Dylan menatap wajah pucat adel yang syukurnya adel kondisinya semakin membaik, satu bulan lebih adel memejamkan matanya, satu bulan lebih mereka terus dibuat khusus dengan kondisi adel yang naik turun.
Satu bulan lebih Kevin tidak pulang ke rumah, bahkan ia tidak mengurus kantornya, ia membiarkan kantornya begitu saja untungnya ia memiliki papah yang baik dan pengertian, hardi menyuruh tangan kanannya kepercayaannya untuk mengurus kantor kevin untuk sementara.
Kevin terus menggenggam tangan adel menciumnya berkali-kali, air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya, rasanya seperti mimpi buruk yang tidak kunjung sadar.
Ia bersumpah pada dirinya setelah adel sadar nanti, ia tidak memperbolehkan adel untuk hamil lagi, hanya tuhan yang tahu, tapi sebisa mungkin ia tidak membuat Adel hamil.
Dylan menatap abangnya, wajah kevin tidak kalah pucat, badannya kurus, rambutnya panjang, dan ada sedikit kumis, bukan Kevin Aprilio banget. "Bang, mending abang tidur dulu biar aku yang jagain adel, mata abang udah kaya mata panda" ucap dylan tidak tega melihat abangnya yang kelelahan.
Kevin menggeleng pelan. "Gue mau jaga istri gue, lo aja yang istirahat, lo juga kelelahan jagain adel" suruh adel.
BRAK.
kevin dan dylan menoleh kaget menatap seseorang yang mendorong paksa pintu ruangan adel, kevin dan dylan menatap tajam kiki yang masuk tanpa izin.
"Mau apa lo?" Tanya dylan dingin.
Kiki tidak menjawab ia menatap wajah pucat adel. "D-dia belum s-sadar?" Tanya kiki terbata-bata.
"Memangnya mau apa?, Kamu bisa bantu apa kalau adel belum sadar?" Tanya kevin sinis.
Kiki tersenyum mengejek menatap dua pria yang menatapnya. "Gue bisa bantu adel bangun, tapi----tangan adel gerak" ucap kiki menatap jari jemari adel bergerak.
Dylan dan kevin langsung menatap adel, dan benar saja jari adel bergerak, dylan langsung memeriksa adel ia takut adel kejang-kejang seperti bulan lalu. "Del, ini aku, dylan, aku disini, buka mata kamu" bisik dylan.
Kevin mengelus dahi adel yang berkeringat, air mata adel menetes seperti hari-hari biasanya. "Sayang bangun, aku mohon" bisik Kevin tepat di telinga kanan adel.
Kiki hendak menyentuh tangan adel yang langsung kevin tepis kasar, kiki mendengus kesal. "Del, bangun dong, lo enggak mau makan donat buatan----"
Drettt...dret....
Ucapan kiki terpotong saat telponnya bergetar ia langsung keluar ruangan adel, tidak lama ia kembali. "Gue pergi dulu, kalian jagain calon istri gue" ucap Kiki.
Rahang kevin mengeras. "KELUAR LO, JANGAN BERANI-BERANINYA LO KESINI LAGI" marah kevin.
Kiki langsung keluar ruangan adel setelah mengelus pelan tangan adel.
Cklek...
Baru saja kevin hendak marah lagi, karena kiki kembali lagi, tapi tidak jadi saat ia melihat anak kecil yang menatap mereka dengan tatapan sedih, air mata mengalir membasahi kedua pipi anak kecil itu.
"D-david, sayang ngapain kamu ada disini?" Tanya kevin kaget.
David tidak menjawab ia langsung memeluk tubuh adel yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit. "Mamah. Hiks, mamah kenapa sakit seperti ini mamah kenapa tidak bangun-bangun, mamah kenapa tidak membuka mata mamah, dan tidak bergerak seperti dulu, mamah HUAAAAA" tangis david pecah.
Vina yang memang mengantar david ke rumah sakit, ia masuk sambil menggendong cucunya, bayi adel, yang belum mereka kasih nama, atas permintaan Kevin, ia tidak mau memberi nama anaknya tanpa adel.
Kevin menatap mamahnya. "mah, kenapa david bisa tau?, Kevin udha bilang sama mamah jangan kasih tau david" kesal kevin.
"Dia mimpi adel, terus enggak sengaja mamah jawab jujur, jadi ketahuan deh" sesal vina.
Davi memeluk adel, ia menangis di telinga adel. "Mamah jahat sama david, mamah tidak mau bangun, mamah jahat, mamah mau tinggalkan david lagi, david benci mamah kalau mamah tinggalkan david lagi, hiks, mamah david janji sama mamah kalau mamah sudah sadar, david bakal nurut sama mamah, david bakal sayang sama dedek bayi, MAMAH BANGUN" teriak david.
Dylan mendongak menatap keatas langit-langit. "Jika engkau mengambil adel untuk selamanya, maka aku akan mengikutinya entah dengan cara apapun supaya aku bisa ikut bersama dia selamanya" batin dylan.
Dylan menatap wajah adel, matanya membulat sempurna saat melihat kelopak mata adel bergerak. Ia menggenggam tangan adel. "Bangun, anak kamu ada disini" bisik dylan lirih.
"D-david" cicit adel, matanya masih terpejam.
Semua orang menatap adel, termasuk kedua orangtuanya yang memang ada didalam ruangan tapi mereka tidak berani mendekat, mereka tidak kuat melihat adel terbaring lemah tak berdaya. "adel sadar" ucap mereka kaget, sekaligus bahagia.
Adel membuka matanya secara perlahan, pandangan yang pertama yang ia lihat wajah dylan yang menatapnya dengan tatapan kaget, dan bahagia. Ia menoleh kesamping menatap kevin yang tersenyum lebar dengan air mata yang mengalir, menatap david yang menangis sesenggukan di pelukan hardi.
"M-minum" lirih adel.
Kevin mengangguk ia langsung mengambilkan air minum untuk istrinya. "Sayang, syukur kamu sudah bangun, aku khawatir banget sama kamu, aku takut banget kamu ninggalin aku" ucap kevin cepat.
Adel hanya tersenyum tipis, sangat tipis ia menatap lurus berusaha mengingat apa yang terjadi, ia memegang perutnya yang rata, seketika matanya membulat sempurna. "K-ko perut aku rata?, Mana anak-anak aku?" Panik adel.
Dylan menahan tubuh Adel yang hendak duduk. "Jangan dulu, kamu harus rebahan anak kamu ada" ucap dylan menatap khawatir adel.
Wina memeluk adel ia menangis sejadi-jadinya. "Hiks kenapa kamu hobi banget bikin mamah khawatir, nak, tolong jangan buat mamah khawatir seperti ini lagi" isak wina.
Adel membalas pelukan mamahnya ia mengelus punggung mamahnya. "Jangan nangis, adel udah sadar" ucap adel mencium kedua pipi wina.
Ia menatap mamah mertuanya yang sedang menggendong bayi. "I-itu anak siapa?" Tanya adel menunjuk bayi di gendongan vina.
Vina bergeser agar lebih dekat dengan adel. "Ini anak kamu, nak, dia cantik seperti mamahnya" ucap vina menyarahkan bayi yang ia gendong ke gendongan adel.
Adel menatap bayi mungil itu air matanya mengalir, ia mencium pipi anaknya mengelusnya lembut. "M-maafin mamah" cicit adel memeluk bayi digendongnya. Ia menatap sekeliling yang tersenyum bahagia menatapnya. "Ko cuman satu?, Mana lagi bayi aku?, Bukanya aku melahirkan anak kembar?" Tanya adel panik.
Kevin mengelus rambut adel. "anak kita yang satunya tidak bisa di sel----"
"Ada, dia lagi di rumah, bayi yang sehat tidak boleh ke rumah sakit" sela dylan.
Kevin menatap adiknya mengerutkan keningnya tidak paham, dylan memberi kode pada kevin, yang untungnya Kevin langsung paham.
"I-iya, kalau si cantik ini dia lagi kontrol, kamu jangan pikirkan anak-anak, yang penting kamu sembuh dulu" ucap kevin.
Adel mengangguk pelan "ko perasaan gue enggak enak, ya" batin adel.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
satu hati 2 pria [TAMAT]
Ficção AdolescenteBagaimana rasanya jika kalian menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat kalian cintai, tapi takdir berkata lain, Adel Chyntia Sari, biasa disebut Adel Yang masih berumur 21 tahun, Harus menikah dengan kakak dari kekasihnya sendiri. Kevin April...
![satu hati 2 pria [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/342264170-64-k606034.jpg)