46. kebencian kevin

441 7 0
                                        

Tiga bulan berlalu

semenjak kejadian itu adel benar-benar hancur, janinnya keguguran, bukan hancur karena Maslah yang ia alami, tapi ia hancur karena dylan pindah keluar negeri, atas paksaan kedua orang tuanya, supaya mereka terpisahkan.

Kevin, sikap Kevin sangat jauh beda dari sebelumnya, sikapnya yang lebih cuek, dan bahkan sering marah-marah pada adel, sekecil apapun masalahnya, ia buat sebesar mungkin. Selama satu bulan juga ia tidak memperdulikan adel.

Orang tuanya adel, mereka sangat kecewa dengan sikap anak perempuan mereka satu-satunya, bahkan mereka memutuskan hubungan dengan adel, awalnya adel hendak dihabisi sandi, tapi Alek mencegahnya, walaupun dirinya juga sangat kecewa dengan adiknya, tapi. Mau bagaimanapun adel tetap adik kandungnya sendiri, mana tega ia melihat adel tiada ditangan orangtuanya sendiri.

Kenapa kevin masih menerima adel sebagai istrinya, dan tidak menceraikan adel, karena telah berkhianat besar. Entahlah alasannya apa, yang jelas dirinya mau bersama adel.

Seperti malam ini adel tidur meringkuk di sofa kecil kamar mereka berdua, karena Kevin tidak mau tidur berdua dikasur yang sama, dan dirinya juga tidak mau adel tidur pisah dengannya.

Kevin benar-benar tega ia tidak memberikan selimut ataupun bantal, dan dengan sengajanya ia suhu AC kamar menjadi full. Diluar hujan deras ditambah AC kamar yang tinggi, semakin membuat adel kedinginan. Ia menekuk kedua lututnya sambil meringkuk.

"D-dingin" lirih adel bibirnya bergetar hebat bahkan untuk berucap satu patah saja rasanya susah. "K-kak kecilkan Suhu AC nya, aku kedinginan" lirih adel.

Kevin tidak menjawab ia fokus dengan laptopnya, tanpa menghiraukan ucapan Adel yang terus memohon kepadanya. Ia malah memasang earphone ke telinganya.

Adel berjalan lemas ke kasur hendak mengambil selimut tebal, kevin yang melihat buru-buru mengambil selimutnya. "Jangan sentuh barang-barang saya, menjijikkan" sentak kevin, mendorong keras tubuh adel sampai terbentur tembok.

"Kak aku mohon, aku kedinginan, aku bisa mati kalau kaya gini, hiks" isak adel ia terduduk lemas memeluk kedua lututnya, air matanya mengalir deras "kalau kakak enggak mau terima aku lagi, biarkan aku pergi dari sini, jangan siksa aku seperti ini" isaknya.

Kevin terkekeh sinis "memangnya kalau saya usir kamu dari rumah saya, kamu mau tinggal dimana? Dijalanan?, Kolong jembatan?" Ledek kevin.

Adel mengangguk lemas "setidaknya aku bisa merasakan hangat disiang hari, tidak seperti disini, setiap hari kakak kurung aku disini, menyalakan AC kamar setiap hari, suhunya tinggi" lirihnya.

Memang benar yang dikatakan adel, setiap hari dirinya dikurung dikamar, menyalakan suhu kamar tinggi, dan dengan teganya kevin menyembunyikan remote AC, supaya adel tidak  menemukannya.

"Setidaknya kamu bisa makan enak disini" sahut kevin sambil duduk di pojok kasur, kakinya tidak sengaja menendang kaki adel. "Dingin sekali kaki dia" batin kevin, sedikit kasihan, buru-buru ia menggeleng mengusir rasa kasihan nya, menjadi kebencian.

Adel menelungkup kan, wajahnya di lututnya "nasi putih yang hanya rasanya asin" ucap adel, selama riga bulan dirinya hanya diberi makan nasi putih dicampur garam. Sungguh tega.

"Masih untung saya kasih makan kamu, kalau enggak kamu bisa mati kelaparan" sentak Kevin.

Adel mengangguk lemas disela-sela lututnya "masih mending saya mati kelaparan, daripada saya hidup seperti ini" lirihnya. "Mulai besok kakak jangan kasih saya makan, ya, terimakasih udah kasih saya makan selama ini" lirihnya mulai memejamkan matanya, rasanya ia ingin pingsan tapi sayangnya tidak bisa.

"Oke, itu kemauan kamu sendiri" ucap kevin santai ia langsung keluar kamar, mengunci adel dari dalam.

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang