22. kemarahan adel

421 5 0
                                        

Mereka berkumpul di ruang tunggu, kevin terus memeluk pinggang adel posesif, matanya terus menatap dylan yang tidak sengaja menatap adel. Mamah papahnya sampai geleng-geleng kepala, kenapa kedua anaknya mencintai perempuan yang sama. Seandainya mereka tau kalau dylan dan adel saling mencintai mungkin mereka tidak akan menjodohkan kevin dengan adel.

"Ciyee, laptop baru, ciyee" goda mega.

Adel memutar bola matanya malas "semua lo, ciye-ciyein, malas ah" dengus adel sedikit kesal.

"Hahah, lucu muka lo kalau lagi kesal gini" ledek mega.

"Misi, ini cemilannya" ucap pelayan menaruh nampan kue di meja. Setelah itu langsung pergi dari sana.

Mata adel berbinar-binar melihat kue yang dilapisi kacang, baru menyentuh kue kacang langsung diambil seseorang. "Jangan makan kacang, kamu elergi, nanti gatal-gatal" tegus dylan.

Ya, dia dylan tau semua tentang adel Chyntia Sari, dari hal kecil sampai hal besar, dari makanan yang disukainya, sampai makanan yang tidak disukainya, dari hal baik, dan hal buruk, semuanya tau.

"Aku mau dylan" rengek adel manja.

"Enggak boleh, nanti badan kamu gatal-gatal, adel Chyntia Sari" ucap dingin dan tegas Dylan, adel mengangguk nurut, dylan kalau sudah memanggil nama lengkapnya sudah pasti menahan marah.

Adel mengambil gorengan yang menggoda baginya, lagi dan lagi ditepis dylan "apa lagi say---dylan" ucapnya hampir keceplosan manggil 'sayang'

"Pagi-pagi enggak boleh makan gorengan, enggak baik, nanti kamu batuk-batuk" tegurnya lagi.

Adel menatap horor Dylan "terus aku makanya apa baby" tanyanya keceplosan, ia langsung menutup mulutnya melirik kevin yang menatapnya tajam "maksudku, dylan" rekat nya.

Dylan tidak menjawab "bi, ada biskuit susu?" Tanya dylan pada pelayan yang mengantarkan minuman untuk mereka.

"Ada, sebentar saya ambilkan" ucapnya.

"Sama, susu putih pakai air hangat, juga kasih sedikit stroberi" pelayan itu mengangguk berlalu dari sana.

Kevin, vina, hardi, sela, menatap bengong mereka berdua, menatap Dylan dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Sedangkan ketiga temannya sudah biasa melihat Dylan seperti itu, posesif dalam makanan yang adel makan.

"Say---dylan masa aku ngemil biskuit dicelup susu sih, arghh, aku bukan bayi" rengek adel.

"Ini susu, biskuitnya" ucap pelayan memberikan pesanan dylan, dan berlalu dari sana.

Dylan memegang gelang susu yang tadi di pegang. "Ini terlalu panas untuk tenggorokan adel, yang mudah panas dalam" dylan berjalan kedapur ia menambahkan air dingin ke dalam susu yang tadi dibuat pelayan.

"Nih, diminum" suruhnya.

"Ah, nyebelin, dari smk sampai kuliah masih aja gini" kesalnya ia mencelupkan biskuit Kedalam suau dan ia langsung melahapnya kesal.

Kevin semakin takut, ternyata dylan lebih banyak tau tentang adel, ketimbang dirinya. Dari mulai sekarang ia akan mencari tau semua tentang adel, dari mulai kecil sampai hal terbesar.

Kevin mengelus perut rata adel menunjukkan keromantisan dirinya didepan semua orang, termasuk dylan. "Sayang, hati-hati makannya" tegus kevin.

Adel tak menyahut ia melirik dylan yang fokus menatap laptop di pangkuannya "dylan, kenapa kamu berubah gini, kenapa kamu lebih sering menatap laptop daripada aku" batin adel sedih.

Hardi menatap menantunya "udah dapat temen di kampus baru?" Tanya hardi.

Adel mendongak ia mengangguk kecil "udah, kampusnya bagus, luas, tapi adel lebih suka di kampus lama, banyak teman-teman adel" lirihnya.

Hardi dan vina mengangguk kecil "nanti juga banyak teman disana, sabar aja" ucap vina.

"Cewek-cewek, disana cantik-cantik, enggak?" Tanya rudi genit.

Adel mengangguk kecil "cantik, tapi lebih Cantika lagi pri kecil ini" ucap adel menyelipkan anak rambutnya ke telinga.

"Dari dulu pede nya enggak hilang-hilang" cicit rio yang masih didenger mereka semua.

"RIO, AH, ENGGAK SERU, AKU CANTIK TAU TANYA AJA SAMA.."

"Sama siapa?" Tanya rio menaik turunkan alisnya.

"Sama, ah nyebelin" kesalnya, melipat kedua tangannya didada.

"Kamu cantik, kalau enggak teriak-teriak gitu" ucap dylan matanya fokus menatap layar laptop.

Seketika senyum adel mengembang ia duduk dengan anggun, menampilkan wajah terbaiknya "tuh, dengerin, aku cantik, ehem, makasih lho, ah jadi malu, dylan bikin aku salting aja" malunya.

"HUEK"

rudi, dan mega berpura-pura muntah "sumpah, gedeng gue lihat lo berdua kaya gitu" ucap Rudi bergidik jijik.

"Ehem" dehem kevin.

Semua orang menatap kevin, terkecuali dylan yang masih fokus dengan laptopnya "kalian enggak ada niatan pulang?, Kalian bawa sahabat kalian ini" ucapnya melirik dylan.

Dylan yang disinggung ia mengangguk, memberikan kode pada sahabatnya untuk segera pergi dari sini. "Enggak usah usir kita gitu, kita juga tau diri ko" ucap rudi kesal, di angguki mega.

"Kalau gitu kita pulang dulu, makasih udah ijinkan kami main kesini, lain kali kita enggak bakal kesini, ko, maaf" pamit dylan tanpa melirik adel yang menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

"Mega, rio, rudi, dylan" panggil adel berteriak memanggil mereka yang sudah keluar rumah. Kevin menahan tangan adel yang hendak menyusul teman-temannya. "APA?, KAMU EGOIS KAK, DIA SAHABAT AKU, KENAPA KAMU BERSIKAP SEPERTI ITU" bentak adel tak terima.

"Saya tidak mau kamu dekat-dekat dengan dylan, dia tidak baik untuk kamu, adel"

Adel terkekeh hambar "enggak baik?, Buktinya dia tau hal sekecil apapun tentang aku, sari mulai makanan dan yang lain, kamu harusnya sadar kalau aku sudah tergantung sama dylan" bentak adel napasnya memburu.

"STOP! JANGAN SEBUT NAMA ITU, SAYA BENCI DIA" bentak kevin.

"Sudah-sudah, jangan bahas ribut" lerai hardi.

Adel menatap benci suaminya ia langsung meninggalkan mereka, masuk kamar membanting pintu keras.

***

Kevin masuk kamar ia melihat istrinya sedang menangis sesenggukan di balkon kamar, meraup wajahnya kasar. Berjalan pelan menuju balkon kamar. "Maaf, saya udah bikin kamu nan---"

"KELUAR, SAYA TIDAK MAU KETEMU KAMU, KEVIN APRILIO" bentak Adel.

Kevin menggeleng ia memeluk adel dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher adel, menghirup aroma tubuh adel "maaf, saya cemburu lihat kamu sama, Dylan, dia lebih banyak tau tentang kamu, sedangkan saya... tidak tau hal yang buat kamu senang, senang dan bahagia" lirihnya.

Adel masih terisak-isak ia tau dylan pasti sangat kecewa. Adel membalikkan tubuhnya menghadap kevin. "Aku mau, kakak sama dylan baikan, aku enggak mau rusak hubungan kalian berdua, cuman gara-gara aku" mohon adel.

Kevin menggeleng "enggak, aku enggak mau" tolaknya ia masuk kedalam kamar "dia pengkhianat" tegasnya.

Adel mengangguk "serah, lo, gue pusing lama-lama ngomong sama kamu" kesalnya, bahkan adel memanggil kevin dengan sebutan 'lo'

Kevin tak terima ia menarik adel "bilang apa tadi?, Kamu sebut saya 'lo' kau pikir itu pantas sebut suami kaya gitu?, Hm?" Bentakan.

Adel mendorong tubuh kevin sekuat tenaga "KAU PIKIR KAU BISA ATUR-ATUR SAYA, HAH?, KAU PIKIR SAYA PEDULI SAMA UCAPAN KAMU, TIDAK, SAYA TIDAK PEDULI, YANG SAYA PEDULIKAN, DYLAN, PRIA YANG SUDAH BUAT SAYA JATUH CINTA SEDALAM INI, SEDANGKAN KAU?, KAU PRIA PERUSAK HUBUNGAN KAMU BERDUA" setelah itu adel berlari keluar rumah, memberhentikan taksi yang lewat.

"ADEL CHYNTIA SARI" teriak kevin berlari keluar kamar, menyusul istrinya.

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang