94. kabar bahagia & duka

211 6 2
                                        

Adel sedang menemani anaknya bermain di ruang tengah bersama sela yang setia menemani kakak iparnya, atas permintaan kevin dengan iming-iming hadiah yang selama ini sela impikan, tentu sela mau hanya mengawasi kakak iparnya agar tidak kecapekan, dan makan tepat waktu, hanya itu.

Sebenarnya kevin sudah mau cuti dari pekerjaannya, tapi adel memaksa untuk tetap kerja walaupun kevin sendiri pemilik perusahaan, adel ingin suaminya profesional dalam bekerja.

Adel mengelus perutnya yang besar, kenapa tiba-tiba ia mulas, menggeleng pelan ini bukan bulan kelahirannya dokter bilang adel akan melahirkan bulan depan. Adel menyenderkan kepalanya di sofa memejamkan matanya menikmati sakit diperutnya.

Sela yang melihat gelagat kakak iparnya ia buru-buru menghampiri adel. "Kak adel, kakak kenapa?" Tanya sela khawatir.

Adel menggeleng pelan. "E-enggak papa, cuman sakit dikit palingan kontraksi" jawab adel tersenyum tipis, ia tidak mau membuat adik iparnya khawatir, dan mengadu pada Kevin bisa-bisa kevin langsung panik.

"Shhttt...ko mulas gini sih" cicit adel, yang masih terdengar jelas sela yang semakin panik dan khawatir. "A-aku, mau melahirkan kayanya, c-cepat telpon kak k-kevin....arghhhh" teriak adel kesakitan.

Sela melotot kaget ia mengangguk menelpon kevin, yang tidak kunjung dijawab sela terus menelpon nomor kevin yang tidak aktif. "Kak jawab dong, ini kak adel mau melahirkan" lirih sela tambah khawatir mendengar rintihan adel.

David menatap mamahnya yang kesakitan, matanya berkaca-kaca khawatir dan takut, melihat darah mengalir di kaki mamahnya. "Mbok yumi, mamah berdarah" teriak david berlari menyusul mbok yumi yang sedang di dapur.

Mbok yumi langsung menghampiri adel, menatap adel khawatir. "Neng adel mau melahirkan, mbok telpon nyonya dulu" panik mbok yumi ia langsung menelpon hardi dan vina.

Sela berlari ke teras ia menatap mobil abang keduanya, dylan, ia berlari menghampiri dylan yang kebingungan menatanya berkaca-kaca. "Kamu kenapa nangis?" Tanya dylan menatap adiknya.

"K-kak adel berdarah, di..."

Belum sempat sela menyelesaikan ucapannya, dylan lebih dulu berlari masuk rumah menyusul adel. Ia mendengar jelas suara teriakan kesakitan dari ruangan bermain david. "Adel, kamu kenapa?x tanya dylan panik.

Adel mendongak ia menatap dylan dengan mata yang berkaca-kaca. "D-dylan, perut aku sakit banget, aku mau melahirkan" lirih adel tangannya menggenggam kuat tangan dylan.

Dylan menatap kaki dan lantai yang adel duduki berdarah, tanpa ba-bi-bu ia langsung membopong tubuh adel. "Kamu telpon mamah papah, dan bang kevin, suruh ke rumah sakit, jagain david" ucap dylan yang langsung keluar rumah. "Adel sayang, kamu harus kuat" lirih dylan menatap wajah adel yang sudah lemas.

Dylan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia mengabaikan suara klakson dan amukan pengendara lain, berkali-kali ia hampir menabrak pengendara lain. Ia memarkirkan mobilnya asal membopong tubuh adel masuk rumah sakit, merebahkan tubuh adel ruang persalinan.

"Dokter, suster cepat ada yang mau melahirkan" teriak dylan memanggil dokter dan suster perempuan.

Dokter dan suster langsung masuk, ia langsung menyuntikkan infus di tangan kanan adel, memberikan obat penguat. "Ibu adel ikuti instruksi saya, tarik nafas keluarkan perlahan" instruksi dokter.

Adel mengangguk ia mulai mengikuti instruksi dokter, rasanya ia sangat lemas, berkali-kali ia melakukan instruksi dokter tapi bayinya belum juga kunjung keluar. Adel menggeleng lemah. "E-enggak, aku udah enggak bisa, a-aku lemas aku mau tidur aja" tolak adel.

Suster dan dokter menggeleng. "Enggak boleh bicara seperti itu, ibu adel harus kuat" tegur dokter. "Sus, panggil keluarganya, dan suaminya" suruh dokter yang langsung suster angguki.

Adel melirik dylan yang masuk ruangan persalinan, ia tersenyum tipis melihat tatapan khawatir dylan, ia memejamkan matanya menahan sakit yang makin menjadi-jadi.

"A-adel" cicit dylan menggenggam tangan adel yang tidak di infus.

Adel menatap dylan. "A-aku enggak papa, dylan, aku baik-baik aja" ucap adel, siapapun yang mendengar ucapan adel tidak ada yang percaya, wajah yang pucat tubuh yang terlihat jelas.

"Ibu adel, ayo ikuti instruksi saya, tarik nafas keluarkan" kata dokter.

Dylan semakin kuat menggenggam tangan adel. "Kamu bisa, aku ada di samping kamu kita lewati sakit bersama, kamu pukul, tampar, atau gigit aku buat nahan sakit kamu" titah dylan mengarahkan tangan adel pada pipinya. "Tampar aku, biar kamu bisa nahan sakit" lirih dylan, hari ini ia sangat takut akan kehilangan adel yang kedua kalinya.

Adel tersenyum tipis, ia mengelus pipi dylan. "Mana mungkin aku bisa sakiti ka----arghhhh" teriak adel kesakitan, ia mencengkram leher dylan kuat-kuat menyalurkan rasa sakit yang berkali-kali lipat.

"OEKKK OEKKK OEKK"

Tangisan bayi memenuhi ruangan persalinan, Dylan mengelus dahi adel yang berkeringat, air matanya semakin mengalir deras. "Satu kali lagi, ada nyawa yang harus kamu lahir kan dari perut kamu, ada malaikat kecil yang menunggu untuk dipertemukan di dunia yang indah" bisik dylan.

Adel menggeleng lemah. "A-aku enggak bisa dylan, aku udah lemas, aku mau tidur aja, aku ngantuk" lirih dylan, tangan yang semula mencengkeram erat leher dylan, seketika jatuh begitu saja.

Dylan menggeleng keras, ia menepuk pipi adel. "Hey, tuan putri, mengapa kau menyerah begitu saja?, Ada aku yang menemani kamu" ucap dylan ia berusaha menahan isak yang ingin menerobos keluar.

"Alhamdulillah, bayinya perempuan, dia sangat cantik seperti ibunya" ucap dokter menyerahkan bayi mungil pada suster untuk di mandikan.

Adel menatap anaknya ia tersenyum tipis, Kembali menatap dylan dengan tatapan lembut. "Jangan nangis, dylan, aku enggak suka" ucap adel mengusap air mata dylan yang mengalir deras.

"Ibu adel sekali lagi, ibu pasti bisa" ucap dokter.

Adel mengangguk lemah, ia menatap wajah dylan, menggenggam tangan adel. Ia kembali mengikuti instruksi dokter berkali-kali ia mencoba tapi belum juga keluar sang malaikat kecil.

Tidak lama bayi laki-laki keluar dari perut mamahnya, adel, dokter panik tidak mendengar suara bayi yang ia gendong. "Suster oksigen" panik dokter, suster mengangguk ia langsung mengambilkan oksigen.

Dylan semakin panik saat adel memejamkan matanya, tangan adel yang semula menggenggam erat tangannya seketika langsung mengendor, suara detak jantung dari mesin mulai terdengar samar-samar, menandakan detak jantung pasien melemah.

"DOKTER, PASIEN DALAM DARURAT" teriak dylan ia langsung mengambil oksigen, dan berbagai macam alat bantu rumah sakit.

Dokter menatap bayi laki-laki sudah tidak bernafas. "Pukul 12.30 wib, pasien dinyatakan meninggal dunia" ucap dokter pada suster.

Dylan menoleh kaget, seluruh tubuhnya melemas. "Dokter jangan sembarang, bayi itu masih hidup" marah dylan menatap tajam dokter yang sedang menaruh bayi laki-laki itu pada box bayi.

"Pasien terlalu lama di dalam perut, cairan mengering sebagi alat bantu bayi" jelas dokter.

Dylan kembali menatap adel ia mulai memeriksa adel, walaupun ia sedikit tidak paham dengan persalinan seperti ini. "Aku mohon bangun, hiks" isak dylan.

Mesin jantung mulai berdengung kencang, menandakan pasien sudah tidak bernyawa lagi, tubuh dylan melorot ketembok rasanya seperti mimpi, kalau memang ini mimpi tolong bangunkan ia segera mungkin ia tidak mau berlama-lama di dalam mimpi yang sangat menyeramkan selama hidupnya. Ia memukul pipi keras ia ingin segera bangun ia tidak mau berlama-lama di alam mimpi ini.

"ADEL" teriak dylan histeris.

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang