95. koma

201 7 1
                                        

Kevin benar-benar hancur setelah kepergian putra kedua, dan adel yang masih koma bahkan tiga puluh menit adel kejang-kejang parah. Ia bahkan tidak ikut ke pemakaman sang anak ia lebih menjaga adel yang terbaring lemas di kasur rumah sakit.

Ia tahu adel melahirkan setelah mendapat telpon dari kantor, bahwa istrinya sedang di rumah sakit melahirkan anak mereka, kevin sampai membatalkan meeting nya secara mendadak, bahkan ia kehilangan proyek yang sangat penting, ia tidak sedih sama sekali ia lebih penting kehilangan semua hartanya, daripada kehilangan anak dan istrinya yang sangat ia cintai.

Satu jam sudah kevin berdiri lemas di luar ruangan adel, sejujurnya ia ingin melihat dan menatap adel secara dekat, menguatkan adel untuk bertahan demi dirinya, dan anak-anaknya, setidaknya adel bertahan demi orang yang dia cintai.

Air mata terus mengalir tidak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan adel istri tercinta. berkali-kali juga ia pingsan melihat adel yang kejang-kejang, sudah beberapa kali adel kejang-kejang dan hampir putus nafas.

Bukan hanya kevin saja yang terpuruk, semua keluarga termasuk, dylan, yang tidak henti-hentinya mengontrol adel setiap saat, bahkan untuk sekedar mandi saja ia tidak bisa, ia terlalu takut akan kehilangan adel wanita penyemangat hidupnya.

Untuk kali ini kevin tidak boleh egois, ia membiarkan dylan menyentuh istrinya, menyentuh hanya untuk mengecek keadaan adel, bukan, hal lain. Karena ia tahu dylan seorang dokter ia tahu lebih banyak tentang kesehatan, ketimbang dirinya yang tidak tahu masalah seperti ini.

Wina berkali-kali pingsan melihat kondisi anaknya yang sangat memprihatinkan, berkali-kali ia marah pada dirinya, harusnya ia menjaga anak bungsunya selama hamil besar, bukan malah menjaga menantunya yang sedang hamil.

Ya. Alea sedang hamil tentu mereka senang mendapat kabar bahagia, kabar yang dinanti-nanti mereka akhirnya terkabul, tapi kabar bahagia itu tidak berlangsung lama, hanya beberapa hari saja, setelah itu mereka di timpa kabar yang sangat tidak mereka inginkan, bahkan membayangkan saja mereka tidak mau.

Hardi menghampiri anaknya yang terus menatap adel yang tidak berdaya. "Makan dulu yuk, kamu belum makan dari kemarin nanti kesehatan kamu memburuk" ajak hardi khawatir.

Bagaimana tidak khawatir, semenjak kemarin adel di vonis koma yang entah berapa hari sadar, kevin enggan mau makan, bahkan menyentuhnya saja tidak. Sedangkan david di bersama mbok iyem di rumah, ia tidak mau anaknya khawatir dengan kondisi mamahnya.

Kevin menggeleng lemah. "Papah aja, kevin mau jaga adel, dia butuh di jaga 24 jam kevin tidak mau membuat kesalahan yang sangat besar" lirih kevin, matanya terus menatap adel yang sedang di periksa beberapa dokter kepercayaan, dan dokter spesialis.

Hardi menghela nafas berat, Ia kembali duduk di samping istrinya menangis, sambil berpelukan dengan wina. "Sudah jangan menangis, kita berdoa saja semoga adel kuat dan bertahan demi kita" ucap hardi.

Dylan menatap adel ia berusaha tidak menunjukkan kesedihan. "Sadar dong, enggak bosen tidur terus udah dua hari kamu enggak bangun-bangun, enggak kangen david, dan bayi kamu yang lahir, dia sangat cantik mirip seperti kamu, mamahnya, bedanya kamu pesek, sedangkan bayi kamu hidungnya mancung seperti papahnya. Ah, seperti aku aja deh, sayang, dulu kamu suka banget pencet-pencet hidung aku sampai aku kesal sendiri, haha lucu banget kamu dulu" kekeh dylan ia terus menatap adel.

"Dokter pasien kejang-kejang" kata suster.

Dylan yang sedang mengobrol tentang kesehatan adel pada dokter lain ia menoleh, matanya membulat sempurna. "Del, hey, jangan kaya gini, aku enggak suka jangan buat aku panik gini" panik dylan.

Dokter langsung adel kembali, setiap hari adel kejang-kejang sampai-sampai dokter kewalahan. "Kenapa kondisi pasien semakin memburuk" lirih mereka.

"Jaga ucapan dokter" marah dylan menatap tajam dokter lain.

Dokter yang lebih tua dari dylan menatap dylan. "Lebih baik kamu panggil keluarga pasien, semoga dengan hadirnya mereka pasien jadi membaik, saya khawatir melihat kondisi pasien yang memburuk" saran dokter.

Dylan hanya diam air matanya mengalir deras membasahi pipinya, suster langsung memanggil keluarga pasien ia tidak tega melihat dylan yang terpuruk seperti ini.

"Keluarga pasien boleh masuk, tapi jangan berisik" kata dokter membuka pintu lebar-lebar.

Kevin yang memang sedari tadi ingin masuk ia langsung masuk lebih dulu dari mereka, tubuhnya mematung melihat kondisi adel yang jauh lebih buruk dari yang ia lihat dari luar ruangan. Ia menyentuh pipi adel mengelus pipi adel lembut, dua hari sudah ia tidak menyentuh dan menatap wajah cantik adel, tidak ada lagi orang yang membuat ia kesal.

"Bertahan saya mohon, demi orang yang kamu cintai, termasuk dylan" bisik kevin tepat di telinga Adel.

Kevin dan alea berdiri di samping ranjang adel, mereka menangis terisak-isak melihat kondisi adik mereka yang sangat buruk, alek mengelus tangan adel yang tidak diinfus, ia mencium tangan adel lama.

"Dek, kamu enggak kangen abang, apa?, Kamu bilang kalau kamu sudah lahiran abang harus setiap hari jenguk kamu, jagain kamu dan anak-anak kamu dan masih banyak lagi, kamu juga nunggu kak alea hamil kan?, Sekarang dia hamil, lho, katanya kamu mau punya ponakan dari abang dan alea, sekarang kamu  punya, abang kangen banget sama kamu, dek, biasanya kalau ada kamu pasti rusuh sendiri, mau inilah, mau itulah, semua kamu mau, cepat sadar adik abang tersayang" alek mundur ia tidak kuat melihat adel lemah seperti ini.

Giliran alea yang menyentuh tangan adel, ia menggenggam tangan adel, mengarahkannya ke perutnya. "Disini calon ponakan kamu, dia mau lihat aunty, lho, adel adik kakak yang sangat kakak sayangi, walaupun kamu sering banget buat kakak cemburu gara-gara mas alek lebih menyayangi kamu, lebih perhatian sama kamu ketimbang kakak istrinya sendiri. Tapi kakak benar-benar sayang kamu, adel Chyntia sari, cewek bar-bar dengan tingkat abstrak nya, cepat bangun" kata alea, ia mundur bergantian dengan mertuanya.

Wina mencium wajah adel ia mengusap pipi adel. "Sayang, mamah rindu kamu, nak, cepat bangun, kamu enggak mau lihat mamah khawatir, kan?, Sekarang mamah minta kamu bangun, mamah mohon, hiks" isak Wina ia tidak kuat lagi untuk bicara ia keluar ruangan menangis sejadi-jadinya.

Sandi mengelus dan mencium adel. "Papah mohon kamu sadar sayang, kamu enggak mau lihat anak kamu, yang cantik seperti mamahnya, dia masih butuh kamu, papah mohon" lirih sandi ia keluar menyusul istrinya ia takut istrinya berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya.

****

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang