Dylan menatap wajah adel lekat, sudah dua Minggu ia tidak bertemu adel, karena sibuk dengan kuliahnya, ditambah tugas yang setiap hari bertambah sampai-sampai ia tidak sempat untuk istirahat.
Saat ini mereka sedang kumpul di rooftop markas, tempat mereka kumpul menghabiskan waktu bersama sebelum semuanya berubah, dan mereka berjanji mulai sekarang mereka akan sering-sering kumpul ditempat ini, rumah kedua mereka.
Rio yang paham dylan dan Adel membutuhkan waktu berdua, ia mengajak teman-temannya keluar, sambil membawa gitar. Untungnya merekapun paham dan menuruti rio keluar markas.
Adel menyenderkan kepalanya di pundak dylan, entah kenapa ia ingin menangis, selama dua Minggu dylan sibuk sampai tidak sempat mengabarinya. Minggu lalu adel dan kevin berkunjung ke rumah mamah vina dan ternyata dylan tidak ada di rumah. Dylan memang tidak ingin diganggu jadi ia menginap di apartemennya. Selain dekat dengan kampus, dyaln juga merasa aman tidak ada orang yang menganggu fokusnya untuk belajar, dan mengerjakan tugas.
Dylan merasakan pundaknya basa ia tau adel menangis, ditambah adel sedang hamil, sudah pasti gampang nangis. "Jangan nangis, bumil" ucap dylan menarik adel ke dekapannya.
"Hiks, gimana aku e-enggak nangis coba, k-kamu enggak ada kabar" isak adel memukul pelan dada bidang dylan.
Dylan terkekeh kecil "tapi sekarang kamu udah ketemu aku, kan?, Jadi enggak boleh nangis lagi" dylan mencium dahi adel "aku tau jadi kamu sangat berat, kamu menikah sama abang aku, dan kamu dipaksa jadi pacar kiki" lirih dylan sesak.
"Aku anggap kak kiki cuman sekedar kakak kelas, walaupun dia Ngotot paksa aku, tetap aku enggak mau, lagian aku juga enggak punya ponsel jadi enggak bisa chetan sama dia, paling ketemu di kampus, itupun aku selalu menghindar" jelas adel panjang lebar ia tidak mau dylan berpikir yang tidak-tidak.
Dylan mengangguk "gimana calon ponakan aku?, Baik-baik kan?" Tanya dylan mengalihkan pembicaraan.
Adel menarik tangan dylan ia tempelkan diperut buncitnya "baik om papah" jawab adel menirukan suara bayi.
Dylan terkekeh geli "ko om papah sih?" Tanya dylan heran. Adel melepaskan pelukannya menatap dylan lekat "kamu enggak suka di panggil papah sama anak aku?" Cemberut adel.
Dylan menggeleng cepat "nanti kalau bang kevin tau dia bisa marah, soalnya ada sebutan papah--"
"Urusan dia biar aku aja, si egois Emang" jadi kesal sendiri.
Dyaln yang melihat wajah kesal adel ia mengangguk saja "makin cantik, bumil satu ini" puji dylan mengelus pipi adel yang sedikit chubby.
Adel tersenyum malu-malu ia kembali memeluk dylan "aku salting, ayang" rengek adel malu-malu.
Dylan terkekeh gemas "salting bilang-bilang, lucu deh" gemas dylan mencium seluruh wajah adel membuat adel terkekeh geli.
Adel mencium bibir dylan "sayang banyak-banyak sama kamu" ucap adel.
"Aku juga banyak-banyak" jawab dylan.
Mega datang menatap mereka berdua "suami lo nelpon gue, dia nyariin lo, mendingan lo pulang sekarang sebelum suami lo ngamuk" beritahu mega menatap adel.
Adel kesal "dia bilang mau pulang sore, malah pulang masih pagi gini" dumel adel.
"Pagi darimana, ini jam 11 siang woi" sentak mega.
"Heheh sama aja" kekeh adel.
Dylan menatap Adel "aku pesan taksi, kalau aku yang antar nanti kamu bisa ribut" khawatir dylan.
***
Adel mendengus sebal melihat tingkah suaminya yang sangat tidak senonoh. "Diam!, Kak" kesal adel mendorong tubuh kevin.
Kevin mendengus kesal "saya kembalikan ponsel kamu asalkan kamu mau puasin saya" ucap kevin tiba-tiba.
Adel melotot syok ia memukul kevin menggunakan guling "MESUM! AKU ENGGAK MAU. ENAK AJA" teriak adel.
Kevin menahan tangan adel "daripada kamu selamanya enggak punya ponsel, kuliah kamu bakal susah" ucap kevin tersenyum miring.
Adel melipat kedua tangannya menatap garang kevin "enggak papa, daripada aku harus bercinta dengan kakak" ucap adel sinis.
"Ck! Kamu enggak kasihan sama saya?" Rengek kevin.
"Enggak " jawab adel santai.
Kevin menatap Adel memelas "janji enggak lebih" ucap kevin langsung mendorong pelan Adel ke sofa menyenderkan adel ke sandaran sofa, kevin langsung membuka kancing baju adel, melepaskan bra adel cepat.
"L-lepas, jangan mesum kak" teriak adel berusaha mendorong tubuh kevin.
Kevin tidak menjawab ia terus mengisap dada adel rakus. "Sebentar aja, saya mohon" lirih kevin. Kurang lebih satu jam kevin menyudahi ia menatap adel yang menatapnya sebal.
"Minggir" usir adel ia buru-buru mengancingi bajunya sebelum singa buas melahapnya lagi "mesum banget heran" dengus adel.
Kevin terkekeh kecil "maaf. Imbalannya saya kasih Handphone kamu" kevin mengambil ponsel adel menyodorkan kehadapan Adel yang langsung adel terima. "Jangan gunakan untuk hal yang tidak penting, setiap satu jam sekali saya bakal telepon kamu" posesif kevin.
Adel memutar bola matanya males "serah, yang penting ponsel aku kembali" bahagia adel.
Kevin kembali menarik ponsel Adel ia tidak suka adel bermain ponsel jika bersamanya "saya enggak suka kamu main Handphone, kalau lagi sama saya" ucap kevin.
Adel menatap malas kevin, ia pasrah daripada Kevin berubah pikiran lagi bisa hancur. "Dylan sayang, rindu" rengek adel dalam hati.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
satu hati 2 pria [TAMAT]
Teen FictionBagaimana rasanya jika kalian menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat kalian cintai, tapi takdir berkata lain, Adel Chyntia Sari, biasa disebut Adel Yang masih berumur 21 tahun, Harus menikah dengan kakak dari kekasihnya sendiri. Kevin April...
![satu hati 2 pria [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/342264170-64-k606034.jpg)