81. kevin ngamuk

254 8 2
                                        

Disebuah ruangan bercat cream dan putih, pria berjas hitam tertidur pulas di sofa empuk yang berada di ruangan, tidak lupa laptop yang menyala di pangkuannya, dan beberapa berkas berserakan di meja dan lantai.

Ia menggeleng-gelengkan kepala, keringat dingin mengucur di dahinya, tidak lupa wajah paniknya terlihat jelas, ia mencengkram erat sofa yang ia duduki, tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdenyut keras, nafasnya memburu.

BRAK.

"ADEL" teriak kevin membuka matanya, nafasnya memburu wajah panik terlihat sangat jelas.

Edi yang memang sedang revisi dokumen yang salah ia terkejut bukan main, sampai-sampai ia melamar dokumen itu saking kagetnya. "Astaghfirullah! Bos kevin ada apa?, bos?" Tanya edi khawatir, melihat wajah panik atasannya.

Kevin menatap edi. "Dimana istri saya?, Dimana dia?" Tanya kevin cepat.

"I-istri?, Ibu adel lagi di kan---"

"ADEL" teriak kevin, kembali membuat edi kaget, bahkan ia ketakutan melihat wajah kevin yang menyeramkan.

"Bos, tenang dulu---- astaghfirullah, bos" kaget edi, melihat atasnya terjatuh tersungkur, menginjak kertas yang berserakan dilantai.

Kevin bangun, ia berlari keluar ruangan, berteriak seperti orang gila, banyak pegawai yang menatap bos mereka heran, bagaimana tidak heran beberapa jam tadi bos nya tersenyum ramah pada mereka, tapi sekarang ia malah berteriak keras memanggil istrinya.

"ADEL, KAMU DIMANA SAYANG, hiksx teriak kevin, air matanya mengalir deras, masa bodo orang-orang menatapnya aneh, ia mengabaikan itu semua, yang ia pikirkan dimana istrinya.

Adel yang mendengar suara teriakan suaminya ia bergegas keluar ruangan. "Astaga! Kak kevin kenapa?" Tanya adel khawatir.

Kevin yang memang membelakangi adel ia membalikkan tubuhnya cepat, ia menghadap adel, masih dengan air mata yang mengalir, bahkan matanya merah, rambut yang berantakan, dasi yang melancong, pakaian yang kusut.

"A-adel" lirih kevin. Ia langsung memeluk tubuh adel erat, air matanya semakin mengalir deras membasahi pundak adel. "Hiks, kenapa kamu mau ninggalin aku lagi?, kenapa kamu mau pergi jauh lagi hiks, aku enggak bisa tanpa kamu, del, aku enggak kuat hiks" isak kevin.

Adel mengerutkan dahinya ia bingung, kenapa kevin mempunyai pemikiran seperti iru, bukankah ia sudah berjanji tidak akan meninggalkannya. "Kamu kenapa sih, kak, aku enggak ninggalin kam---"

"Bohong, tadi kamu mau ninggalin saya, kamu mau samperin temen cowok kamu itu, kamu mau ninggalin aku sama david, kamu mau pergi dari saya, hiks" potong kevin cepat.

Adel berusaha melepaskan pelukan suaminya, yang malah semakin erat. "L-elpas dulu, aku enggak bisa n-nafas, nanti aku bisa m-mati" ucap adel tersengal-sengal.

Kevin yang mendengar itu ia mengendorkan pelukannya, tapi, ia masih memeluk adel, ia takut jika ia melepaskan pelukannya, adel akan kabur darinya. "Jangan tinggalkan aku" lirih kevin.

"Enggak, kak, aku disini sama ka---"

"ENGGAK! KAMU MAU NINGGALIN AKU, KAMU MAU PERGI JAUH DARI AKU, KAMU PEMBOHONG"

Adel jadi bingung ia menatap edi yang memang sedang menatapnya khawatir. "Kamu telpon papah hardi, suruh kesini" ucap adel, yang langsung diangguki edi.

"Jangan tinggalin aku, del, aku mohon, jangan" lirih kevin.

Adel hanya mengangguk ia mengelus punggung kevin yang bergetar. adel bisa merasakan detak jantung kevin yang berdenyut keras seakan hendak copot dari tempatnya. "Dia kenapa sih, kenapa dia jadi kaya gini, aneh banget tiba-tiba teriak-teriak kaya Tarzan, padahal dia sendiri yang suruh gue tunggu di ruangan pribadinya, dan dia sendiri yang cari-cari gue padahal dia tau kalau gue ada di ruangannya, enggak malu apa dilihatin karyawannya" batin adel.

Tidak lama hardi, vina, sela dan dylan datang, dengan wajah panik. "Kevin, kamu kenapa, nak?" Tanya vina khawatir.

Kevin tidak menjawab ia memeluk masih memeluk tubuh adel erat, bukanya melepaskan dan tenang, ia malah semakin bergetar ketakutan. "Jangan pisahkan saya dari adel" teriak kevin.

Adel semakin heran ia berusaha melepaskan pelukannya, capek berdiri terus. "Kak lepas dulu, kita duduk dul---"

"AKU ENGGAK MAU, NANTI KAMU NINGGALIN AKU LAGI, AKU ENGGAK MAU ITU KEMBALI LAGI, AKU ENGGAK BISA TANPA KAMU, AKU TERLALU LEMAH SOAL KAMU"

Hardi menatap istrinya, ia paham. Ia memegang tangan kevin. "Dengerin papah, adel enggak akan pergi lagi, kamu lepaskan dulu pelukan kamu, kasihan istri kamu dia pasti cap---"

"DIAM! ATAU DAYA BUNUH KALIAN, BERANI SEKALI KALIAN MAU MEMISAHKAN SAYA DARI ISTRI SAYA" bentak kevin marah menatap papahnya.

Adel terkejut bukan main, sedangkan hardi biasa saja, baginya ini sudah biasa lima tahun lamanya kevin seperti ini. "J-jangan bicara kaya gitu, dia papah kamu kak" takut adel.

Kevin memperat pelukannya. "Siapapun yang mau memisahkan aku dari kamu, sekalipun itu keluarga aku sendiri, aku tidak akan segan-segan membunuh mereka dengan tangan aku sendiri, itu janji aku" lirih kevin.

Adel melepaskan dasi Kevin. "Tangan kamu satu sink" pinta adel.

Kevin menggeleng. "Enggak! Kamu mau kabur dari aku kalau aku lepaskan pelukannya" marah kevin.

Adel menggeleng. "Enggak!. Sini dulu kalau enggak aku beneran ninggalin kamu" ancam adel. Kevin menurut tangan kanannya ia lepaskan dari punggung adel, tangan kirinya ia semakin mempererat pelukannya.

Adel menatap dylan yang menatapnya khawatir. "T-tolong iketin tangan aku sama tangan kak kevin" pinta adel.

Dylan yang masih tidak paham ia menurut saja, imia memegang tangan adel, selama lima tahun ia tidak memegang tangan lembut adel, sekarang ia bisa merasakan lembutnya tangan adel, begitupun adel ia merasakan ada yang menguatkannya, menggeleng, tidak, ia tidak boleh berpikiran seperti itu.

Kedua orangtuanya mengerutkan dahinya mereka tidak paham maksud adel, tapi ia lebih memilih diam.
"Kak lepas, tangan kita udha di ikat jadi satu, aku enggak bisa kabur lagi, kalaupun aku kabur pasti kamu ikut" ucap adel selembut mungkin.

Kevin melirik tangannya yang diikat, ia mengangguk pelan, perlahan ia melepaskan pelukannya, ia menatap adel. "Benar enggak akan kabur?" Tanya Kevin kurang yakin.

Adel menggeleng. "Enggak, kan, tangan kita udah di ikat" jawab adel

Hardi menatap kevin. "Pasti kamu enggak minum obat, makanya kamu ngamuk kaya gini" ucap hadi yakin.

Vina menatap adel. "Kenapa bisa kevin enggak minum obatnya?" Tanya vina menatap menantunya.

Adel menatap mertuanya. "A-adel udah siapin obatnya, mah" jawab adel jujur. Sebelum mereka berangkat mengantarkan sekolah david, adel lebih dulu menyiapkan obat untuk kevin.

"Terus?" Tanya vina menatap kesal adel.

Dylan yang melihat mamahnya kesal ia merangkul pundak mamahnya. "Mamah tau sendiri, kalau bang kevin dari dulu selalu nolak minum obat" ucap dylan.

Sela yang sedari tadi diam ia menatap abangnya. "Jawab jujur bang, nanti mamah sama papah marah sama kak adel" ucap sela.

Kevin menatap mamahnya yang menatap istrinya tajam. "Adel sudah menyiapkan obatnya, tapi, kevin buang obat itu, karena, kevin sudah yakin kalau kevin tidak butuh obat itu, kevin hanya butuh adel" cicit kevin.

"Udah tau mau stres masih nolak minum obat" cicit Dylan yang masih terdengar kevin.

"Lo juga sama, sialan!" Marah kevin.

"Astaga! David belum di jemput" panik adel, ia sampai melupakan anaknya, harusnya david sudah pulang setengah jam lalu.

****

satu hati 2 pria [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang