18. membenci takdir

567 4 0
                                        

Adel membuka kelopak matanya perlahan ia menatap sekeliling kamar. Memejamkan matanya mengingat kejadian tadi malam yang membuat dirinya harus kehilangan kesuciannya. Tidak terasa air matanya kembali menetes mengenai kedua pipinya.

Semuanya hancur, hubungan dirinya dengan dylan sudah hancur, dylan dan dirinya pasti akan dipisahkan oleh kevin, Adel menggeleng keras.
"Enggak, aku enggak mau kehilangan Dylan, aku harus ketemu Dylan, kita harus pergi jauh dari sini. Ya harus" tekadnya sudah bulat.

Baru bergerak rasa perih dibagian bawahnya sakit dan perih. "Awhh...perih banget" ringisnya. Ia kembali tidurnya mengumpulkan tenaganya yang terkuras tadi malam.

Ceklek..

Adel menoleh kaget ia langsung menutupi tubuhnya menggunakan selimut tebal, kevin kembali menutup pintunya ia berjalan sambil membawa nampan berisi nasi goreng, dan susu. Meletakan di meja kecil samping adel.

"Kamu suka bangun?" Pertanyaan yang bodoh, sudah tau adel sudah bangun bahkan menatapnya tajam.

Adel bergeser jauh "mau apa kamu kesini?, Kau sudah rusak masa depan aku dengan...dylan" marahnya.

Rahang kevin mengeras ia menarik kasar selimut yang menutupi tubuh istrinya, melemparnya asal "jangan berani-beraninya kamu sebut nama dia, daya membenci dia" bentak Kevin, sambil mencengkram erat lengan adel.

Adel menatap kevin takut "d-dia a-adik, k-kamu" cicitnya takut.

Kevin mengangguk kecil "dia memang adik saya, tapi itu dulu, sebelum saya tau semuanya, tapi sekarang, dia bukan adik saya lagi, dia musuh terbesar saya" ucapnya tegas. Membelai rambut adel "sekarang kamu mandi, terus sarapan, kita pindah dari sini" ucapan.

Adel melotot ia menggeleng cepat "aku enggak mau pindah, aku mau tinggal disini saja" tolak adel.

Kevin menatap tajam adel, tak lama ia tersenyum tipis "kita bisa tinggal disini, kalau dylan pergi dari rumah ini, dan dia bakal jadi gelandangan, karena tidak memiliki apapun, apa kamu mau pria yang kamu cintai jadi gelandangan, dan dia putus kuliah, mau hmm?" Tanya kevin.

Adel kembali melotot ia menggeleng keras "j-jangan lakukan i-itu, aku mohon" adel menggenggam tangan kevin erat "aku akan lakukan apapun, asal kakak jangan sakiti dylan" ucapnya menatap mimik wajah kevin.

Kevin mengangguk ia mengelus pipi adel lembut, memajukan wajahnya, ia mencium bibir adel sedikit lumatan, adel tidak menolak ia dia, tidak menikmati, atau tidak membalas. Menurutnya percuma menolak kevin akan berbuat lebih, dan itu merugikan dirinya, air matanya kembali menetes membasahi kedua pipinya.

"Mandi, sarapan, kita pergi dari sini" suruh kevin.

Adel mengangguk kecil ia berjalan pelan menuju kamar mandi. "Dylan maafkan aku, tapi percayalah sama aku kalau aku sangat mencintai kamu" lirihnya.

Karena kesal melihat adel yang seperti siput, tapi sangat menggemaskan di mata kevin, ia membopong tubuh adel masuk kedalam kamar mandi, diikuti dirinya. "Mau apa kamu?" Panik adel.

Bagaimana tidak panik kevin membuka bajunya sendiri, menatap adel dengan senyuman miring, ia trauma kejadian tadi malam. Kevin menarik tubuh adel memojokkan, ia langsung mencium seluruh wajah adel rakus.

"Kak, stop! Aku mau mandi" teriak adel berusaha mendorong tubuh kevin "kak, aku mohon hentikan" mohon adel.

Kevin melakukannya lagi, adel terus menjerit keras, minta dilepaskan, tapi kevin dengan teganya tidak melepaskannya dama sekali. Satu jam melakukan ia menyudahi karena adel sudah lemas. Ia menguyur tubuhnya dan tubuh adel dibawah shower.

Memeluk adel yang lemas "saya tidak akan kasar, kalau kamu nurut, saya tidak suka dibantah, jadi tolong nurut" lirihnya mencium dahi adel.

Mengambil handuk ia menyelimuti tubuh adel "mau pakai baju sendiri, atau saya paka--"

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang