19. pindah rumah

407 6 0
                                        

Mereka sampai rumah berlantai dua, yang sangat mewah, cat berwarna putih dipadu dengan warna kuning emas. Halaman rumah yang sangat luar, gerbang tinggi yang menjulang tinggi. Kevin memarkirkan mobilnya di bagasi mobil. "Jangan turun dulu" ucapnya menahan tangan adel yang hendak membuka pintu.

kevin membukakan pintu untuk adel "silahkan keluar" ucapnya tersenyum tipis. Adel mengangguk ia keluar mobil. Kevin menarik pinggang adel agar lebih dekat dengannya, mengikis jarak diantara mereka.

Adel berjalan pelan karena masih sakit dan perih di bagian intimnya. "Kenapa rumahnya jauh banget sama kampus?" Tanya adel sambil masuk rumah barunya.

Kevin tak menjawab ia menghampiri beberapa pelayan yang menunduk hormat membisikkan sesuatu pada mereka, yang tidak terdengar adel.
"Mau langsung istirahat, atau mau lihat-lihat dulu?" Tanya kevin.

"Aku mau lihat-lihat dul----eh apaan ini" kaget adel saat dirinya dipaksa duduk di kursi roda.

Kevin tersenyum manis "kamu pasti masih sakit, biar aku yang dorong, kita lihat-lihat rumah ini" ucapnya sambil mendorong kursi roda.

"Aku enggak lumpuh, jadi enggak usah pakai gini" tolaknya kesal.

"Nurut, saya tidak mau marah-marah sama kamu" lirihnya kesal. Adel mengangguk ia pasrah, kevin memberitahu seluruh ruangan yang ada disini. Sedangkan adel ia malah tertidur pulas di kursi roda, mengabaikan ucapan kevin. "Kamar kita dilantai dua, supaya kamu tidak capek, aku membuatkan lift untuk kamu, supaya kamu tidak capek naik turun tangga, kamu pah--sayang" panggil Kevin.

"Astaga, kenapa dia malah tidur" kagetnya "aneh banget, kamu Adel" lirihnya tersenyum manis. Membopong tubuh adel kelentai dua.
Tidak mau capek-capek naik tangga ia menggunakan lift yang ada dirumahnya, yang langsung terhubung ke lantai dua. Merebahkan tubuh mungil istrinya di kasur empuk.

"Eumm.." lenguh adel terganggu tidurnya. Kevin mengusap-usap dahi adel. Mencium singkat bibir adel.

Kembali turun kelantai bawah "semuanya kumpul" teriak kevin. Mereka langsung kumpul "saya tegasnya sama kalian, jangan membukakan pintu rumah tanpa ijin dari saya, kecuali orangtuaku saya, dan mertua saya, selebihnya jangan, kalau ada hal yang mencurigakan langsung kabarin saya, dan satu lagi, jangan pernah mengijinkan adik saya, dylan, kesini" ucapnya tegas.

"Baik tuan" mereka menunduk hormat.

"Kalian harus menuruti perintah istri saya, kalau kalian lihat adel keluar rumah langsung kabarin saya" mereka mengangguk. Setelah mengatakan itu ia langsung masuk kamar menemani istrinya yang tertidur pulas.

***

Adel membuka kelopak matanya ia menatap sekeliling kamar yang super luas dan mewah, menoleh kesamping mendapati Kevin yang sedang berkutut dengan laptop. Kevin yang menyadari istrinya sudah bangun segera menghampirinya.

"Udah sore, mandi sana" suruhnya.

Adel duduk dikasur "handphone aku mana?" Tanya adel baru menyadari kalau dirinya tidak melihat handphonenya ada dimana. Dan entah kemana handphonenya itu.

Kevin mencium singkat bibir adel, yang membuat adel melotot kaget. "Handphone kamu saya sita untuk sementara" ucapnya lalu pergi dari kamar, meninggalkan adel yang marah.

Adel buru-buru mandi ia memakai baju piyama seperti biasa, rambutnya ia cepol. Membuat cantiknya berlipat-lipat. "Kak, besok aku kuliah, kalau aku enggak ada handphone aku susah berkomunikasi sama yang lain, kalau ada pemberitahuan grup gimana?" Ucapnya.

Kevin menoleh "besok saya kembalikan, makan malam cepat" seluruhnya. Sambil menyodokkan nasi untuk istrinya "makan yang banyak, biar cepat besar, badan kecil sekali" ledeknya.

Adel melotot "sembarangan kalau ngomong, wajar saya kecil orang saya masih kecil, kakaknya aja yang badannya besar" kesal adel, ia menyendok nasi kedalam mulutnya kasar.

Kevin geleng-geleng kepala daripada meladeni istrinya yang ngamuk, mending makan malam. Setelah selesai langsung masuk ruangan kerjanya.

Adel menghampiri wanita paruh baya yang sedang mengelap piring "hallo, ibu" sapa adel tersenyum manis.

Yang dipanggil ibu terlonjat kaget "astaga, non!, Kaget saya" ucapnya mengelus-elus dada.

Adel terkekeh kecil "maaf, kenalkan nama aku adel Chyntia Sari, biasa dipanggil adel, kalau ibu namanya siapa?" Tanya adel mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.

Wanita paruh baya itu melirik tangan majikanya. Adel yang paham ia menarik tangan wanita paruh baya itu agar menerima uluran tangannya.
"Jangan sungkan, saya juga wanita biasa seperti kalian semua" ucapnya melirik beberapa pelayan yang menghampiri majikannya.

"Nama ibu, rina, non, bisa panggil mbok saja, karena mbok sudah tua" ucapnya.

Adel mengangguk "mbok rina" ucapnya memeluk mbok rina, reflek mbok rina melepaskan pelukan majikannya, sungkan untuk berpelukan dengan majikanya.

"Jangan non, saya tidak pantas dipeluk, non adel, nanti tuan kevin marah besar" ucapnya takut.

Adel cemberut "mbok tidak usah takut sama kak kevin, selagi ada adel disini, mbok aman, dan yang lain juga, sayang kalian banyak-banyak" ucapnya.

Semua pelayan tercengang kaget. Bisa-bisanya majikan perempuannya ini berkata santai, belum tau saja kevin yang sebenernya.

Kevin mendengar percakapan mereka, ia tersenyum tipis, walaupun adel dibesarkan dengan kekayaan oleh orangtuanya, tapi adel tetap menghormati orang lain. Berjalan menghampiri mereka ke dapur, memasukkan tangannya saku celana pendeknya.

"Ehem" dehen kevin, membuat mereka mematung kaget, mereka langsung berhamburan pergi berpura-pura sibuk. Tersisa adel, mbok rina, dan Kevin.

Adel membalikkan badannya menghadap suaminya "apa?, Sana pergi ngapain sih ganggu kita lagi ngobrol" usir adel kesal.

"Non, jangan gitu" tegus mbok Rina takut adel kena omel.

Adel tak mendengar ia menghentakkan kakinya kelantai "ganggu terus hidupnya, heran" kesalnya ia langsung pergi dari dapur, setelah mendorong kevin kesal.

Kevin menatap mbok rina "saya minta mbok bersikap baik sama adel, bersikap seperti ibu dan anak" pinta kevin "kalau dia ada masalah atau buruh teman, mbok bisa ajak dia ngobrol, sepertinya dia menyukai mbok"

Mbok rina mengangguk "baik tuan" hormatnya. Kevin langsung pergi menyusul istrinya.

Adel menutup tubuhnya menggunakan selimut tebal "sumpah kesal banget, pengen bunuh tuh berondong" kesalnya "dasar berondong tua"

Kevin merebahkan tubuhnya di samping Adel memeluk adel dari belakang "sayangnya berondong tua yang kamu maksud itu suami kamu" ucapnya.

Adel berusaha melepaskan pelukan suaminya "lepas, saya mau tidur" kesal adel.

Kevin membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya "panggil aku kamu, jangan saya-saya gitu" ucapnya tak suka.

"Iya-iya, kamu" pasrah adel.

Kevin mengangguk kecil ia langsung memejamkan matanya, tertidur pulas menyusul adel kealam mimpi.

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang