baik ko, bibi sendiri yang rasain."
"Wahhh. Calon menantu tante udah ada di dapur aja" ucap mamahnya kiki menghampiri adel yang berada di dapur.
Adel menoleh kaget, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pagi tante, om" sapa adel menatap mamah papahnya Kiki.
Mamah papah-nya kiki tersenyum. "Seharusnya kamu jangan disini, kamu bangunin kiki sana. Tante udah bangunin dia tapi enggak mau bangun-bangun, malahan tante kena marah dia"
Adel menggeleng pelan "aku tidak berani, tan" cicit adel.
"Enggak papa. Kiki enggak gigit ko, tadi temen-temennya telpon om, katanya ada kelas pagi sekarang. Kamu satu kampus sama kiki, kan?" Tanya papah kiki.
Adel mengangguk. "Yaudah. kalau gitu aku bangunin kiki dulu" pamit adel ia langsung menaiki tangga menuju kamar kiki. Saat sudah berada di depan pintu kiki ia berdoa lebih dulu, semoga ia tidak kena marah kiki, walaupun itu mustahil.
Adel masuk, pandangnya langsung tertuju pada kiki yang masih tidur pulas di kasur, ia berjalan pelan menghampiri kiki. "K-kak kiki, bangun udah pagi" ucap adel.
Kiki langsung membuka matanya, saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya kamarnya. "Sayang, kamu lagi ngapain disini?" Tanya kiki, khas suara bangun tidur.
Adel menatap kiki. "Bangunin kakak lah. Aku disuruh om tante, katanya ada kelas pagi sekarang. Mendingan kakak bangun, mandi, sarapan, terus berangkat kuliah"
Kiki mengangguk, ia menyibak selimutnya. "Siap. Kita berangkat bareng. Ucap kiki langsung masuk kamar mandi.
***
Saat ini mereka sedang di parkiran kampus, banyak orang yang menatap mereka dengan tatapan kagum, heran, kesal, iri, marah. Dan masih banyak lagi.
Adel menggunakan baju cople dengan kiki. Bukan kemauan atau kebetulan, memang kiki yang sudah menyiapkannya. Tadi malam setelah adel bangun, ia ke salah satu mal, mencari baju cople, ia akan memamerkannya pada semua orang termasuk, dylan dan kevin.
"Malu banget. Apaan sih pakai baju kaya gini, aku malu kak" kesal adel.
Kiki mencubit pipi adel. "Mereka iri sama kita, jangan hiraukan mereka, mendingan kit---"
BUGH.
Satu Bogeman keras mendarat di rahang pipi tegas kiki. "MAKSUD LO APA?, HAH" bentak dylan. Nafasnya memburu, rahangnya mengeras.
Kiki dan adel menoleh kaget. "Mau apa lo?, Datang-datang pukul orang" kesal kiki.
Dylan menatap tajam kiki. "Jauhi adel, atau lo bakal nyesel" ancam dylan.
"Enggak bak---"
"Dylan. Apaan sih lo, jangan ganggu kita berdua deh, kita udah enggak ada hubungan apa-apa, kita udah punya" potong adel.
Dylan menatap wajah adel. "Kamu belain dia?, Kamu enggak cinta sama aku?, Kamu udah lupain aku?" Tanya dylan kecewa.
Adel mengangguk pelan "i-iya. Mendingan kamu jauh-jauh dari aku" setelah mengatakan itu ia langsung pergi.
Kiki tersenyum miring. "Udah gue bilang adel bakal milih gue. Selamat sakit hati" ucap kiki menepuk pundak dylan, dan berlalu dari sana, meninggalkan dylan yang mematung.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
satu hati 2 pria [TAMAT]
Teen FictionBagaimana rasanya jika kalian menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat kalian cintai, tapi takdir berkata lain, Adel Chyntia Sari, biasa disebut Adel Yang masih berumur 21 tahun, Harus menikah dengan kakak dari kekasihnya sendiri. Kevin April...
![satu hati 2 pria [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/342264170-64-k606034.jpg)