18. Enjoy The Weekend

2.1K 223 93
                                        

Serial The JAHat Stories. - 18. Enjoy The Weekend

Penulis : Uniessy

Dipublikasikan : 2017, 31 Desember

-::-

Suasana kafe milik keluarga Hamzah sudah ramai di malam jelang jam delapan kali ini.

Khansa melambaikan tangan pada Umar, Uthi, Nafisa, Bilal, Uwais, Humaira, Hafiza, Hanifa, Hamzah, dan Alif. Khalid yang mengekor di belakang Khansa, ikut mengangkat tangan begitu melihat sahabat-sahabatnya berkumpul.

Ini Sabtu malam, besok Ahad. Biasanya Shalih Squad Jr punya kegiatan futsal, tapi hari ini libur karena tempat futsal yang biasa mereka sewa, sedang dalam masa perbaikan.

"Wah udah komplit aja neh..."

Khalid menyapa cowok-cowok dengan berjabat tangan. Sementara Khansa langsung duduk di sebelah Humaira begitu Uwais bangkit dari duduknya, mengambil satu kursi lagi. Khansa kemudian merapikan hijabnya ketika Uwais bilang bahwa hijabnya miring. Sedangkan Bilal yang tadinya di sebelah Uwais, otomatis menjadi di sebelah Khansa.

Entah dia harus bersyukur atau merutuk dalam hal ini.

"Pada Isyaan di Masjid deket sini nih tadi," kata Hamzah. "Lo tumben jam segini baru sampe?"

"Dapet izin Mama jam segini, Bang," sahut Khalid, nyengir. Ditariknya satu kursi, lalu duduk di antara Bilal dan Khansa. "Geseran, Bil," ucap Khalid sebelum bertanya pad Hamzah lagi. "Jafar mana?"

Bilal menggeser kursinya setelah meminta Nafisa juga agak geseran. And again, entah dia harus bersyukur atau merutuk dalam hal ini.

"Dapur," jawab Umar. "Lo mau minum apaan, Lid? Sekalian gue mau pesen. Gue sama Uthi juga baru dateng. Paling lima menit."

"Jus mangga aja gue mah," Khalid duduk dekat adiknya. "Ngga pake es. Khansa juga."

"Aku mau choco mint, A..." rajuk Khansa.

"Ngga. Tadi Mama bilang ngga boleh minum es," kilah Khalid.

"Ssst, udah jangan berantem."

Umar menengahi. Dia lalu berdiri, hendak menghampiri Tedjo dan Zaid yang sedang bertugas. Zaid biasanya ikutan membantu. Katanya freelance atau part time. Lumayan, buat jajan...

"Gue ikut, bor," kata Uwais, serta merta menyejajari langkah Umar.

"Eh, lo pada ke sini mau lihat gue stand-up nih beneran?" tanya Alif, membuka obrolan. Sebentar lagi jam delapan. Dia harus open mic di tempat yang disediakan.

"Iya dong," kata Humaira, mengaduk gelas di genggamannya. Alif nyengir.

"Ya kebetulan aja, Bang, lagi ngga ada kegiatan," kata Bilal. Ngeselin. Padahal dia juga sering ke kafe waktu-waktu begini. Bilal ngga terlalu suka futsal.

"Wah, Puang Bilal JAHat banget," komentar Uthi.

Alif ngekeh, "Sabi ae lu, Bil. Gue denger lo juga mau nyoba stand-up!?"

"Kata siapa?" sergah Bilal.

"Kata gue," jawab Hamzah.

"Kapan, Bang? Jangan fitnah lah."

Bilal mulai sebal.

"Seriusan, Mas Bil? That must be awesome! Nanti aku rekam, aku upload di sosmed aku. Pasti banyak viewer..." ucap Nafisa, senang.

"Ngga. Ngga. Ngarang nih," tukas Bilal.

"Bener juga ngga ngapa, boi. Namanya ngejajal," kata Khalid. "Ini kalau ada Ali, pasti Ali mau jugak."

The JAHat StoriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang