57. sakit

260 4 0
                                        

Setelah dibujuk selama berhari-hari akhirnya adel mau menerima kandungannya, ini semua demi dylan. Sekarang ini ia sedang memasukan buku-bukunya ia akan berangkat kuliah seperti biasa sebelum kandungnya besar. Melirik kevin lewat cermin. Ternyata suaminya sudah siap hanya dirinya saja yang belum siap-siap.

Adel menghela napas "satu pelajaran doang hari ini" lirih adel.

"Hm, itupun saya yang ngajar" sahut kevin menghampiri istrinya yang sedang merapihkan baju-bajunya.

Adel menatap sinis kevin "kenapa enggak bilang dari tadi sih" sinis adel memukul dada bidang kevin menggunakan tasnya.

Kevin menarik adel sampai berhadapan dengan adel "jangan marah-marah, bumil" ucap kevin lembut.

Adel menatap sinis kevin "jangan ada kuis hari ini, ya" pinta Adel dengan wajah memelas.

Kevin mengerutkan keningnya "ko gitu?, Harus ada" sahut kevin.

Adel cemberut "aku enggak belajar, mana bisa aku jawab kuis kakak" sinis adel mendorong kevin.

"Kaya biasanya belajar aja" sindir kevin terkekeh kecil.

Adel mendengus sebal sudut bibirnya terangkat membentuk senyum, ia duduk di pojok kasur mengelus perut ratanya "sayang, sabar ya, papah kamu emang suka bikin mamah pusing, nanti kita cari papah baru, atau enggak, om dylan jadi papah baru kamu?, Mau kan?" Tanya adel mengajak bicara calon anaknya.

Kevin yang mendengar itu ia melotot menatap tajam istrinya "jangan sembarang, saya yang bikin dylan yang dianggap papahnya" marah kevin.

Adel menatap polos kevin "suruh siapa ada kuis hari ini, ibu hamil enggak boleh banyak pikiran" ucap adel mengingatkan suaminya.

"Oke, hari ini enggak ada kuis" putus kevin, ia jongkok dihadapan adel mengelus perut adel lembut "aku mohon jaga kandungan kamu" mohon kevin dengan wajah yang memelas.

Adel mengangguk kecil "iya, yaudah berangkat yuk, udah siang" ajak adel mengalihkan pembicaraan. Kevin mengangguk mereka langsung pergi ke kampus.

***

Setelah jam pelajaran mereka selesai adel dan mega langsung ke kantin untuk sekedar mengobrol. Adel memesan mie goreng dan es teh.

Sedang asyik-asyiknya mengobrol ada seseorang yang menepuk pundak adel "hello cantik" sapa pria itu tersenyum manis.

Adel dan mega menatap kaget pria itu "kak k-kiki" kaget adel menatap kiki yang tersenyum manis menatapnya.

Kiki duduk di samping adel "gimana kabarnya sayang?" Tanya kiki lembut.

"Heh sayang katanya!, Lo sama adel enggak punya hubungan apa-apa" sentak mega.

Kiki menatap datar mega "gue bukan ngomong sama lo" sinis kiki.

Adel menatap kiki "yang dikatakan mega benar, kita enggak---"

Kiki mengangguk "tapi sekarang gue berubah pikiran, gue mau lo balik lagi sama gue, titik." Potong kiki.

Adel menggeleng ribut "enggak, aku enggak mau, enak aj--"

"Yaudah kalau enggak mau, aku umumkan semuanya kalau kamu sudah menikah" potong kiki lagi.

Adel menggeleng ribut "jangan dong, aku enggak mau ada yang tau" ucap adel panik.

Mega menatap dingin mereka berdua "udah sih, del, biarin semuanya tau pak kevin juga enggak jelek-jelek amat--"

"Lo enggak tau apa-apa, meg, gue--"

"Gue tau semuanya, del, lo itu egois del" marah mega.

Kiki menatap malas mereka "udah dong kenapa jadi ribut, pokonya detik ini juga adel jadi pacar gue" setelah mengatakan itu ia langsung pergi tidak lupa ia mengecup rambut Adel yang membuat sang empu melotot kaget.

"Meg---"

"Udahlah, malas sama orang yang egois seperti lo" kesal mega ia beranjak dari sana meninggalkan adel.

***

Adel menatap suaminya yang fokus dengan laptopnya yang menyala, sampai-sampai ia di cuekin gitu aja, adel memainkan ponsel milik suaminya, bukan untuk mengecek chet kevin dengan perempuan lain, melainkan ia ingin menonton YouTube. "Enggak ada yang seru, malas" kesal adel melamar ponsel kevin ke sofa.

Melirik Kevin yang masih fokus "kak, aku ngantuk tapi enggak bisa tidur" ucap adel bingung sendiri.

Kevin menoleh ia mengangkat adel mendudukkan adel di pangkuannya menghadap, adel melotot kaget ia hendak turun tapi tubuhnya ditahan kevin "tidur aja, bentar lagi aku selesai" ucap kevin kembali fokus dengan laptopnya.

Adel mengangguk kecil ia memainkan rahang tegas suaminya, sampai ia tidur pulas. Kevin yang menyadari istrinya tidur ia ingin menidurkan adel di kasur tapi adel malah memeluknya erat.

"Nanti kamu capek sayang" ucap kevin lembut.

Adel menggeleng ia sungguh lelah. Kevin menghela napas ia kembali fokus dengan laptopnya, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 02.13 dini hari. Kerjaannya hari ini sangat numpuk setelah beberapa hari ia tidak masuk kantor.

Kevin mengangkat tubuh istrinya ia tidurkan pelan di kasur "sutttt! Tidur sayang" ucap kevin, saat adel mengerang enggan mau dilepaskan.

"Kak badan aku panas" lirih adel.

Kevin melotot kaget ia memegang kening adel matanya membulat sempurna "sayang, kamu demam" panik kevin mengangkat kembali tubuh adel. "Kenapa jadi demam gini?, Kamu makan apa tadi siang?" Tanya kevin khawatir.

"Es, 3 kali, soalnya panas banget" cicit adel takut.

"Astaga! Kenapa minum es sebanyak itu sih sayang" kesal kevin khawatir terjadi sesuatu "kita ke dokter, ya" ajak kevin hendak siap-siap adel menggeleng.

"Enggak mau, aku mau digendong aja" ucap adel mengeratkan pelukannya.

Kevin menghela napas ia mengangguk kecil, besok lagi ia akan bujuk adel. Kevin mengendong adel ala Kuala. "Sekarang tidur, ya" suruh kevin mengelus rambut adel.

Adel mengangguk "asalkan jangan turun, aku mau gini terus sampai pagi" pinta adel.

Kevin mengangguk cepat walaupun dirinya sangat lelah sekali, demi istri tercinta ia mau. Kevin jalan-jalan seketika kamar atas kemauan sang tuan putri adel. "Cepat sembuh, nanti saya sedih" bisik kevin.

Sampai pagi kevin belum tidur juga, dan pagi ini adel tidak mau turun ia terus menempel di tubuh gendongan kevin. "Hwaaa, aku enggak mau turun kak, aku aku digendong" tangis adel pecah.

Kevin mengangkat kembali tubuh adel ia menggendong turun kelantai satu, dan mendapati keluarganya yang sudah sampai. Ya, tadi malam kevin menelpon orangtuanya untuk segera kesini. Lihat saja mata kevin menghitam gara-gara tidak tidur satu malam, wajahnya juga lemas.

"Kak, enggak tidur berapa malam itu?" Tanya sela menatap kakaknya.

Baru saja pantat kevin menyentuh sofa, teriakan adel membuat ia menguraikan niat niatnya untuk duduk. "Astaga sayang! Kaget aku" kaget kevin.

"HIKS AKU ENGGAK MAU DUDUK KAK, AKU MAU DIGENDONG" teriak Adel memukul-mukul dada kevin.

Vina menatap anak dan menantunya "adel, sini sama mamah?" Ajak Vina kasihan dengan anaknya yang kelelahan.

Adel menggeleng ribut. Kevin menghela napas gusar, rasa capeknya bertambah berkali-kali lipat "iya-iya, jangan nangis gitu" pasrah kevin.

Hardi yang tidak tega ia menghampiri kevin "papah telpon dyl--"

"Enggak. Enak aja nanti dia yang gendong adel" tolak kevin cepat.

"Tapi kamu pasti capek---"

"Enggak, aku enggak capek" bohong kevin ia tidak rela melihat adel digendong dylan.

Adel menatap suaminya ia jadi kasihan "duduk aja deh" putus adel.

Kevin menatap adel "enggak papa?" Tanya kevin lembut. Adel menggeleng, kevin buru-buru duduk sebelum adel berubah pikiran lagi. "Sakit pas hamil aja manjanya begini, apa lagi nanti" batin kevin frustasi.

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang