92. baby twins

184 6 1
                                        

Setelah pulang USG melihat calon anaknya yang ternyata kembar, tentu kevin senang ia akan mempunyai anak tiga, adel ikut bahagia melihat kevin bahagia dan senang antusias menunggu anaknya lahir ke dunia.

Setelah pulang USG adel ingin menginap di rumah mamah wina untuk satu malas, kevin tidak keberatan asalkan dirinya ikut kemanapun adel pergi, david tidur di kursi belakang setelah merengek minta mainan baru.

Kevin memarkirkan mobilnya di bagasi mobil rumah mertuanya, ia turun membukakan pintu untuk istri yang sudah kesusahan berjalan, karena kandungan adel sekarang sudah memasuki bulan ke delapan, yang artinya sebentar lagi adel melahirkannya.

Kevin membopong tubuh anaknya yang masih tidur pulas, baru menginjak keramik teras rumah mamahnya yang langsung disambut suara alea dan alek yang sedang bertengkar.

Kevin dan adel saling berpandangan, tidak lama papah sandi dan mamah winda muncul dari arah taman belakang rumahnya, menatap adel dan kevin kaget.

"Adel, kevin, kalian ngapain kesini?, Ko enggak bilang-bilang mamah sih" tanya wina sambil memeluk adel.

Adel tersenyum tipis ia mencium kedua pipi wina. "Adel pengen nginep, jadi adel kesini, oh, ya, kenapa abang sama kak alea bertengkar gitu?" tanya adel pemasaran.

Sandi mengelus rambut adel. "Kita ke taman dulu, nanti papah ceritakan" ucap sandi menuntun anaknya ke taman diikuti wina, dan kevin.

Kevin menidurkan david ke sofa yang berada di taman, ia duduk di samping adel. "Kevin dengar bang alek bilang anak-anak gitu?, Emangnya kak alea lagi hamil?" Tanya kevin, yang samar-samar mendengar alek dan alea menyebut anak.

Sandi mengangguk ia menatap lurus depan. "Sudah satu Minggu mereka bertengkar seperti tadi, papah sama mamah bingung mau pisahkan mereka kaya gimana lagi, alek ingin punya anak, ia ingin merasakan mengurus anak seperti kalian, tapi alea tidak juga hamil dan tadi mereka periksa ke dokter, dan alea di vonis tidak bisa memiliki anak, bisa, tapi itu kemungkinan sangat kecil, alek minta cerai dari alea karena ia tidak ingin hidup hanya berdua tidak ada anak yang mengisi rumah tangga mereka berdua" jelas sandi panjang lebar.

Kevin dan adel syok mendengar penjelasan papah sandi, adel tidak menyangka kalau abangnya akan bersikap seperti itu. "Terus respon kak alea gimana? Dia mau cerai sama abang?" Tanya adel.

Sandi mengangguk. "Iya, dia mau, tapi jujur papah tidak ingin kehilangan menantu seperti alea yang sangat nurut dan pengertian, tapi mau gimana lagi mereka sudah mengambil keputusan yang menurut mereka benar" sedih sandi.

"AKU JUGA INGIN PUNYA ANAK MAS, TAPI AKU TIDAK TAHU CARANYA, SETIAP HARI AKU BERDOA SAMA TUHAN SUPAYA AKU DI KASIH ANAK, TAPI TUHAN BELUM MENJAWAB DOA AKU"

samar-samar adel mendengar suara alea yang marah, ia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya, mengelus perut besarnya. "Tadi adel abis usg, dan syukurnya adel hamil kembar, gimana kalau anak yang adel kandung, adel kasih ke bang alek dan kak alea, biar mereka merasakan yang mereka ingin, biar kak alea dan bang Alek tidak cerai" kata adel menatap mamah, papah, dan kevin yang sangat syok berat.

Kevin menggeleng tegas. "Enggak! Saya enggak setuju, enak aja kamu main masih-masing, dikira anak ayam apa, pokonya saya tidak setuju apapun alasannya, anak saya tetap anak saya, dia akan tinggal bersama daya, titik." Bantah kevin.

Sandi dan wina mengangguk kecil. "Benar apa yang dikatakan suami kamu, del, kamu tidak boleh menyerahkan bayi kamu begitu saja, papah sama mamah tidak setuju" ucap sandi menggeleng keras

"Lagian alek dan alea tidak setega itu mengambil bayi kamu, adik mereka, hanya karena mereka ingin punya anak" tambah wina.

"Mah, pah, kak kevin, abang sama kak alea baik banget sama aku, mereka udah jaga aku dari aku masih sekolah, mereka rawat aku baik, mereka rawat aku seperti anak sendiri, mereka jagain aku pas kalian sibuk kerja, kak alek selalu dukung aku dalam hal kebaikan, dia ser---"

"APAPUN ITU ALASANNYA, SAYA TIDAK MAU, KAMU PIKIR BALAS BUDI SEPERTI ITU?, TIDAK, KITA BISA CARI SOLUSI SAMA-SAMA" marah kevin.

Adel menggenggam tangan kevin. "Kak, aku hamil kembar, kita juga punya david, tadi dokter bilang ,kan, kalau aku hamil anak cewek-cowok?, Nah kak kevin ingin punya anak cewek, kita kasih yang co---"

"Enggak adel!, Saya menginginkan anak yang banyak dari kamu, mau anak yang kamu kandung itu cowok semua, atau cewek semua sekalipun saya tetap rawat dia, karena dia darah daging saya" potong kevin marah.

***

Adel menatap alek dan alea yang sama-sama diam, ia jadi sedih melihat dua orang yang dulunya selalu harmonis tanpa perdebatan seperti tadi sore, sekarang mereka jadi saling diam, seperti orang yang tidak saling mengenal.

"Bang alek, kak alea, kalian enggak mau kasih aku selamat karena aku hamil kembar?" Tanya adel pura-pura sedih.

Alek dan alea menatap adel, mereka tersenyum tipis. "Selamat" ucap mereka serampak, mereka saling berpandangan, tidak lama mereka saling buang muka.

Adel tersenyum tipis. "Kalian jangan marahan dong, adel tidak suka lihat kalian seperti ini, adel lebih suka kalian seperti dulu, gini aja kalau aku udah lahiran kalian boleh anggap anak aku seperti anak sendiri, asalkan kalian harus seperti dulu lagi, gimana?" Kata adel.

Alek menggeleng. "Dari dulu abang udah anggap david seperti anak abang sendiri, del, bahkan kamu saja udah abang anggap anak abang sendiri, Abang cuman ingin merasakan punya anak dari darah daging Abang sendiri, Abang mau merasakan mengurus bayi" jelas alek, melirik alea.

"Mas, aku juga ingin punya anak, aku harus gimana lagi jelasinnya supaya mas paham, mas ngerti" kesal alea ia meneteskan air matanya.

Adel menatap kevin yang langsung memalingkan wajahnya. "Kak---"

"Enggak adel, aku tetap enggak setuju" ucap Kevin memotong ucapan adel.

David memeluk alek. "Om jangan marah-marah, bagaimana kalau setiap minggu david menginap di sini, om sam aunty boleh anggap david seperti bayi, om boleh kasih susu ke david, boleh semuanya deh, asalkan om sama aunty tidak marah-marah lagi" ucap david.

Alek tersenyum tipis. "Boleh, kalau gitu david jadi bayi, haha" tawa alek, menutupi kesedihannya.

Adel tersenyum tipis. "Nanti kalian sering-sering jenguk aku pas aku lahiran, pok----"

"Huek huek"

Adel, kevin, wina, sandi, dan alek menoleh kaget menatap alea yang menutup hidungnya. "Kak kenapa?" Tanya adel khawatir.

Alea tidak menjawab ia berlari masuk kamar mandi, ia memuntahkan makanan yang tadi ia makan, semua orang menghampiri alea cemas.

"Kayanya hamil" cicit kevin.

Adel menoleh ia tersenyum bahagia. "Sepertinya begitu, aku enggak sabar lihat anak kak alek, pasti cantik dan ganteng" puji adel.

***

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang