Adel tidak masuk kuliah karena ia sedang demam, dan terus merengek minta di gendong kevin, sampai-sampai kevin cancel, rapat dengan clean nya. Dan berakhir kehilangan tender besar, untuk istrinya itu tidak masalah bagi Kevin, percuma ia kerja tapi istrinya demam seperti ini, ia tidak akan tenang.
Kevin terus mengendong adel ala Kuala, menuruti kemanapun adel mau. "Kita duduk dulu, aku capek satu jam gendong kamu--"
"Kakak nyesel? Gendong aku, enggak ikhlas?" Sentak adel menatap tajam kevin yang menggeleng cepat.
Kevin duduk di kursi teras otomatis adel duduk dipangkuan kevin, rasanya badannya remuk mengendong adel, memang adel tidak berat, tapi selama satu jam ia keliling rumah yang besar ini.
Kevin lebih dulu menghela napas pelan "bukan gitu sayang, dari tadi kita muter-muter rumah ini, pakai kaki, kalau pakai mobil sih aku mau 24 jam aku sanggup, lah ini, pakai kaki langsung ditambah kamu enggak mau turun" jelasnya selembut mungkin.
"A-adel" lirih seseorang wanita cantik menatap adel dengan air mata yang mengalir deras.
Kevin menatap kaget mereka, sedangkan adel ia masih setia dengan posisinya yang membelakangi mereka, ia berusaha mengingat suara itu, suara yang ia rindukan selama ini, suara yang dulu selalu memanggilnya.
"Mamah wina, papah sandi, bang Alek, kak alea" kaget kevin, menatap mereka.
DEG
Tubuh adel menegang air mata adel tiba-tiba turun membasahi kedua pipinya, ia meremas kuat belakang baju kevin, menahan sesuatu yang ingin ia lampiaskan.
"Gimana kabar adik gue?" Tanya alek menghampiri mereka.
Kevin lebih dulu bangun sambil menahan tubuh adel yang masih setia ia gendong "baik, kenapa enggak bilang saya dulu kalau kalian mau kesini, kalau saya tau kalau kalian mau kesini, saya bisa siap-siap" ucapnya.
"Elehh, kaya sama siapa aja" ucap alek menepuk pundak kevin, melirik adiknya yang sama sekali tidak bergerak "a-adel?" Cicit alek.
Kevin bisa merasakan tubuh adel bergetar, pasti adel Manahan isak supaya mereka tidak tahu. "Kamu enggak mau peluk mereka?" Tanya kevin lembut.
Adel turun ia sama sekali tidak melihat mereka maupun melirik ia langsung menunduk, untuk melihat kaki mereka saja rasanya takut. Bahkan untuk bernapas saja rasanya sesak.
Alea maju ia memegang tangan adel membuat adel tersentak kaget "kamu enggak mau peluk kakak?, Kamu enggak rindu kak alea?" Tanya alea lembut.
Adel diam ia tidak bisa mengeluarkan satu katapun, mereka bisa melihat langsung kalau adel sedang menangis, bahkan air matanya berjatuhan keramik.
Alek yang paham adiknya sedang takut ia langsung menubruk tubuh adel memeluknya erat, adel semakin terisak ia memejamkan matanya menikmati elusa lembut dari abangnya, yang selama ini merawatnya, penuh kasih dan sayang, tapi balasannya ia malah mengecewakan mereka, bahkan membuatnya malu, telah memiliki adik yang kotor seperti dirinya.
"Abang rindu kamu, del" lirih alek semakin mempererat pelukannya mencium rambut adel "selama ini abang mati-matian untuk tidak menanyakan kabar kamu sama suami kamu, tapi abang tidak bisa, abang tidak kuat, abang tidak mampu, abang terlalu sayang sama kamu, kecewa abang kalah besar sama rasa cinta abang sama kamu, del" lirihnya air matanya menetes selama beberapa bulan ini ia selalu dihantui rasa rindu yang luar biasa.
Yang awalnya adel enggan membalas pelukan alek, tangannya mulai terangkat ia membalas pelukan alek erat "a-abng m-maaf" hanya itu yang bisa adel katakan, hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Alek melepaskan pelukannya ia mengusap air mata adel lembut, mencium kedua mata adel "kita lupakan masalah itu, kita mulai dari awal, dimana adel yang cerewet, suka marah-marah sama abang, suka teriak-teriak kaya Tarzan, kita mulai dari awal ya?" Adel mengangguk kecil ia kembali memeluk alek.
"Hiks, abang adel minta maaf, adel udah bikin kecewa abang, udah bikin semua orang benci sama adel, hiks" isak adel mencengkram erat baju alek.
Alek melepaskan pelukannya "jangan nangis, abang udah maafin kamu udah dari lama ko, jadi, abang enggak benci sama kamu" ucap alek tersenyum tipis.
"Adel enggak kangen sama kak alea?" Tanya alea pura-pura sedih.
Adel tersenyum tipis ia langsung memeluk kakak iparnya, yang sudah setia menemaninya selama ia ditinggal mamah dan papahnya yang berkerja setiap hari. "Maaf, udah bikin kakak kecewa" ucapnya sedih.
Alea mengangguk "semua manusia bisa berbuat salah, jadi enggak usah sedih lagi" ucapnya lembut.
Wina mendekati adel "s-sayang, i-ini mamah" lirih wina air matanya sedari tadi mengalir deras, tidak bisa ia tahan.
Adel mendongak ia menatap wina, yang awalnya ia sudah berhenti menangis, seketika langsung menangis Kembali "m-mamah" lirih adel sekuat tenaga ia tidak ingin memeluk wina tapi nyatanya tidak bisa, ia langsung memeluk wina menangis sejadi-jadinya, walaupun wina jarang kumpul dengannya tapi wina orang yang telah melahirkannya.
"Mamah rindu kamu, del" lirih wina menangis di pelukan adel.
Adel melepaskan pelukannya ia menatap wina "adel juga, maaf udah bikin mamah kecewa" lirihnya.
Wina mengangguk "asalkan kamu mau berubah mamah udah maafin kamu" ucap wina, mencium seluruh wajah adel.
"A-adel" panggil sandi menatap anaknya yang menatapnya takut.
Adel yang dipanggil papahnya langsung bersembunyi di balik punggung kevin "kak, aku takut" lirih adel mencengkeram baju kevin.
"Kenapa takut?, Itu papah kamu" ucap kevin lembut.
Sandi menghampiri adel "papah enggak bakal jahat lagi sama kamu, papah minta maaf udah kasar sama kamu, waktu itu papah kecewa, marah sama kamu, tapi sekarang papah udah maafin kamu, dan papah menyesal udah kasar sama kamu" jelasnya mengelus rambut adel.
Adel menoleh ia menatap sadi takut-takut "p-papah, enggak bakal pukul adel lagi kan?, Enggak tampar pipi adel lagi kan?" Tanya adel takut.
Sandi mengangguk air matanya menetes, buru-buru ia menghapus "enggak, papah janji, asalkan kamu mau berubah" lirihnya.
Adel membalikkan tubuhnya menghadap papahnya, ia langsung memeluk sandi erat "maaf, udah bikin papah kecewa" isak adel.
Sandi mengangguk ia mencium seluruh wajah adel, anak perempuan satu-satunya yang sangat ia rindukan.
***
Kevin kesal sendiri, adel terus nempel ke alek, sedari tadi adel terus memeluk lengan alek, mencium pipi alek, bermanja-manja dengan alek.
"Ish, adel, kenapa saya dicuekin gini sih, saya juga mau di peluk kamu, aeghh, adel" frustasi kevin mengacak-acak rambutnya kesal.
Adel melirik sinis kevin "apaan sih, lebay" sinis adel.
Sandi menepuk-nepuk pundak kevin "sabar, adel memang kaya gitu sama alek, manja-manja" ucap sandi terkekeh geli melihat wajah kesal menantunya yang terlalu bucin.
"Tapi pah, adel peluk-peluk alek" kesal kevin tidak terima.
Alek melirik sinis kevin "gini-gini gue abang lo, yang sopan dikit" ucap alek, yang langsung adel angguki.
"Lah, ko gitu" heran kevin.
"EMANG GITU" sentak adel kesal.
"Kenapa kamu jadi bentak aku, hiks, aku salah apa lagi?" Isak kevin.
Mereka menatap kevin kaget, sedangkan adel menatap malas kevin, adel sudah biasa dengan sikap kevin yang selalu seperti itu.
"Kevin jangan bikin mamah malu, jangan nangis" ucap vina geleng-geleng kepala.
"Mah, kenapa adel marah sama aku?" Tanya kevin duduk di samping mamahnya.
Vina menghendikan bahunya "mana mamah tau, tanya aja sendiri" sewot vina.
"Pah" panggil kevin meminta pembelaan dengan papahnya yang sedari tadi diam.
"Enggak tau" jawab hardi santai.
"HWAAAAA ADEL KAMU JAHAT" tangis kevin pecah.
Mereka tersentak kaget mendengar suara tangisan kevin yang semakin kencang.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
satu hati 2 pria [TAMAT]
Teen FictionBagaimana rasanya jika kalian menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat kalian cintai, tapi takdir berkata lain, Adel Chyntia Sari, biasa disebut Adel Yang masih berumur 21 tahun, Harus menikah dengan kakak dari kekasihnya sendiri. Kevin April...
![satu hati 2 pria [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/342264170-64-k606034.jpg)